Hadapi Corona Belajar dari Yosia yang jadi Raja di Usia 8 Tahun

Ibadah dipimpin GA. Fenny Mamuaja, S.PAK


Tombulu, Manadonews.co.id – Yosia yang memimpin di Yerusalem selama 31 tahun menerima tanggungjawab dari Tuhan untuk melakukan tindakan pembaharuan yakni menghancurkan patung-patung berhala.

Demikian khotbah Guru Agama (GA) Fenny Mamuaja, S.PAK, saat memimpin ibadah Minggu (17/5/2020) pagi, di jemaat GMIM Alfa Omega Rumengkor, secara online melalui live streaming facebook dari gedung gereja, mengambil pembacaan Alkitab, 2 Tawarikh 34: 1, dengan judul Raja Yosia – Pembaharuan yang dilakukan Yosia.

Pembacaan Alkitab menceritakan anak kecil bernama Yosia yang menjadi raja pada usia 8 tahun menggantikan ayahnya bernama Amon.

“Sudah sembilan minggu kita melaksanakan persekutuan dari rumah masing-masing. Ibadah yang dilakukan dengan ketulusan pasti menyenangkan hati Tuhan,” jelas GA Fenny Mamuaja.

GA Fenny Mamuaja mengutarakan tidak seorang pun tahu kapan pandemi Covid-19 (Corona) akan berakhir.

“Kapan wabah Covid-19 berakhir? Tentu tidak ada yang tahu. Hadapi secara iman, semoga melalui wabah ini gereja Tuhan semakin kuat iman dan diberkati,” ujar GA Fenny Mamuaja.

Pandemi Covid-19 di luar jangkauan berpikir manusia, hanya bisa dijawab dengan iman yakni kepercayaan kepada Tuhan Allah.

Baca Juga:  Banyak Orang Terdahulu menjadi Terakhir

“Iman yang memandu kehidupan manusia menuju pada tujuan kehidupan kekal. Namun iman tanpa perbuatan hakekatnya mati,” tambah GA Mamuaja.

Demikian pula tanggungjawab yang diambil Yosia sebagai raja untuk memulihkan bangsa Israel dari dosa dan pelanggaran karena melawan perintah Tuhan.

“Sebagaimana orang Israel di Yerusalem ketika itu, Covid-19 adalah suatu peringatan bahwa manusia tidak luput dari dosa. Mungkin, sebagai pemimpin harus koreksi diri dari tindakan atau kebijakan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Begitu pula sebagai masyarakat harus kembali pada hakekat hidup yang benar,” tutur GA Fenny Mamuaja.

Memang, di tengah situasi sulit tidak gampang melakukan pembaharuan karena pembaharuan adalah penderitaan.

Firman Tuhan selalu mengajarkan agar umat Tuhan tetap mempertahankan komitmen iman yang kuat.

“Dalam situasi sulit apapun iman kepercayaan tidak kendor. Hidup dalam ketaatan maka Tuhan pasti memberkati gerejaNya,” pungkas GA Mamuaja.

(YerryPalohoon)