Ferry Liando: Wawasan Kebangsaan Diganggu Polarisasi Pemilu

Manado – Akhir-akhir ini kondisi Indonesia makin memprihatinkan. Kebebasan individu makin tidak terkontrol. Bebas melakukan tindakan apa saja termasuk menghasut, mengadu-domba, merampok, merampas dan mencelakakan orang lain.

Hal itu disampaikan Dosen Fisip Unsrat Ferry Daud Liando ketika memberikan materi pembekalan Wawasan Kebangsaan di Kantor DPRD Sulut, Jumat, 2 Desember 2022.

Bacaan Lainnya

Baginya banyak pihak melakukan tindakan tidak wajar dan tanpa batas kerap berlindung bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. Demokrasi sering disalah-pahami bahwa seolah-olah setiap warga negara berhak melakukan apa saja.

“Banyak yang salah kaprah soal HAM. HAM bukan berarti setiap warga negara bebas berbuat apa saja termasuk tindakan kejahatan,” jelas Ferry Liando.

Pilihan masyarakat yang berbeda satu sama lain dalam pemilu kerap melahirkan polarisasi. Polarisasi harusnya hal yang wajar. Namun sebagian elit kerap memanfaatkan polarisasi itu saling mengintimidasi dan mengadu domba.

Baca Juga:  Ferry Liando dan Toar Palilingan akan Mendampingi Ketua KPU RI Bahas Pemilu 2024

Masing-masing sering melemparkan rasa sentimen, kebencian dan permusuhan.

Beberapa penyebab antara lain karena bangsa ini makin krisis keteladanan. Masyarakat makin terbelenggu dengan kemiskinan dan buruknya pelayanan publik namun para wakil mereka yang dipilih menduduki jabatan-jabatan politik tidak memenuhi janji-janji ketika hendak merebut hati rakyat saat kampanye.

Sebagian aktor politik yang harusnya menjadi teladan namun banyak yang hanya mempertontonkan kekayaan. Bahkan ada dugaan sebagian atas hasil tindakan yang menyimpang.

“Ketika hendak merebut kekuasaan saat pemilu, sebagian calon berlomba-lomba memenangi dengan cara-cara yang tidak wajar. Prilaku para aktor politik ini mewabah pada sebagian masyarakat,” tukas dia.

Faktor lainnya disebabkan karena perkembangan teknologi yang makin vulgar tanpa kontrol dan penegakan hukum yang kerap tidak melahirkan efek jerah.

Salah satu cara untuk mencegah adalah penguatan wawasan kebangsaan bagi setiap warga negara. Selama ini wawasan kebangsaan diganggu oleh polarisasi pemilu.

“Wawasan kebangsaan adalah pengetahun tentang komitmen bagaimana menjaga keutuhan bangsa, bagaimana mencapainya dan apa yang menjadi kewajiban bagi setiap warga negara. Semangat menjaga dan memelihara keutuhan bangsa,” pungkas Ferry Liando.

Baca Juga:  Caroll Senduk Pembina Apel Gelar Pasukan Pengamanan TIFF Tahun 2022

(***/JerryPalohoon)

 

Pos terkait