Manado – Perang Russia-Ukraina telah berlangsung 7 bulan lebih sejak 24 Februari 2022.
Terbaru, Presiden Russia Vladimir Putin telah menandatangani dekrit mobilisasi parsial untuk mengerahkan warga ke dalam wajib militer.
Penandatanganan dekrit tersebut dilakukan sehari setelah sejumlah wilayah Ukraina yang dikuasai Rusia berupaya mengadakan referendum.
Namun ada fakta menarik dibalik keikutsertaan relawan tentara Russia yang ikut berperang melawan tentara Ukraina.
Sebanyak 10 persen relawan laki-laki Rusia ikut berperang ternyata demi menghindari istri mereka yang galak di rumah.
Hal ini diakui Walikota Vorkuta, Yaroslav Shaposhnikov, yang menyebutkan 10 persen laki-laki di Rusia yang menjadi sukarelawan untuk konflik dengan Ukraina melakukannya untuk melarikan diri dari istri mereka yang mengekang.
“Sekitar 10 persen sukarelawan yang menuju garis depan pergi ke sana karena istri mereka mungkin menjadi terbiasa dengan kehidupan yang layak, dan mengomel, mengomel, dan mengomel,” kata Shaposhnikov dalam diskusi panel online “Open Vorkuta”, sebagaimana dikutip dari media Rusia, Russia Today (RT).
Diketahui, pasca referendum pihak Russia yang mengambil 4 wilayah di Ukraina, sebanyak sembilan negara anggota NATO pada Minggu (2/10/2022) mengeluarkan pernyataan bersama yang berisi dukungan agar Ukraina masuk ke dalam keanggotaan aliansi tersebut.
Kesembilan negara tersebut adalah Ceko, Estonia, Latvia, Lithuania, Makedonia Utara, Montenegro, Polandia, Rumania, dan Slovakia.
Selain itu, kesembilan pemimpin dari masing-masing anggota NATO tersebut juga menyerukan agar semua anggota NATO, yang berjumlah 30 negara, untuk meningkatkan bantuan militer ke Kyiv.
(***/JerryPalohoon)












