Polres Mitra Diduga Salah Tangkap dan Tetapkan Tersangka, Keluarga Melapor ke Propam Polda Sulut

  • Whatsapp

 

Manado – N.O Karamoy, SH, kuasa hukum dari Switly Rifki Kairupan, Arfi Momuat dan Kensi Neman, menolak kliennya dituduh sebagai pelaku penganiayaan kepada korban Patras Ering.

Bacaan Lainnya

Diketahui, Switly, Arfi dan Kensi telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Minahasa Tenggara (Mitra) atas kasus penganiayaan yang terjadi di pertambangan Ratatotok, Selasa, 6 Juli 2021 lalu.

Ketiga tersangka ditahan di Polsek Tombatu sebagai tahanan titipan Polres Mitra sejak 7 Juli 2021.

Menurut Karamoy, kliennya, Switly, Kensy dan Arfi, tidak tepat ditetapkan sebagai tersangka karena saat kejadian, tidak berada di tempat kejadian perkara (TKP).

Selain itu, menurut N.O Karamoy, selaku pengacara menilai apa yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), yang menyatakan bahwa kliennya adalah tersangka kasus pembunuhan adalah tidak benar.

“Apa yang dituangkan dalam berkas acara pemeriksaan tidak benar dan tidak sesuai dengan realita yang ada. Karena klien saya tidak berada di tempat dan apa yang ada dalam BAP tercermin bahwa penyidik tidak profesional dalam menyusun BAP,” jelas Karamoy kepada wartawan usai melapor ke Propam Polda Sulut, Kamis (2/9/2021) siang.

Pengacara N.O Karamoy saat diwawancarai di kantor Polda Sulut

 

Menurut Karamoy, beberapa pasal yang dijeratkan kepada kliennya yang tertuang dalam BAP, tidak sesuai yang tertulis dalam laporan polisi.

“Kalau pasal yang tertulis dalam BAP menyatakan bahwa tersangka dijerat pasal hukuman mati, sementara dalam surat penahanan terurai secara singkat pasal penganiayaan dan hanya undang undang darurat,” tutur Karamoy.

Bahkan menurut pengacara, saat berkonsultasi dengan pihak penyidik, penyidik mengatakan bahwa tersangka tidak menginginkan pendampingan kuasa hukum.

“Nah ini yang parah, saat dilakukan pemeriksaan klien saya tidak diberikan kesempatan untuk didampingi. Bahkan, menurut keterangan penyidik di mana para tersangka mengaku tidak usah ada pendampingan pengacara. Padahal hal itu tidak pernah ditawarkan penyidik kepada tersangka,” tegas Karamoy.

N.O Karamoy ketika ditanya apakah ada ancaman atau sanksi hukum terhadap penyidik yang dengan sengaja mengarahkan atau membuat berita acara yang tidak benar, dia tidak mau memberi pernyataan lanjutan dan hanya tersenyum.

Terpisah, Putri Raranta, istri dari tersangka Switly Kairupan, menjelaskan bahwa pelaku penganiayaan (inisial AK) terhadap korban Ering Patras telah menyerahkan diri dan kepada polisi mengaku bahwa Switly tidak berada di lokasi saat kejadian.

“Pelaku telah menyerahkan diri dan mengakui perbuatannya, di mana ta pe suami (suami saya) tidak berada di tempat (TKP),” ungkap Putri kepada wartawan di kantor Polda Sulut, Kamis (2/9/2021).

Diketahui, laporan pihak keluarga korban ke Propam Polda Sulut atas kesalahan prosedur penahanan Polres Mitra akan ditindaklanjuti melalui pembuatan BAP yang dijadwalkan Senin (6/9/2021) depan.

Laporan ke Propam disampaikan Putri Raranta, istri dari Switly Kairupan dan Tesa Turangan, istri dari Arfi Momuat. Keduanya didampingi N.O Karamoy, selalu kuasa hukum.

(JerryPalohoon)

 

 

Baca Juga:  Minut Akan Dapat Anggaran DID Rp 19 Miliar

Pos terkait