Taufik Tumbelaka Pernah Tolak ‘Permintaan Khusus’ Benny Tengker

Manado – Tokoh Sulawesi Utara (Sulut) Benny Tengker yang akrab disapa Benteng berpulang, Jumat (28/8/2020), sekira pukul 12.58 WIB. Benteng membanggakan warga kawanua karena telah menerima dua bintang jasa dari Presiden RI sebagai pembina olahraga nasional.

Bicara tentang almarhum Benny Tengker ternyata tidak asing bagi Keluarga Tumbelaka-Ticoalu termasuk Taufik Tumbelaka, putra dari Gubernur pertama Sulut, F.J Tumbelaka.

“Om Benny Tengker bukan orang lain bagi saya. Kedekatan om Benteng dengan Keluarga Tumbelaka-Ticoalu memang agak beda. Kedekatan bukan kerena kebetulan mama mantu om Benny bermarga Tumbelaka, tapi lebih karena ikatan emosional terkait penyelesaian pergolakan Permesta,” jelas Taufik Tumbelaka kepada wartawan Manadonews.co.id di Manado, Sabtu (29/8/2020).

Menurut Taufik Tumbelaka, Benny Tengker sangat menghargai langkah Broer Tumbelaka (panggilan akrab FJ Tumbelaka) di masa lalu. Orang-orang yang dekat dan sering berinteraksi dalam keseharian dengan  Benny Tengker pasti tahu kedekatan Benteng  dengan Keluarga Tumbelaka-Ticoalu.

“Termasuk saya dengan om Benny, bahkan om Benny pernah datang ke rumah Keluarga Tumbelaka-Ticoalu di Desa Suwaan-Kalawat, Minahasa Utara,” kata Tumbelaka.

Selain itu secara khusus, lanjut Taufik Tumbelaka, Benny Tengker pernah minta bantuan menyelesaikan salah-satu bab dari buku yang ditulis dengan judul ‘Inga-inga Permesta pe Perjuangan’.

“Kalau ke Jakarta saya kerap menghubungi putera dari om Otje Lisangan dan tante Helmy Tendean, Izer Lisangan, yang merupakan pengurus teras “Ikaselampe” untuk ambil waktu menyempatkan datang ke kampus ungu, IBM ASMI Jakarta, guna bertemu Benny Tengker untuk ngobrol plus diskusi tentang Permesta, Minahasa, juga Sulaweai Utara di Tola-Tola Cafe dalam ASMI,” tukas Tumbelaka.

Mantan aktivis Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, mengungkapkan kisah menarik dengan almarhum Benny Tengker sekitar 1,5 tahun lalu. Dituturkan, ketika itu dia sedang rapat di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

“Tiba-tiba Izer Lisangan menelpon, dia bilang om Benny mau bicara via telpon. Om Benteng menyampaikan maksud sekaligus permintaannya. Lalu saya sampaikan kepada om Benny lusa akan ke Jakarta untuk bertemu om Benny. Singkat kata, saya bertemu om Benny di Tola-Tola Cafe, kampus IBM ASMI. Kami berbicara empat mata, bicara santai ala orang Sulawesi Utara,” tutur Tumbelaka mengisahkan.

Baca Juga:  Taufik Tumbelaka: Pemda jangan Terlalu Berharap kepada Pemerintah Pusat

Almarhum Benny Tengker ketika itu menyampaikan keinginannya agar organisasi IKASELAMPE di Sulawesi Utara dipimpin orang muda. Benny Tengker memilih Taufik Tumbelaka.

“Jujur, saya bangga dan merasa terhormat. Namun saya mengingatkan bahwa saya bukan dari keluarga Permesta. Itu kalimat bodoh saya keluar secara spontan karena sebenarnya saya tahu kalau banyak tokoh Permesta sudah menganggap kami adalah ‘orang dalam’, bukan orang lain bagi kalangan keluarga besar Permesta,” tandas Tumbelaka.

Taufik Tumbelaka mengaku menolak posisi yang ditawarkan Benny Tengker dengan alasan, masih banyak yang lebih pantas dari pada seorang Taufik Tumbelaka. Dia melihat raut wajah kecewa Benny Tengker, namun memaklumi dan menerima penolakan tersebut.

“Lalu kami foto bersama, dan di foto itu nampak om Benny berdiri gagah di atas tubuh rentanya dengan senyum cerah. Setelah itu, saya izin ke lantai atas gedung kampus IBM ASMI untuk bertemu dengan Angelica (Ika) Tengker. Om Benny bilang dengan tersenyum, ‘langsung ka depe ruangan jo’. Pelajaran saya dapat dari om Benny hari itu, ketika suatu harapan tidak tercapai, tetap tersenyum optimis. Luar biasa om Benteng!” pungkas Taufik Tumbelaka sambil memuji almarhum Benny Tengker.

Diketahui, Benny Tengker pernah menerima dua bintang jasa dari Presiden RI sebagai pembina olahraga nasional.

Sedikit biografi Benny Tengker menurut Bert Polii, kerabat almarhum, dilansir dari Manadopost.

Lahir di Desa Telap, tepi Danau Tondano 23 Febuari 1939, Benteng terkenal aktif dalam sangat banyak bidang dan di setiap bidang itu ia tampil khas tona’as. Kepemimpinan (leadership) yang menonjol, rela berkorban demi banyak orang, terkesan menilai tak ada masalah sebesar apapun yang tak dapat ditanggulangi, serba praktis, demokrasi namun tegas.

“Gaya kepemimpinan khasnya itu boleh jadi hasil tempaan dalam pergolakan PPRI/Permesta dimana Benny muda sejak awalnya sudah menonjol dalam pasukan. Selepas diklat angkatan pertama di pusat pendidikan infanteri Permesta tahun 1959, dengan pangkat letda, Benny langsung di percayakan jadi Komandan/Instruktur BTC (Battle Training Cente) WK-I,” katanya.

Baca Juga:  Kabinda Sulut Kunjungi Danlantamal VIII

Inilah pertama kali dan seterusnya tumbuh dalam jiwanya kecintaan pada dunia pendidikan.

“Tahun 1962 usai pergolakan PPRI, Benny Tengker ikut kursus Dasar infarensi di Ambarawa, JaTeng, meski kemudian memutuskan tak terus berkarir dalam militer. Begitu juga ketika mahasiswa di Jakarta, 1964, ia ikut Latihan Dasar Militer Resimen Mahasiswa. Ia juga ikut latihan pasukan para di Bandung,” jelas Polii.

Didikan militer itu ternyata jadi bekal penting kemudian. Di masa penumbangan rezim Orde Lama, Benny Tengker termasuk dalam kesatuan mahasiswa khusus yang dipersenjatahi. Dalam masa transisi politik tersebut, Benteng pun menjadi pengawal pribadi Radius Prawiro, Gubernur Bank Indonesia. 1966 Benny Tengker menjadi komandan Laskar/KAMI AMI-ASMI Jakarta.1980 hinga lebih 20 tahun kemudian menjadi Kepala Markas Distik Resimen Mahasiswa Jakarta Timur/Batalyon 10.

Benny Tengker banyak terlibat dalam berbagai program pembangunan masyarakat, di tahun 2000 ia sudah Penasehat Dewan Perberdayaan Pembangunan Daerah Sulawesi Utara, sekaligus Koordinasi Wilayah DKI Jakarta. Tahun 2006 Benny Tengker menerima penghargaan sebagai Perintis Pelestarian Lingkungan Hidup dari Walikota Bitung. Dua tahun berikutnya, untuk bidang yang sama, Gubernur Sulut memberinya anugerah Kalpataru.

“Pengabdian Benny Tengker yang utama ialah bidang pendidikan. Ia sepenuhnya sadar, pendidikan bisa mengubah seorang manusia menjadi berharga bagi masyarakat lingkungannya, bangsa, Negara dan Tuhan. 1964, sembari mulai mendidik diri sebagai mahasiswa di ASMI, Benny Tengker langsung bekerja di lembaga yang sama. Mulai dari bawah.

Termasuk untuk antar-jemput dosen. Sifatnya yang rajin dan bertanggung jawab berbuah, 1967 dipercaya sebagai Koord. Secretariat AMI-ASMI. Sepuluh tahun kemudian 1977, Pejabat Direktur ASMI.1978, Pejabat Direktur AMI. 1980, sampai hampir 20 tahun berikutnya, Direktur ASMI. AMI-ASMI berkembang pesat. Di Bitung Benny Tengker mendirikan Yayasan Manguni beserta AMI Bitung. Juga di Medan, Sumut, mendirikan Yayasan pendidikan Samudra Bathera Lancang Kuning sebagai wadah hokum AMI Medan dan ASMI Axtension Medan,” tukasnya.

Aktivasi pendidikan yang dibina Benny Tengker meliputi pembinaan sejumlah cabang olaraga, meski yang paling menonjol adalah tinju. Sejak 1975 Benny Tengker memimpin Sasana Benteng AMI-ASMI. Dari sini tercetak amat banyak atlet tinju yang berprestasi gemilang di arena nasional maupun internasional, termasuk sederajat pemuda asal Sulut. Pemda PERTINA DKI Jakarta pernah mempercayakan Benteng untuk memimpin penyelenggaraan Monthly Boxing Championship sampai 5 tahun.

Baca Juga:  Polisi Olah TKP Lakalantas Tunggal Dijalan Totohan Niampak

Setelah bertahun masuk dalam jajaran kepemimpinan inti Pertina Jakarta, 1988 Benny Tengker di daulat jadi Ketua Umum Pengda PERTINA DKI Jakarta. Di tingkat nasional, Benny Tengker pun mengetahui Bidang Pembinaan dan Pendidikan PB PERTINA .

Dalam wadah POR Maesa, organisasi kawanua perantauan yang telah eksis di sejumlah kota semenjak hampir seabad silam Benny Tengker sejak lama aktif. Kemudian mengetahui Bidang Tinju (OICO Tinju) sejak 1994. Dan sejak 2004 hingga kini ketua Yayasan POR Maesa. Sebetulnya, jejak karya Benny Tengker dalam pembinaan olahraga Indonesia tak sebatas yang dicatat di atas, masih jauh lebih banyak lagi.

Sangat wajarlah bila sejak 1993 Benny Tengker sudah di anugerahi penghargaan Pembina olaraga perguruan tinggi oleh Presiden RI Soeharto di Istana Merdeka. Dan sepuluh tahun kemudian Presiden RI Megawati Sukarnoputeri, di Yogyakarta, menyematkannya Penghargaan Adimanggala Krida sebagai Pembina Olaraga Tingkat Nasional.

Benny Tengker juga jadi sosok sang Tona’as sejati karena terus mengabdi pada kawanua. Pengabdian Tona’as Benny Tengker sangat intens dalam berbagai wadah kawanua maupun pembinaan seni budaya Minahasa. Setelah satu masa bakti memimpin Bidang Kepemudaan dan Olaraga KKK, maka berikutnya sepanjang lima periode, Benteng eksis di pucuk pimpinan KKK.

Dua periode Wakil Ketua Umum KKK, satu periode Presidium KKK dan dua periode Ketua Umum KKK. Dan kini Ketua Dewan Penasehat KKK. Ketona’asan Benteng pun dirasakan para pelaku seni budaya tradisional Minahasa. Sepanjang 1989 hingga 2001 ia Ketua Umum Badan Koordinasi Pembina Musik Kolintang (BPKMK) Provinsi DKI Jakarta.

Sejak 1996 sampai sekarang Ketua Persatuan Olaraga dan Seni Sekolah Lanjutan Asal Sulawesi Utara di lingkungan Pemda Prov. DKI Jakarta,” pungkasnya sembari menyematkan turut berbela sungkawa dan kiranya Tuhan memberikan penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan.

(YerryPalohoon)

Pilgub 9 Desember 2020


Siapakah Gubernur Pilihan Anda?
5913 votes

This will close in 10 seconds