SANGIHE,MANADONEWS.CO.ID– Sebagai wujud nyata kehadiran negara di wilayah perbatasan, Satgas Pamputer Kodam XIII/Merdeka yang bertugas di Pulau Marore bersinergi dengan aparat kewilayahan Babinsa Koramil 1301-10/Marore Koptu Bertun Makapedua mengambil langkah tanggap darurat pasca terjadinya guncangan gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,7 SR pada Senin (8/6/2026) di wilayah Kepulauan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.
Gerak cepat ini merupakan bentuk operasi militer selain perang (OMSP) guna memastikan keselamatan warga. Selain mengevakuasi korban ke lokasi yang lebih aman, aparat gabungan juga membantu warga mendata kerusakan rumah dan memberikan imbauan mitigasi bencana.
Danposad Marore Letda Inf Cahaya Reigowo menyampaikan bahwa kehadiran para prajurit di tengah masyarakat merupakan wujud nyata kepedulian dalam membantu kesulitan rakyat.
“Ini sudah menjadi bagian dari tugas dan pengabdian kami kepada masyarakat dan negara. Tidak hanya menjaga wilayah perbatasan, Satgas Pamputer juga berfokus pada pembinaan teritorial dan memastikan keselamatan warga,” ujarnya.
Aksi kemanusiaan ini tidak hanya berfokus pada evakuasi korban, tetapi juga mencakup pembersihan fasilitas umum agar kehidupan sosial dan ekonomi warga dapat berangsur pulih. Dukungan moral dari aparat TNI dan pemerintah setempat sangat dibutuhkan warga untuk melewati masa-masa pascabencana.
Peristiwa ini menjadi cerminan nyata dedikasi TNI di garis depan. Di wilayah perbatasan yang jauh dari pusat kota, dedikasi dan kesigapan Satgas Pamputer Kodam XIII/Merdeka serta Babinsa Koramil 1301-10/Marore menjadi secercah harapan yang membawa rasa aman bagi masyarakat di ujung utara nusantara.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di Pulau Marore berangsur kondusif. Satgas Pamputer Kodam XIII/Merdeka dan Babinsa Koramil 1301-10/Marore masih terus bersiaga membantu pemulihan infrastruktur dasar dan memantau kondisi warga pasca gempa. (Regina.TS)












