Manado, MANADONEWS – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut) siaga bencana. Badan Penanggungan Bencana Daerah (BPBD) membangun posko bencana.
Hal ini sebagai aksi sigap dalam menghadapi fenomena La Nina yang menyebabkan intensitas hujan disertai angin kencang di wilayah Provinsi Sulut.
Posko tersebut dibangun di di Kantor BPBD Sulut, Jalan Bethesda, Kota Manado. “Personel, peralatan dan logistik sudah disiapkan, kita tidak minta-minta, tapi manakala dibutuhkan maka semuanya siap bergerak,” kata dia, baru-baru ini.
Diketahui, sebelumnya Gubernur Sulut Olly Dondokambey sudah mengeluarkan imbauan siaga bencana, BPBD pun merespon dengan kesiagaan 1×24 jam.
Oroh mencontohkan untuk kesiapan peralatan, mobil, perahu, tenda pengungsian.
Untuk alat berat, Joi mengatakan sudah dari pekan lalu berkordinasi dengan Balai Jalan dan Dinas PUPR Sulut.
Alat berat akan ditempatkan misalnya di daerah rawan longsor seperti Jalan Manado-Tomohon
“Biasanya mereka sudah standby di Kinilow,” kata dia.
Koordinasi dengan instansi terkait pun sudah dilakukan sejak akhir November 2021. BPBD kata Joi sudah melakukan rapat dengan BMKG, TNI-Polri, Balai Jalan, Dinas Sosial dan Dinas PUPR.
“Kita sudah dengar pemaparan BMKG soal kondisi yang berpotensi terjadi bencana,” ungkap dia.
Selain itu, BPBD terus berupaya melakukan edukasi terutama di daerah rawan banjir dan longsor
Imbauan kepada masyarakat terutama di daerah rawan bencana bantaran sungai, daerah bukit dan lereng terjal harus hati – hati.
Semisal terjadi hujan keras bentuk kesiagaan bisa dilakukan dengan menyiapkan tas siaga bencana.
Tas ini diisi barang berharga, surat penting, dan logistik untuk kebutuhan harian.
Tentu saja yang diutamakan juga evakuasi mandiri, kata Joi utamakan dulu kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia
“Hujan intensitas tinggi dimintakan untuk lakukan evakuasi mandiri. Utamakan kelompok rentan seperti anak – anak dan lansia dievakuasi lebih dulu ke ke rumah saudara aman. Kemudian siapkan tas siaga berisi barang berharga, surat berharga,” ujarnya.
Dengan kesiapsiagaan ini diharapkan saat terjadi bencana tak jatuh korban
“Slogan kita siap untuk selamat,” ungkap dia.
Pun kala terjadi bencana, Sulit sudah mengakar budaya mapalus. Pemerintah, masyarakat, terdiri dari elompok gereja, pemuda, dan ormas saling bahu membahu datang membantu. (***)












