Berita TerbaruBerita UtamaManado

Direktur Kandou dan Perang Melawan Budaya Lama

×

Direktur Kandou dan Perang Melawan Budaya Lama

Sebarkan artikel ini
Direktur RSUP Kandou - Prof. Dr. dr. Starry H. Rampengan, Sp.JP(K), FIHA, FICA, FACC, FAHA, FESC, FAPSIC, MARS
Direktur RSUP Kandou - Prof. Dr. dr. Starry H. Rampengan, Sp.JP(K), FIHA, FICA, FACC, FAHA, FESC, FAPSIC, MARS

Manado,MN – Di sebuah rumah sakit pendidikan terbesar di Indonesia Timur, perubahan tidak pernah berjalan di karpet merah. Ia datang seperti badai: mengguncang, memecah, dan memaksa semua orang memilih bertahan di masa lalu atau melangkah ke tata kelola baru.

Di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado, badai itu kini bernama reformasi internal: pemberantasan perundungan, pungutan liar, dan budaya senioritas yang selama puluhan tahun dianggap “biasa”.

MANTOS

Direktur rumah sakit berdiri di tengah pusaran itu. Konsisten. Tegas. Dan seperti lazimnya reformator di lembaga publik diserang.

Serangan datang dari dua arah. Pertama, tekanan struktural: sejarah panjang kasus bullying dan pungli di lingkungan pendidikan dokter yang bahkan memaksa Kementerian Kesehatan membekukan program spesialis dan merombak pimpinan sebelumnya. Kedua, tekanan politik-sosial: kritik keras organisasi masyarakat dan LSM yang menuding kepemimpinan Kandou gagal total.

Namun di balik polemik itu ada fakta yang kerap luput: perubahan tata kelola di rumah sakit pendidikan hampir selalu memicu resistensi internal dan eksternal.

Rumah sakit pendidikan seperti Kandou bukan sekadar fasilitas layanan kesehatan. Ia adalah ekosistem kekuasaan: dokter senior, dokter muda, kampus, birokrasi, hingga jejaring profesi. Selama bertahun-tahun, praktik senioritas ekstrem dari perundungan hingga pungutan—hidup sebagai “tradisi profesi”. Bahkan hasil klarifikasi Kemenkes pernah menemukan anggapan di kalangan senior bahwa bullying adalah hal biasa di pendidikan dokter.

Ketika direktur baru menyatakan tidak ada toleransi terhadap bullying dan pungli, itu bukan sekadar slogan moral. Itu serangan langsung ke jantung budaya lama.

Dan budaya lama selalu melawan.

Pola yang muncul di Kandou sesungguhnya klasik dalam reformasi birokrasi Indonesia. Tahapannya hampir selalu sama:

  1. Reformasi dimulai → penertiban praktik lama.
  2. Kelompok terdampak terganggu → resistensi muncul.
  3. Narasi kegagalan dibangun → legitimasi pemimpin digerogoti.
  4. Tekanan publik meningkat → reformasi melemah.

Dalam konteks Kandou, kritik ormas/LSM terhadap direktur tidak berdiri di ruang hampa. Ia muncul tepat ketika rumah sakit ini sedang berada dalam fase pembenahan pasca-skandal bullying-pungli yang memicu intervensi nasional.

Pertanyaannya bukan apakah kritik boleh. Kritik adalah oksigen demokrasi.
Pertanyaannya: apakah kritik itu menilai hasil reformasi atau sekadar menolak perubahan itu sendiri?

Yang menarik, kepemimpinan Kandou saat ini justru menunjukkan karakter yang jarang di birokrasi kesehatan: konsistensi narasi.

Direktur menempatkan isu bullying dan pungli sebagai garis merah bukan isu administratif, melainkan etika profesi. Dalam rumah sakit pendidikan, ini langkah radikal. Sebab ia berarti mengubah relasi kuasa antara dokter senior dan junior.

Risikonya jelas:

  • konflik internal profesi,
  • tekanan eksternal,
  • dan delegitimasi publik.

Tetapi tanpa risiko itu, Kandou akan tetap berada di siklus lama: skandal → investigasi → janji → lupa.

Opini publik sering terjebak dikotomi sederhana: direktur gagal atau berhasil.
Padahal reformasi institusi kesehatan besar tidak pernah linier. Ia selalu penuh turbulensi.

Jika RSUP Kandou hari ini lebih terbuka terhadap isu bullying, lebih tegas terhadap pungli, dan lebih berani mengoreksi budaya internal itu bukan tanda kegagalan. Itu tanda konflik perubahan.

Sejarah reformasi menunjukkan: lembaga yang benar-benar berubah hampir selalu melewati fase paling bising.

RSUP Kandou adalah rumah sakit rujukan Indonesia Timur. Nasibnya bukan sekadar urusan Manado, melainkan sistem kesehatan kawasan.

Di titik ini, yang dibutuhkan bukan sekadar pembelaan terhadap direktur atau serangan terhadapnya. Yang dibutuhkan adalah konsistensi arah:

  • nol toleransi bullying,
  • nol pungli pendidikan dokter,
  • dan tata kelola transparan.

Jika direktur saat ini konsisten di garis itu, maka serangan ormas atau LSM sekeras apa pun harus dibaca sebagai bagian dari turbulensi reformasi, bukan bukti kegagalan.

Karena dalam reformasi institusi publik, ukuran pemimpin bukan seberapa sunyi masa jabatannya, melainkan seberapa besar perubahan yang ia paksa terjadi.

Dan perubahan, hampir selalu, tidak pernah datang tanpa musuh.(Aldo)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari MANADO NEWS di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP Gacor Shop