Buka Puasa Bersama, Mantiri Tekankan Bahaya Eksklusivisme

Wakil Walikota Bitung, Maurits Mantiri, dalam acara buka puasa bersama komunitas Warung Kopi memberikan ‘Tausiah’ soal bahaya eksklusivisme. (jeff)

 

KOTA BITUNG, Manado News – Sikap ekslusif dan kurang mau berinteraksi sosial yang saat ini melanda gaya hidup dan perilaku orang Indonesia, menjadi salahsatu penyebab munculnya pertikaian antar sesama.

“Perilaku ekslusif seperti ini harus diwaspadai Indonesia ke depan, karena munculnya pertikaian bukan karena faktor agama. Tapi lebih banyak karena tidak timbul lagi interaksi sosial di antara warga,”  kata Wakil Walikota Bitung, Maurits Mantiri, ketika berbicara dalam acara buka puasa bersama komunitas Forum Persaudaraan Warung Kopi (Forsa Warkop) di Resting Area pusat kota Bitung, Kamis (8/6-2017).

Mantiri memaparkan, bibit eksklusivisme ini sebenarnya tanpa disadari sengaja diciptakan sendiri oleh masyarakat akibat pengaruh kemajuan teknologi. Sebagai contoh ia menyebut dahulu anak-anak kecil setiap pulang sekolah,  selalu ada kesempatan berinteraksi sosial dengan teman sekampung seperti bermain layangan atau sepakbola di lapangan desa atau kelurahan.

Sekarang, hal seperti ini sudah hilang. Anak-anak jarang bergaul dan lebih banyak main ‘game’  komputer atau handphone di rumah usai pulang sekolah. Akibatnya antar warga sekampung sudah tidak saling kenal dan suatu saat bisa terjadi perkelahian. “Tren akan datang akan terjadi perkelahian antar geng, karena antar warga tidak ada lagi interaksi sosial”, ujar Maurits kuatir.

Baca Juga:  Kata RD, Kebersamaan harus Selalu Dijaga

Menyikapi masalah ini, Wakil Walikota Maurits Mantiri mengungkapkan pemerintah Kota Bitung selain memberikan pencerahan dan himbauan, juga akan kembali menghidupkan sarana untuk masyarakat dapat berinteraksi sosial,  seperti penyediaan lapangan sepakbola di kelurahan dan fasilitas tempat bermain bagi anak-anak di setiap kampung.

Ia berharap dengan adanya sarana dan fasilitas tersebut, warga terutama generasi muda sejak dini sudah dibiasakan hidup bermasyarakat dan berinteraksi sosial, sehingga akan muncul rasa persaudaraan antar sesama.

Salah satu Guru Besar Insititut Teknologi Bandung, Profesor Doktor Senator Nur Bahagia yang ikut hadir dalam acara buka puasa ini, mengatakan masyarakat Indonesia sebenarnya harus belajar melihat lebih dulu persamaan jika berinteraksi dengan warga lain. Jangan sebaliknya melihat perbedaan yang ada. “Jika kita sudah lebih dulu melihat perbedaan, dari hal kecil akan terus menjadi besar. Ini pasti ujung-ujungnya akan tidak baik”, tekannya.

Dosen teknik sistem logistik ITB ini juga mengingatkan,  rasa aman dan nyaman menjadi faktor paling utama untuk kemajuan suatu daerah. Investor ataupun turis, mau datang apabila mereka menilai daerah tersebut aman dan nyaman.

Baca Juga:  Gudang Tidak Memiliki Ijin di Minut Satpol PP Akan Menertibkan

Senator Nur Bahagia sebenarnya datang khusus ke kota Bitung untuk melakukan seleksi calon dosen di Bitung Logistic Community Colege (BLCC), namun diundang oleh Wakil Walikota untuk ikut berbuka puasa di Forsa Warkop.

Pada kesempatan itu, Wakil Walikota juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan produk makanan yang diperdagangkan di Bitung sebagai kota wisata. Bagi dia, higienitas makanan termasuk dalam kategori halal. Satu produk makanan jika sudah busuk tentu tidak halal karena tak layak untuk dikonsumsi manusia.

Komunitas Forsa Warkop merasa terhibur karena kata-kata sambutan yang disampaikan Wakil Walikota Bitung dan Profesor Senator,  ibarat ‘Tausiah’ atau siraman rohani dalam bulan Ramadhan.

Komunitas Forsa Warkop Bitung terbilang unik karena terdiri dari berbagai latar belakang profesi dari pegawai negeri sipil, swasta, pengusaha hingga buruh dengan beragam pemeluk agama. (Jeff)

Pilgub 9 Desember 2020


Siapakah Gubernur Pilihan Anda?
3039 votes

This will close in 10 seconds