LIPI Nilai Calon Tunggal Presiden Dapat Merusak Demokrasi

Jakarta, manadonews – Pengamat senior dari lembaga ilmu pengetahuan Indonesia(LIPI) Prof Siti Zuhroh mengatakan, Presidential Threeshold (PT) 20% yang berujung presiden calon tunggal itu merusak tatanan demokrasi bahkan prinsip musyawarah mufakat yang dianut Demokrasi Pancasila.

“Kalau sampai Deadlock pembahasan Revisi UU Pemilu, yang diartikan memakai UU Pemilu 2014 untuk pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 maka berarti demokrasi nasional kita Stagnan bahkan Setback, kemunduran,” tandasnya dalam diskusi di ruang Press Room DPR RI Jakarta, Selasa(11/7).

Menurutnya kemunculan banyak calon presiden justru mewujudkan demokratisasi Indonesia dimana para bakal calon presiden (Bacapres) itu akan terseleksi oleh alam sesuai penilaian rakyat Indonesia. “Jadi, biarkan saja mengalir. Justru kalau banyak Bacapres malah menguntungkan petahana/incumbent karena memecah raihan suara bacapres yang ada sedangkan incumbent solid,” tukasnya. Yang pasti,
deadlock untuk siapa? “harus kita tanyakan secara kritis, siapapun yang memerintah harus kita kritis, jadi kalau memang deadlock hanya kepentingan untuk segelintir pihak untuk elit tertentu dan sebagainya , mestinya kita juga harus luruskan,” sergahnya seraya menambahkan jangan sampai kita berdemokrasi tetapi demokrasi nya tidak substantip.(sjamzu)

Baca Juga:  Ranperda APBD-P Sulut 2019 Disetujui