MANADO, MANADONEWS –
2018 menjadi tahun politik Sulawesi Utara (Sulut). Bumi nyiur melambai akan menghelat pemilihan kepala daerah (Pilkada) di enam kabupaten/kota. Masing-masing, Kabupaten Kepulauan Talaud, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Kabupaten Bolmut, Kabupaten Mitra, Kota Kotamobagu dan tentunya Kabupaten Minahasa. Jelang pelaksanaan 27 Juni 2018, pesta demokrasi ini tentunya tak jauh dari hiruk pikuk.

Perdebatan dan saling klaim antar pendukung marak terjadi. Ironisnya, perdebatan acap kali berujung saling menjatuhkan dan menghina satu sama lain di media sosial. Atas kondisi ini, sejumlah masyarakat ikut merespon. Termasuk, dari kalangan pemilih pemula. Adalah Gevila Theresa Rori. Belia kelahiran Tomohon, 13 Juni 2001 ini ikut berkomentar terkait panasnya tensi politik di lingkungannya.
Putri kedua dari dua bersaudara pasangan Youke Rori dan Vonny Kaparang berpesan, agar masyarakat tidak merusak persaudaraan karena memiliki pilihan yang berbeda dalam pilkada serentak 2018. “Pilihan boleh beda, tapi jangan sampai pertemanan kita rusak,” ungkap gadis pemilik hobi fotografi dan traveling ini.
Menurut Essa, sapaan akrab siswi SMK Kesehatan Gloria Manado, jangan sampai karena perbedaan pilihan jadi tidak rukun. “Ini-kan pesta demokrasi. Namanya juga pesta, ibaratnya ada acara kita makan sama-sama. Makan sesuai selera. Jangan harus paksa kita makan ini, teman harus makan itu,” beber dara cantik ber-zodiak gemini ini.
Kader muda Pemuda Katolik Minahasa ini menyentil terkait beberapa debat di medsos yang seringkali membuat dahi berkerut. “Sebagai pemilih pemula, saat ini saya belum bisa melihat secara spesifik program pasangan calon kepala daerah dalam rangka mensejahterakan masyarakat. Hal ini terlepas dari kesibukan tim-tim di medsos yang hanya sibuk saling menjatuhkan dan saling menghina,” tutur Essa yang juga warga Desa Warembungan.
Meski begitu, ada sisi positif yang diambilnya. “Positifnya, menjalin kontak dengan orang-orang yang memiliki opini berbeda dapat melatih kesabaran dan kemampuan kita untuk berdebat dan meyakinkan orang lain dengan cara-cara yang beradab. Dan yang paling penting, memutuskan tali silaturahmi, membenci orang lain atas dasar opini yang berbeda, dan memperlakukan orang lain yang berbeda dengan sikap tidak hormat adalah memang hal-hal yang diinginkan dari para politisi dengan sistem politik yang mereka bangun,” tandasnya.
(YOUNGKY)












