Terungkap Kenapa Simon dari Kirene yang harus Ikut Memikul Salib, Ini Nama-nama Sidi Baru GMIM Alfa-Omega Rumengkor

Tombulu, Manadonews.co.id – Orang hebat tidak dihasilkan dari kesenangan dan kenyamanan tapi mereka dibentuk dari tantangan dan air mata.

Demikian awal khotbah Pdt. Welly Pudihang, S.Th, ketika memimpin ibadah Minggu (28/3/2021) pagi, jemaat GMIM Alfa Omega Rumengkor.

Pembacaan Alkitab, Lukas 23: 26-32 dengan judul “Yesus dibawa untuk disalibkan”.

“Penuturan Lukas tentang jalan salib punya spesifikasi sendiri,” jelas Pendeta Pudihang.

Ucapan Yesus sebelum penyaliban menunjukkan kehancuran bagi kota Yerusalem.

“Yerusalem adalah simbol kebenaran iman, tapi juga simbol kesombongan manusia,” kata Pendeta Pudihang.

Mengapa Yesus harus dibawa ke luar kota untuk disalibkan?

Mengapa Simon orang Kirene yang harus ikut memikul salib bukan orang dari Yerusalem?

“Persepsi saat itu tidak boleh ada kenajisan dalam kota Yerusalem, karen Yerusalem dianggap kota suci. Maka Yesus harus disalibkan di luar kota Yerusalem,” terang Pendeta Welly Pudihang.

Orang-orang Kudus dianggap tidak layak memikul salib. Simon dari Kirene dianggap pantas memikul salib karena dia bukan orang kudus.

“Kelompok marjinal yang digambarkan oleh perempuan perempuan dan Simon dari Kirene dianggap orang najis, bukan orang kudus,” tutur Pendeta Pudihang.

Baca Juga:  Khotbah Minggu: Terus Tumbuh, Gereja Semakin Dihambat Makin Merambat

Bagi Lukas, kelompok marjinal ini adalah kelompok yang menjadi saksi kematian Yesus yang merupakan satu-satunya sumber kebenaran.

Salib menuntun Simon berjalan dalam langkah kaki Yesus. Simon melakukan yang tidak bisa dilakukan Yesus tapi bukan berarti Simon lebih kuat dari Yesus.

“Salib telah mengubah totalitas hidup Simon dari Kirene dan keluarganya. Perubahan hidup Simon membawa dia ke Antiokhia menjadi pengajar dan nabi,” tukas Pendeta Pudihang.

Setelah memikul salib Yesus, Simon menjadi pewaris Injil yang hebat. Yesus mengatakan akan tiba masanya.

Terbukti, ketika Yerusalem dikepung oleh raja Titus selama sekitar 5 hingga 6 bulan mengakibatkan banyak penduduk Yerusalem mati kelaparan.

“Butuh ketaatan seperti perempuan perempuan dan Simon dari Kirene,” tegas Pendeta Pudihang.

Ibadah kali ini juga dirangkaikan dengan peneguhan sidi jemaat. Pendeta Pudihang mengingatkan bahwa masa depan gereja ada di tangan jemaat.

“Waktu berganti waktu dan zaman berganti zaman, gereja kita tidak pernah berubah yakni terus memberitakan kabar keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus,” pungkas Pendeta Welly Pudihang.

Baca Juga:  dr Sahara: Selamat HUT Ke 65, Dirgahayu Kabupaten Bolmong

Berikut nama-nama anggota sidi jemaat baru yang diteguhkan:

  1. Ichiko Kristo Lengkong
  2. Mexell Marchelino Waworuntu
  3. Valen Robert Lengkong
  4. Septian Chrespherens Mononutu
  5. Jimmy Johanes Gilbert Lumi
  6. Janzen Jaksen Vikran Pondaag
  7. Allicia Lydia Pondaag
  8. Mayantika Gloria Mamuaja
  9. Jeynniefer Tiara Pondaag
  10. Syalomita Ravena Karamoy
  11. Chelsee Rumimper
  12. Framelia Rumimper
  13. Abigail Vanessa Lengkong
  14. Zildjian Manja Tesalonika Pieter
  15. Chrisella Estevani Mamahit
  16. Tesalonika Friska Taroreh

Ibadah mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yakni wajib cuci tangan dan uji suhu tubuh sebelum masuk gedung gereja, pakai masker dan duduk jaga jarak.

Hadir Pdt. Veronica Sendow, S.Teol, Pdt. Hana Ireine Tamunu, S.Th, orientator Eunike Sumenge, S.Th, wakil ketua BPMJ Pnt. Yopy Warbung, sekretaris Pnt. Drs. Dolvy Palit, bendahara Sym. Dra. Meiske Pangemanan, Pelsus dan jemaat Kolom 1 hingga 14.

(JerryPalohoon)