‘Sang putra kandung’ Talaud itu dicemoh. Niat tulus mengabdi untuk tanah kelahirannya dijegal. Para rival mulai ketakutan melihat antusiasme masyarakat yang mendukungnya. Konon, isu gaya berpidato pun acap kali dimainkan untuk menyerang Welly Titah (POKA).
Catatan: Ignazio Youngky
TALAUD, MANADONEWS – Bersiaplah untuk ‘celaka’. Ya, jika sebuah daerah hanya melihat kualitas calon pemimpinnya hanya pada kemampuan berpidato secara retorik. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Talaud tak kurang dari tiga bulan kedepan. Artinya, masyarakat memilih putra daerah terbaik yang berkualitas negarawan untuk menjadi penguasa tertinggi. Bukan sedang memilih ahli retorika untuk perlombaan pidato.
Soekarno memang disegani karena pidatonya. Namun, dia disanjung bukan hanya karena pidatonya sendiri, melainkan Presiden RI yang ke-1 ini berhasil membuktikan bahwa apa yang dipidatokannya sudah dijalankannya. Soekarno berpidato membela rakyat dibuktikan dengan penderitaanya yang panjang demi rakyat. Ia masuk keluar penjara selama bertahun-tahun. Soekarno memasukkan derita rakyat kedalam jiwanya. Ia menolak hidup mewah yang ditawarkankan oleh penjajah Belanda dan Jepang. Ia tak memiliki kuda seharga 3 miluar per ekor. Kuda yang harganya melebihi mobil mewah. Mobil sedan BMW 750Li saja berharga sekitar Rp 2,5 miliar, atau Mercedes Benz terbaru, seri E300, sekitar Rp 1,3 miliar (data dari berbagai sumber).
Kalau kualitas seseorang hanya pada pidato atau kemampuan berbicara, maka sesungguhnya kita telah melupakan realitas sesungguhnya. Bukankah rata-rata para ibu kita tidak memiliki kemampuan berpidato yang canggih, tapi mereka berhasil mendidik anak-anaknya menjadi hebat.
Melihat perkembangan media sosial, banyak yang membahas (paling dominan kubu lawan), jika Welly Titah kurang layak menjadi Bupati Talaud karena masalah pidato. Menurut penulis, anggapan itu termasuk diskrimasi yang tak boleh menjadi ukuran kualitas seseorang.
Secara nasional, kita juga mudah menyaksikan bahwa semua orang yang masuk di rumah tahanan KPK. Menariknya, saat ini adalah orang-orang yang jago bicara, mereka sangat ahli bersilat lidah. Bahkan setelah ditangkap dan menggunakan baju orange KPK, mereka masih mampu berpidato dengan lincah dan indah, seolah mereka adalah utusan dari surga. Mereka dulu mengatakan akan membela rakyat, bangsa dan negara, tapi ternyata terbukti mencuri uang rakyat. Maka hati-hatilah dengan orang yang terlalu pandai bicara, tapi tak ada bukti.
Pernah juga terjadi di salah satu kabupaten sekian tahun silam. Waktu itu bupatinya akan maju untuk yang kedua kalinya. Seperti kandidat-kandidat lainnya, pastinya ada janji-janji politik yang dikampanyekan. Yang paling lazim ialah ketika bupati tersebut berjanji melakukan pembangunan di daerah tersebut. Namun, magisnya, baru separuh periode dijalani, sang bupati meninggalkan daerah untuk mencalonkan diri sebagai pada pemilihan gubernur kala itu.
Yang lebih bikin dahi berkerut, ketika tak berselang lama, bupati yang dikenal jago dalam berorasi dan hebat berpidato, ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi hingga akhirnya menjadi terpidana karena terbukti melakukan korupsi. Kita juga perlu hati-hati. Bukankah para playboy atau playgirl adalah orang-orang yang sangat jago bicara, hebat berjanji? Dengan skill tersebutlah ia mampu melumpuhkan korbannya. Ia mampu memberi janji manis dan memberikan puisi kepada setiap korbannya. Bagi yang polos yang langsung percaya pada kata-kata akan menjadi mangsanya.
Tapi, mari kita tutup cerita lama dan membuka lembaran baru. Kalau diambil positifnya, justru gaya pidato POKA sapaan akrab Welly Titah yang sederhana, mudah dicerna dan ceplas-ceplos, menjadi keunggulan tersendiri. Gaya komunikasi tersebut ikut membuatnya mudah masuk ke dalam hati rakyat. Hal ini yang membuatnya menjadi fenomenal saat ini. Mirip seperti Presiden Jokowi, menjadi antitesa gaya politisi lama, yang pidatonya high content, banyak menggunakan istilah asing, sehingga tak mampu ditangkap dengan baik oleh rakyat. Makanya yang paham pidato tersebut mungkin hanya pembuat naskah.
Inti dari komunikasi adalah pemahaman antara dua pihak yang sedang berkomunikasi (komunikator dan komunikan). Pak Jokowi dengan gaya komunikasinya yang sederhana membuatnya luar biasa, hal tersebut dibuktikan dengan suksesnya ia berbisnis selama 24 tahun di pasar Eropa. Termasuk menang telak 91% suara pada PILKADA Solo 201 dan Pilpres 2014. Sama halnya dengan Jokowi, POKA juga meniti karir di dunia bisnis. Keduanya bukan tipikal orang yang pintar bicara dan beretorika panjang, tetapi merupakan orang yang bekerjanya panjang.
Namun, ini dikembalikan kepada masyarakat selaku pemilih yang menentukan apakah kepemimpinan ke depan membutuhkan yang bekerjanya panjang meski bicaranya pendek, atau yang bicaranya panjang tetapi belum jelas bagaimana kerjanya. “Pak Poka kalau adalah salah satu orang yang tak bisa bicara dengan berapi-api. Tapi akan berapi-api kalau bekerja,” bisik salah satu karyawan POKA.
Sekarang jika ditanya, masyarakat suka yang orator hebat, atau pekerja hebat? Kalau orator hebat itu banyak. Tapi kalau pekerja hebat, itu langkah.
POKA dalam beberapa kesempatan mengakui bahwa dirinya merupakan orang baru di politik. Menurut POKA, dirinya sama sekali tidak tertarik dengan dunia politik. Namun, karena keterpanggilan untuk mengabdi di tanah kelahirannya dirinya siap, meski diakuinya tidak terlalu lihai bicara. Namun dia memiliki prinsip, pandai bicara itu bagus, jika diikuti dengan perbuatan. Apa yang diomong harus sama dengan yang diperbuat. “Kalau saya jadi bupati, saya akan turun di antara masyarakat. Cari tahu apa yang mereka butuhkan, dan laksanakan sesuai permintaan rakyat. Saya tak mau umbar janji dan jual program yang akhirnya tidak terpenuhi. Saya tidak mau berhutang kepada rakyat Talaud,” ungkap POKA dengan mata berkaca-kaca.
Inti komunikasi POKA adalah kejujuran, konsistensi, kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Gaya komunikasi POKA kerap menggunakan bahasa hati dan merakyat. Itulah yang menyebabkan dirinya kian dikenal dan dicintai rakyat. Bagaimana dirinya mampu membuat masyarakat yang sudah menentukan pilihan dari jauh hari kepada kandidat bupati yang lain, bisa berbalik arah dan bergabung dengan kubu WT-HP.
Sebagai penutup, dalam ilmu pendidikan anak, dijelaskan bahwa anak tak peduli apa yang orang tua katakan, tapi anak memperhatikan apa yang orang tua lakukan. Jadi bagaimanapun anak diberi pidato tentang kejujuran, kalau orang tua masih sering sembunyi kalau ada tamu, maka anak sulit untuk jujur. Bagaimanapun anak diceramahi tentang etika, kalau orang tua masih sering berdebat bahkan berkelahi didepan anaknya, maka sang anak sulit untuk beretika.
(***)












