JENDELA DUNIA MENUJU SUKSES

Setiap orang tua menginginkan anaknya berprestasi di sekolah, berkompoten, bahkan menjadi orang suskes di kemudian hari. Tentu hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan dan pengorbanan baik tenaga, waktu bahkan uang. Benjamin Franklin menyatakan, “Suatu hari bernilai sama dengan dua hari esok; akan menjadi apa saya nantinya sekarang mulai terjadi”.

Kesuksesan seseorang ditentukan dari apa yang dia kerjakan saat ini, jika waktu yang ada hanya terbuang percuma maka bersiap-siaplah untuk menerima kemalangan pada hari depan.

Banyak cara yang ditempuh orang tua untuk menjadikan anaknya sukses di hari depan, misalnya menyekolahkan anak di sekolah yang mahal, membawa anak mengikuti les privat yang mahal pula. Namun tanpa orang tua sadari hal penting untuk menjadikan anaknya pribadi yang sukses ialah kedekatan orang tua sejak anak berusia dini. Orang tua harus meluangkan waktu bersama anak, berbagi cerita, bercanda dan membaca bersama adalah kunci sukses yang belum terpikirkan oleh para orang tua.

“Pada Mei 2018 Kementerian dan Kebudayaan di bawah koordinasi Direktorat Pembinaan Keluarga menginisiasikan Gerakan Nasional Orang Tua Mambacakan Buku (Gernas Baku) yang bertujuan untuk membiasakan orang tua membacakan buku pada anak, mempererat hubungan sosial-emosi antara anak dan orang tua, serta menumbuhkan minat baca anak sejak dini”. (Majalah Sahabat Keluarga, Maret 2018).

Baca Juga:  Perdalam Wawasan Sosial Budaya Para Ibu,TP-PKK Desa Lolanan Gelar Kegiatan Ini..

Keinginan orang tua terhadap anaknya sejalan dengan perkembangan zaman, dimana menuntut setiap individu harus mampu bersaing secara global. Individu yang dapat bersaing pada tingkat internasional ialah orang-orang yang memiliki wawasan luas, mampu berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan berkarakter. Semuanya itu dapat diperoleh dengan membiasakan diri sejak dini untuk banyak membaca. Tugas pokok orang tua tidak hanya mengurus dan membesarkan anaknya melainkan mengajak putra-putri tercinta untuk mengenal serta memiliki minat baca yang tinggi.

Dalam Sambutan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Ir. Harris Iskandar menyatakan “Worl Economic Forum pada 2015 lalu menyepakati enam literasi dasar yang harus dikuasi oleh peserta didik bahkan orang tua, yaitu: Literasi baca-tulis, litersi numerasi, literasi finansial, literasi digital, literasi sains, dan literasi budaya dan kewargaan”. Dari keenam literasi dasar tersebut yang paling fundamental adalah literasi baca-tulis. Literasi baca-tulis bukan hanya sekedar mencegah buta huruf melainkan merangsang seseorang agar mampu berpikir kritis, kreatif, menganalisa persoalan dan menemukan jalan keluar.

Buku Bukan Gadget
Pada umumnya orang tua lebih mengidolakan gadget sebagai sumber bacaan anak di rumah dibandingkan buku. Tidak ada yang salah dengan gadget, banyak hal yang ditemui melalui gadget apalagi kalau membuka situs internet edukasi dan hal-hal positif lainnya. Namun jika anak sering berhadapan dengan gadget maka akan lebih banyak dampak buruknya, seperti kondisi mental dan kesehatan anak akan terganggu. Saya pernah membaca satu majalah pendidikan (Majalah Sahabat Keluarga, Maret 2018) yang di dalamnya menceritakan kehidupan salah satu tokoh inspiratif yang biasa disapa dengan B.J Habibi. Sejak berusia kurang-lebih 4 tahun beliau sudah bisa membaca dengan baik, itu karena dibiasakan oleh ayahnya membaca buku sejak dini, bahkan kita tahu kalau pada saat ini beliau terkenal dengan kejeniusannya yang mampu menciptakan pesawat terbang. Berbanding terbalik dengan anak yang terlalu lama berhadapan dengan gadget.

Baca Juga:  Sesi ke 2, Hari kedua Andika dan Sri Capai Passing Grade

Menurut penelitian di Amerika Duke University oleh Madeleine George menyatakan, “Orang yang menggunakan gadget terlalu lama akan mengalami gangguan jiwa dan mental.” (Intisari-grid-id.cadn.ampproject.org diakses 24 Agustus 2019).
Kebiasaan mengutamakan gadget akan berdampak negatif dalam jangka waktu yang panjang, anak akan suka sekali dengan hal instan ketika ia menjadi seorang mahasiswa dan mendapat tugas dari kampus maka anak dengan mudahnya memindahkan mentah-mentah bahan yang ada di internet tanpa membaca dan memahinya terlebih dahulu.

Apakah ini pantas disebut sebagai individu yang kritis dan mampu bersaing secara global? Buku adalah jendela dunia pepatah lama yang saya kira masih sangat cocok sampai pada detik ini. B.J. Habibi menjadi sukses karena beliau suka membaca buku bukan gadget walaupun pada zamannya belum ada gadget, tapi sudah ada komputer bisa saja ayahnya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Habibi melalui komputer, misalnya “Nanti ayah perlihatkan lewat komputer ya nak”. Kebijaksaan orang tua sangat dibutuhkan dalam menentukan masa depan anak, sebab orang tua yang paling tahu apa yang terbaik buat anaknya di masa depan. Sebagian besar waktu anak berada di rumah, ini adalah kesempatan emas bagi orang tua untuk menanamkan kepada anak kebiasaan-kebiasaan positif seperti membaca buku.

Baca Juga:  145 Siswa Siswi Se-Minut Ikut Seleksi Calon Paskibraka

Ilmu pengetahuanpun bisa maju dan berkembang karena manusia telah banyak membaca. Budaya literasi sejak dini sangat perlu diterapkan selain orang tua, ini juga merupakan tugas dari guru dan masyarakat. Soeharto menyatakan, “Buku adalah bagian terpenting bagi mereka yang belajar membaca untuk membangun pengetahuan dan keterampilan serta bagi seorang anak, buku lebih dari sekedar bacaan, tetapi merupakan impian, pengetahuan untuk masa depan skaligus masa silam.” Kiranya orang tua lebih bijak menentukan jalan menuju sukses bagi putra-putri tercinta agar dapat bersaing secara global dan berkarakter mulia.

PENULIS : Inggryani R.V Ulaen, S.Pd, M.Pd

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *