Manado, MN – Festival Literasi Sulawesi Utara 2026 tidak sekadar menghadirkan buku dan diskusi. Di balik perhelatan yang berlangsung 2–4 Oktober 2026 di Museum Negeri Sulawesi Utara itu, ada upaya membawa cerita, tradisi, sejarah, dan karya masyarakat Sulut keluar dari ruang-ruang yang selama ini terbatas.
Festival ini digagas Putra Putri Literasi Sulawesi Utara (PPLSU) bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Utara. Sejumlah tokoh literasi dan seni turut hadir, termasuk penulis sekaligus penyanyi Dee Lestari serta pegiat literasi Wien Muldian.
Di balik gerakan tersebut, nama Standius Bara Prima menjadi salah satu penggerak utama. Sebagai Ketua Umum Putra Putri Literasi Sulawesi Utara, Bara sejak awal membawa gagasan agar kekayaan tradisi dan sejarah Sulut tidak berhenti sebagai cerita lisan, tetapi dapat dirajut menjadi literasi modern yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Warisan budaya, tradisi dan sejarah yang selanjutnya melahirkan banyak cerita itu sering kali hanya berhenti sebagai tradisi lisan,” kata Bara.
Menurutnya, Festival Literasi Sulut 2026 diharapkan menjadi wadah untuk mengolah berbagai cerita tersebut menjadi karya dan pengetahuan yang dapat dibaca lebih luas.
Dengan demikian, generasi selanjutnya bukan hanya menjadi pewaris tradisi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk merawat, mengembangkan, dan menciptakan karya baru dari kekayaan budaya Sulawesi Utara.
Dari Jalur Rempah hingga Dee Lestari
Hari pertama festival memperlihatkan bagaimana konsep tersebut diterjemahkan ke dalam kegiatan. Bincang Buku “Jalur Rempah Nusantara” menghadirkan penulis lokal Ersyad Mamonto bersama Wien Muldian.
Diskusi tersebut mengangkat posisi Binadou—Bintauna, Bolangitang, dan Kaidipang—dalam jaringan pelayaran dan perdagangan masa lalu. Bagi generasi muda, sejarah tidak lagi tampil sebagai sekadar rangkaian tanggal, tetapi sebagai cerita tentang bagaimana wilayah Sulawesi Utara pernah terhubung dengan jaringan perdagangan Nusantara.
Festival juga memberikan ruang bagi penulis lokal Sulawesi Utara. Sekretaris PPLSU Faradila Bachmid mengatakan keberadaan penulis lokal menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem literasi daerah.
Namun suasana festival tidak hanya serius dan penuh diskusi.
Kehadiran Dee Lestari membawa literasi ke panggung seni. Penulis dan penyanyi tersebut turut meramaikan Festival Literasi Sulut 2026 melalui pertunjukan musik, termasuk mengajak Standius Bara Prima bernyanyi bersama dalam lagu “Malaikat Juga Tahu”.
Momen tersebut memperlihatkan wajah lain dari literasi: bahwa membaca, menulis, musik, seni, dan kreativitas dapat bertemu dalam satu ruang.
Literasi yang Tidak Berhenti di Seremoni
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Roldy Azkarya Apolti, mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam festival tersebut.
Menurut Roldy, gerakan literasi tidak hanya bergantung pada pemerintah. Masyarakat perlu menjadi penggerak, sementara pemerintah memberikan dukungan sesuai kemampuan yang tersedia.
Pandangan itu sejalan dengan gagasan yang dibawa Bara.
Jauh sebelum festival berlangsung, Bara telah mendorong Putra Putri Literasi Sulut agar tidak sekadar menjadi simbol, tetapi menjadi agen yang menghadirkan gerakan dan karya nyata di tengah masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya literasi di tengah derasnya arus informasi dan maraknya hoaks.
Karena itu, Festival Literasi Sulut 2026 dapat dibaca lebih luas dari sekadar agenda tiga hari.
Ia menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa depan: sejarah Jalur Rempah bertemu dengan generasi digital, penulis lokal bertemu pembaca, tradisi bertemu kreativitas, dan buku bertemu musik.
Dari Sulawesi Utara, cerita-cerita lokal itu sedang dicoba untuk tidak hanya disimpan sebagai kenangan.
Tetapi ditulis, dibaca, dikembangkan, dan suatu hari mungkin dibaca oleh dunia.(Jan)












