TAHUNA, MANADONEWS.CO.ID – Musim hujan diperkirakan mulai memasuki sebagian besar wilayah Indonesia pada November 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan tanah longsor.
Dikutip dari CNN Indonesia, BMKG memprediksi awal musim hujan di Indonesia tidak berlangsung secara serentak. Sebagian wilayah diperkirakan memasuki musim hujan pada November, sementara wilayah lainnya baru mengalaminya pada Desember.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim hujan pada November sebanyak 185 Zona Musim (ZOM), sedangkan 266 ZOM lainnya diperkirakan baru memasuki musim hujan pada Desember.
Sementara itu, puncak musim hujan diprediksi berlangsung pada Desember hingga Februari. Pada Desember, sebanyak 155 ZOM atau sekitar 36,94 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mencapai puncak musim hujan.
Selanjutnya, pada Januari terdapat 162 ZOM atau sekitar 25,68 persen luas daratan Indonesia yang diprediksi mengalami puncak musim hujan. Sedangkan pada Februari, puncak musim hujan diperkirakan terjadi di 190 ZOM atau sekitar 16,79 persen luas daratan Indonesia.
Sejumlah Wilayah Masuk Periode Puncak Hujan
BMKG memperkirakan puncak musim hujan pada Desember terjadi di sejumlah wilayah Sumatera, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi Utara, pesisir selatan Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat, serta sejumlah wilayah Maluku dan Papua.
Pada Januari, puncak musim hujan diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku hingga Papua.
Sementara pada Februari, wilayah yang diperkirakan memasuki puncak musim hujan antara lain sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, Maluku dan sebagian besar wilayah Papua.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena peningkatan curah hujan pada periode puncak musim hujan dapat meningkatkan potensi terjadinya bencana hidrometeorologi.
Ardhasena mengatakan lonjakan curah hujan perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan dampak lanjutan berupa banjir maupun tanah longsor.
“Perlu kita waspadai bersama lonjakan musim hujan dan curah hujan yang terjadi pada musim hujan tahun ini karena bisa menyebabkan dampak turunan seperti banjir dan longsor,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers secara daring, Selasa (22/9/2026).
BMKG Minta Drainase dan Evakuasi Disiapkan
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tidak menunggu sampai hujan ekstrem terjadi. Sistem drainase perlu dioptimalkan dan kesiapan evakuasi harus mulai diperhatikan, terutama di wilayah yang secara historis memiliki potensi banjir dan longsor.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menyebut sejumlah daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan, di antaranya Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Papua serta sebagian wilayah Maluku.
Menurut Andri, meskipun periode musim hujan diperkirakan relatif pendek, curah hujan pada periode tersebut dapat lebih tinggi sehingga hujan berpotensi turun dengan intensitas besar dalam waktu tertentu.
“Periode musim hujan ini pendek, tetapi curah hujan umumnya lebih besar dan normal. Nah ini yang perlu diwaspadai, jadi nanti bisa saja hujan jatuh secara intens di bulan-bulan tersebut,” ujarnya.
Karena itu, kesiapan menghadapi musim hujan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan perhatian masyarakat. Membersihkan saluran air, memastikan drainase tidak tersumbat, mengenali wilayah rawan longsor dan menyiapkan jalur evakuasi menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan sebelum intensitas hujan meningkat. (***/Riko)












