Berita TerbaruBerita UtamaMinahasa

Dari Kursi Rektor ke Pengabdian Desa: Djolly Sualang, “Amunisi Baru” Touliang Oki Menuju Era Keemasan

×

Dari Kursi Rektor ke Pengabdian Desa: Djolly Sualang, “Amunisi Baru” Touliang Oki Menuju Era Keemasan

Sebarkan artikel ini

TONDANO, Manadonews.co.id – Angin perubahan berembus kencang di pesisir Danau Tondano. Pemilihan Hukum Tua (Pilhut) Desa Touliang Oki tahun 2026 kedatangan sosok yang bukan sembarang figur. Ia adalah Djolly Sualang, seorang intelektual yang memilih “pulang kampung” untuk mewujudkan visi besar: “Maju Bersama, Sejahtera Bersama.”

Bagi warga Touliang Oki, Djolly bukan sekadar calon pemimpin. Ia dianggap sebagai perpaduan langka antara intelektualitas kampus, ketegasan hukum, dan kerendahan hati seorang pelayan.

MANTOS

Rekam Jejak “Raksasa”: Intelektual yang Tetap Membumi

Dukungan yang mengalir deras dari arus bawah bukan tanpa alasan. Djolly membawa portofolio yang mumpuni ke meja pelayanan desa. Sebagai mantan Dosen Fakultas Hukum, ia menjamin tata kelola Dana Desa yang transparan dan anti-korupsi. Pengalamannya sebagai Pengacara menjadi jaminan bahwa hak-hak rakyat kecil dan aset “tanah kobong” milik warga akan terlindungi secara hukum.

Tak hanya itu, pengalamannya sebagai Plt. Rektor UKIT Tomohon dan Plt. Direktur AKPER Bethesda membuktikan kapasitas manajerialnya yang kelas wahid.

“Touliang Oki butuh pemimpin yang sudah teruji di luar, tapi hatinya tetap di kampung. Pak Djolly itu bukti nyata. Dia pintar tapi tidak sombong; kalau ada duka dia datang, kalau kerja bakti dia tidak segan angkat cangkul,” ujar Jemmie Politon, Ketua Tim Pemenangan.

Filosofi “Otak, Hati, dan Lutut”

Di tengah hiruk-pukuk politik desa, Djolly tampil dengan gaya kepemimpinan yang menyejukkan. Warga menjulukinya pemimpin dengan filosofi “Otak, Hati, dan Lutut”:

Otak: Cerdas merancang strategi pembangunan desa.

Hati: Merakyat dalam melayani diakonia (pelayanan gereja).

Lutut: Tekun berdoa dan mengandalkan Tuhan sebelum mengambil keputusan.

“Saya ingin menjadi penasihat yang mendengar, bukan bos yang memerintah,” tutur Djolly dengan nada rendah hati saat ditemui di kediamannya, Senin (11/05/2026). Ia mengutip Amsal 11:14 sebagai landasannya bahwa keselamatan sebuah bangsa (atau desa) terletak pada banyaknya penasihat dan musyawarah.

Jargon yang Menjadi Gerakan Semesta

Visi “Maju Bersama, Sejahtera Bersama” kini bertransformasi menjadi gerakan sosial. Djolly memimpikan Touliang Oki di mana infrastruktur jalan dan air bersih terpenuhi, namun di saat yang sama, anak petani mendapatkan beasiswa dan industri mebel lokal mampu menembus pasar nasional.

Dukungan pun datang dari jauh. Galatia Karamoy (Australia) dan Cindy Rey (Jepang), generasi muda Touliang Oki di luar negeri, menyatakan kebanggaannya.

“Ini berkat untuk desa. Hadirnya putra terbaik seperti Pak Djolly menunjukkan bahwa Touliang Oki siap naik level,” ungkap Galatia.

Harapan Baru di Ujung Jalan

Menutup perbincangan, Djolly menegaskan bahwa dirinya hanyalah instrumen kecil yang ingin digunakan Tuhan untuk desanya.

“Saya bukan Superman. Saya cuma anak Touliang Oki yang Tuhan titipkan sedikit hikmat dari kampus dan pengalaman dari pengadilan. Jika Tuhan berkenan, saya siap menjadi kaki, tangan, mata, dan telinga bagi seluruh warga,” pungkasnya.

Dengan suasana Pilhut yang damai, warga kini menaruh harapan besar. Jika mandat jatuh ke tangan yang tepat, doa dalam Mazmur 122:7 tentang kesejahteraan di dalam tembok Touliang Oki, bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang segera tiba.

(Hence Karamoy)

 

 

Yuk! baca berita menarik lainnya dari MANADO NEWS di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP Gacor Shop