Slogan “Muda, Beda, dan Berbahaya” tampaknya butuh revisi total. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang selama ini menjual narasi antikorupsi dan politik bersih kembali kena tampar kenyataan pahit.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menyita uang tunai fantastis senilai Rp3,5 miliar dari Ketua Harian DPP PSI, Ahmad Ali. Uang jumbo tersebut diduga kuat merupakan bagian dari aliran dana “pengaman” bisnis batu bara haram di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Penyitaan ini menjadi pukulan telak yang menguliti tuntas jualan moral politik partai berlogo Gajah. Uang miliaran rupiah yang diamankan dari sang pejabat teras partai bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan bukti nyata keterikatan elite PSI dalam pusaran skandal besar mantan Bupati Kukar, Rita Widyasari.
KPK menegaskan penyitaan dilakukan karena ada keyakinan kuat bahwa dana jumbo tersebut bersumber dari tindak pidana korupsi yang terstruktur rapi.
Pengusutan penyidik kini fokus pada metode follow the money. Kasus ini mengungkap tabir jahat skema gratifikasi per meter ton batu bara yang mengeruk kekayaan alam Kukar.
Korporasi-korporasi nakal diduga membayar “uang keamanan” dan tarif pungutan liar untuk menggunakan jalan pengangkut (hauling) menuju dermaga. Uang panas hasil pengerukan bumi itulah yang diduga mengalir deras hingga ke lingkaran pimpinan PSI.
Langkah KPK menetapkan tiga korporasi sebagai tersangka mempertegas bahwa kejahatan ini bukan aksi perorangan, melainkan bancakan terorganisir.
Kini publik menunggu keberanian KPK untuk membongkar seberapa dalam elite partai “anak muda” ini menikmati manisnya rente tambang ilegal. Uang Rp3,5 miliar itu baru pintu masuk, bukan tidak mungkin ada keran aliran dana lain yang siap dibongkar penyidik.
Janji politik tanpa mahar dan narasi bersih yang digembar-gemborkan PSI kini tampak tak lebih dari sekadar komoditas jualan kampanye. Saat uang haram jutaan ton batu bara Kukar mampir ke kantong pengurus intinya, PSI tak bisa lagi bersembunyi di balik citra suci.
Publik kini menanti, apakah PSI berani memecat kadernya atau bersilat lidah menyelamatkan wajah partai yang kian tercoreng. (Jerry)












