114 Negara Sudah Terjangkit, WHO Nyatakan COVID-19 Pandemi Global

JAKARTA,Manadonews.co.id-.Akhirnya Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengambil keputusan besar dengan menyatakan COVID-19 sebagai pandemi. Pandemi berbeda dengan epidemi. Epidemi adalah kondisi yang mirip dengan wabah. Keadaan dikatakan epidemi jika suatu kelompok masyarakat atau wilayah terkena penyakit menular dan kejadiannya terjadi secara cepat. Sedangkan pandemi adalah wabah penyakit yang terjadi secara luas di seluruh dunia. Dengan kata lain, penyakit ini sudah menjadi masalah bersama warga dunia.

Dengan pernyataan ini artinya Perang Dunia melawan Covid-19 secara resmi dimulai dan semua negara harus bahu-membahu menghentikan penyebaran virus corona. Sejak hari ini sudah tidak mungkin lagi menyebut COVID-19 sebagai penyakit flu yang buruk. Ini lebih dari flu buruk, ini musibah besar dan setiap orang bisa terinfeksi. Bahkan Kanselir Jerman, Angela Markel menyebut 70% warga Jerman bisa terjangkit VOCID-19 kalau tidak ada penanganan secara serius.

Beberapa hari terakhir ini, beritanya cukup mengerikan, Menteri Kesehatan Inggris dinyatakan positif, St. Peter di vatikan ditutup, kematian di Italia mencapai angka 827, Swedia, Bulgaria dan Irlandia melaporkan kematian pertama karena COVID-19, Hongaria menyatakan negaranya dalam keadaan darurat corona, Belgia mencatatkan tiga kematian akibat corona. Pembatasan perjalanan semakin meluas, kota atau negara yang disolasi (lockdown) terus bertambah. Sampai hari ini sudah tercatat 114 negara terjangkit COVID-19, 118.000 orang positif corona dan 4.291 meninggal.

Baca Juga:  Sulut Jadi Tempat Pelaksanaan Kegiatan DPR-RI

Sudah lebih dari setengah dunia (jumlah negara di dunia ada 195 negara) terinfeksi corona. Tentu penyataan pandemi dari WHO bukan untuk membuat keadaan semakin panik tetapi untuk menggerakan semua kekuatan dunia, mulai dari kekuatan politik, kekuatan keuangan, teknologi, kekuatan sosial dan sumber daya lain agar bergerak bersama untuk menghentikan kurva corona yang terus membumbung tinggi. Seiring dengan ini, sekarang sedang digalakkan gerakan #flatenthecurve di media sosial twitter yang mengundang semua kekuatan dunia untuk bekerja keras melawan corona.

Tidak berlebihan jika saya menyebut Perang Dunia melawan corona resmi dimulai hari ini, 11 Maret 2020. WHO berupaya untuk memimpin perang ini dan memberikan tuntunan bagi semua negara anggota atau bukan anggota WHO.

Semua harus menjaga diri masing-masing, selain itu semua harus saling menjaga satu dengan yang lain, semua harus mengupayakan kesehatan bagi semua. Keselamatan kita adalah keselamatan orang lain, keselamatan orang lain adalah keselamatan kita juga. COVID-19 memaksa semua manusia di dunia untuk membangun solidaritas global untuk kelestarian umat manusia.

Baca Juga:  Hendak Kunjungi Calon Istri, Warga Upai Malah Tabrak Pohon

Semua harus bertindak karena semua, termasuk anda dan saya sangat mungkin terinfeksi oleh COVID-19 bahkan menjadi korban meninggal karena corona.

Dunia sudah benar-benar bergerak, PBB telah menggelontorkan 15 juta dollar untuk menolong negara-negara yang berkekurangan melawan korona, Kanada menginvestasikan 27 juta dollar untuk penelitian lebih lanjut, beberapa milyader dunia sepert Bill Gates dan Mark Zuckerberg juga menyumbang jutaan dollar untuk membiayai pengobatan para korban.

Di tengah mengamuknya COVID-19, ada yang berspekulasi atau menuduh bahwa COVID-19 bukan virus yang terjadi secara natural, melainkan sengaja diciptakan oleh negara-negara yang ingin menguasai duni, tuduhan itu diarahkan ke Italia, USA dan China.

Tidak ada tahu kebenaran asal-muasal COVID-19, tapi fakta yang terjadi ada ratusan ribu manusia terinfeksi, lebih dari 4000 meninggal, separuh lebih dunia menderita dan hampir semua lini bisnis dunia lesu terutama bisnis penerbangan, hotel dan pariwisata. Kalaupun tuduhan itu nantinya dibuktikan benar, sekarang adalah waktu bagi dunia untuk menghentikan dan mengobati, bukan mencari siapa yang memulai.

Baca Juga:  Kota Tomohon bakal jadi tuan rumah Kongres Anak Indonesia.

Sebagai orang percaya Tuhan, kalau kekuatan dunia tidak mampu lagi mengatasi masalah, maka pertolongan dari Tuhan sangatlah masuk akal. Selain deklarasi pandemi dan seruan solidaritas global, barangkali seruan doa bersama semua manusia lintas agama akan menggerakan surga untuk berbelas kasihan kepada kita, manusia di bumi ini. Saya teringat apa yang terjadi atas Sodom dan Gomora, kota yang dihancurkan Tuhan karena tidak ada orang benar di kota itu selain Lot dan keluarganya.

Saya tidak berharap bumi ini dihancurkan oleh COVID-19, tetapi ini bisa menjadi keadaan yang memaksa umat manusia untuk hidup benar di hadapan sang khalik dan mulai merawat bumi dengan benar. Bergerak bersama, kalahkan COVID-19.
(***)

Tags: