banner 600x160
Berita TerbaruBerita UtamaNasional

Nyala Lilin di Balai Metro: Saat Pena dan Doa Bersatu demi Keluarga

×

Nyala Lilin di Balai Metro: Saat Pena dan Doa Bersatu demi Keluarga

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, Manadonews.co.id – ​Sabtu sore di pengujung Januari 2026, rintik hujan tipis menyelimuti Semanggi. Namun, di dalam Balai Pertemuan Metro Jaya, suasana justru terasa hangat. Bukan sekadar karena dekorasi merah dan hijau yang masih menyisakan nuansa Natal, melainkan karena berkumpulnya para pemegang pena—insan pers—bersama para penjaga keamanan dalam satu garis doa yang sama.

​Perayaan Natal Bersama PWI Pusat tahun ini bukan sekadar seremoni kalender. Di tengah dunia yang sedang “batuk” oleh eskalasi politik global dan bencana alam yang silih berganti, tema yang diangkat terasa sangat membumi: “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga.”

MANTOS

​Kembali ke Unit Terkecil

​Di atas podium, Irjen Pol Daniel Tahi Monang Silitonga berdiri bukan dengan seragam yang mengintimidasi, melainkan dengan tutur kata seorang gembala. Mengutip Kitab Matius 1:21–24, ia mengajak jemaat untuk menarik diri sejenak dari hiruk-pikuk berita dunia dan melihat ke dalam rumah mereka sendiri.

​”Natal bukan sekadar perayaan,” tegasnya. “Ini adalah peristiwa keselamatan. Malaikat Tuhan berpesan kepada Yusuf tentang nama Yesus, sang penyelamat. Keselamatan itu dimulai dari unit terkecil peradaban manusia: keluarga.”

​Pesan ini seolah menjadi oase bagi para wartawan yang sehari-harinya bergelut dengan tenggat waktu dan kabar-kabar pahit dari lapangan. Di tengah tantangan global, keluarga dianggap sebagai benteng terakhir yang harus diselamatkan terlebih dahulu agar bangsa tetap kokoh.

​Sinergi dalam Cahaya Lilin

​Ada pemandangan menarik saat Romo Yos Bintoro, Wakil Uskup untuk umat Katolik TNI-Polri, memberikan refleksi. Ia melihat pertemuan antara PWI dan Polri sore itu sebagai sebuah simbol harapan.

​”Sinergi PWI dan Polri adalah simbol terang,” ujar Romo Yos lembut. Ia mengibaratkannya seperti lilin Natal yang tetap menyala meski angin di luar sedang bertiup kencang. Dalam kondisi dunia yang “tidak baik-baik saja”, kerja sama antara pembawa informasi dan penjaga ketertiban adalah kunci untuk menjaga kewarasan publik.

​Nuansa haru memuncak saat doa syafaat dipanjatkan. Di bawah langit-langit balai, nama-nama korban banjir, longsor, dan warga yang kehilangan rumah akibat kenaikan air laut disebut dalam doa. Di titik ini, Natal PWI berhenti menjadi milik kelompok tertentu dan menjelma menjadi solidaritas kebangsaan.

​Wartawan Sebagai ‘Lilin Kecil’

​Sekretaris Jenderal PWI Pusat, Zulmansyah Sekedang, memberikan perspektif menarik tentang profesi wartawan dalam bingkai spiritual. Baginya, setiap berita yang ditulis dengan integritas adalah cahaya.

​”Wartawan diharapkan menjadi seperti lilin-lilin kecil yang menerangi kehidupan bangsa melalui karya jurnalistik yang bertanggung jawab,” kata Zulmansyah.

Di era disinformasi, peran sebagai “penyelamat informasi” menjadi relevan dengan semangat Natal tahun ini.
​Ketua Panitia, Edison Siahaan, tak mampu menyembunyikan getar emosinya.

“Saya merinding dan gemetar melihat acara ini bisa berjalan begitu baik,” ungkapnya singkat, sebuah ungkapan syukur yang tulus atas kerja keras tim panitia yang terdiri dari nama-nama beken seperti Yoga, Jimmy Endey, hingga Chelsea Chan.

​Optimisme di Tengah Dinamika

​Meski Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berhalangan hadir, semangat yang dititipkannya melalui Kadiv Humas Polri Irjen Pol Sandi Nugroho tetap sampai ke hati audiens. Sandi memaparkan data yang membawa angin segar: Indonesia masih mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 5,5 persen, berada di peringkat ketiga G20.

​”Penyertaan Tuhan menjaga bangsa ini,” ujarnya yakin, meski ia tak menampik kompleksitas politik dunia yang semakin rumit.

​Sore itu, di Balai Pertemuan Metro Jaya, para tokoh pers seperti Rosiana Silalahi, Iman Brotoseno, dan Beni Siga Butarbutar duduk berdampingan dengan para pengurus PWI dan pejabat Polri. Mereka tidak sedang membahas headline besok pagi atau strategi pengamanan kota. Mereka sedang merayakan satu hal sederhana namun fundamental: harapan bahwa selama keluarga dan rasa persaudaraan tetap dijaga, Indonesia akan baik-baik saja.

​Saat lampu balai mulai meredup dan jemaat bersiap pulang, pesan yang dibawa tetap benderang: Menjadi lilin tidak perlu besar, cukup tetap menyala di tengah kegelapan.

​Turut hadir Dr. Benny Jozua Mamoto (Dewas KPK), Beni Siga Butarbutar (Dirut Antara), Iman Brotoseno (Dirut TVRI), I. Hendrasmo (Dirut RRI), Rosiana Silalahi (Dirut Kompas TV), serta jajaran pengurus PWI Pusat dan Panitia Natal 2026. (Jerry)

 

 

Yuk! baca berita menarik lainnya dari MANADO NEWS di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP Gacor Shop

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11