Mulai Habis, Kekuatiran Warga Bukan Tanpa Alasan

Kesegaran mata memandang keindahan alami telaga dihiasi tumbuhan dan pepohonan


Manado – Telaga atau kolam besar alami sulit ditemukan dalam kota. Masyarakat kota cenderung menjadikan lahan kosong termasuk telaga sebagai pemukiman.

Demikian pula yang terjadi di Kota Manado, hingga tahun 1980-an masih terlihat banyak telaga di beberapa titik kota di Kelurahan Malalayang, Paniki, Winangun, Paal Dua, Perkamil dan kelurahan lainnya.

Bukannya sudah habis, namun jumlah telaga di Kota Manado saat ini jauh berkurang di bandingkan tahun 1980-an.

Salah-satu tempat yang masih memiliki telaga adalah Kelurahan Paal Dua, Lingkungan 8, Kecamatan Paal Dua, masuk dari ruas Kairagi samping dieler Mitsubishi, Bosowa, ke arah Terminal Liwas di Kelurahan Ranomuut.

Kondisi telaga masih alami tidak tampak desain untuk lokasi wisata. Keberadaan telaga dengan ukuran sedang ini dimanfaatkan warga sekitar untuk rekreasi memancing biasanya pada sore atau malam hari.

“Kebetulan saya hobi mancing, mudah-mudahan telaga ini nantinya tidak berubah menjadi pemukiman,” tandas Rifki Wowor, warga setempat, kepada wartawan Manadonews.co.id, Jumat (24/4/2020).

Bukan tanpa alasan kekuatiran Rifki, dikarenakan di kawasan tersebut menjadi salah-satu lokasi pemukiman dan pembangunan fasilitas umum baru.

Baca Juga:  Lawan Covid-19, Ketua DPRD Kota Bitung Pimpin Penyemprotan Disinfektan

“Contoh nyata, di sini sudah dibangun terminal besar yakni Terminal Liwas. Artinya, kawasan ini terus berkembang yang bisa menggerus kondisi alami alam sekitar,” sambung dia.

Rifki berharap, pembangunan infrastruktur kota juga menyisakan ruang terbuka alami. Jika telaga dimiliki pribadi bisa dibeli oleh pemerintah.

“Nah, telaga ini juga bagian dari ruang terbuka, selain memperindah kota juga bermanfaat pada kesehatan masyarakat,” pungkas Rifki.

(YerryPalohoon)

Pilgub 9 Desember 2020


Siapakah Gubernur Pilihan Anda?
353 votes

This will close in 10 seconds