Donor Darah Perlu Agar Badan Sehat

Walikota Bitung, Max J Lomban (kanan) memuji kepada Dandim (tidur) yang ikut donor darah yang digelar para Ikatan Wartawan Online (IWO) Bitung, Sabtu pagi. (foto.jeff)
Walikota Bitung, Max J Lomban (kanan) memuji kepada Dandim (tidur) yang ikut donor darah yang digelar para Ikatan Wartawan Online (IWO) Bitung, Sabtu pagi. (foto.jeff)

 

KOTA BITUNG, MANADO NEWS – Masyarakat tidak perlu takut atau enggan mendonorkan darahnya, karena justru dengan rutin melakukan donor darah, tubuh seseorang akan makin sehat, sebab sel darahnya akan menjadi baru. “Ketika kita rutin mendonorkan darah, justru sehat yang kita dapatkan. Karena darah lama di dalam tubuh akan dikeluarkan, kemudian sel darah baru akan muncul”, jelas dokter Calvin Wuisan, Direktur Unit Transfusi Darah Cabang (UTDC) Kota Bitung, Sulawesi Utara, Sabtu pagi (19/8-2017).

Bacaan Lainnya

Calvin mengemukakan hal itu,  dalam acara donor darah sukarela yang digelar Ikatan Wartawan Online (IWO) bekerjasama dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan dan PMI cabang Bitung, di pelataran pertemuan di rumah dinas Walikota Bitung, Pakadoodan.  Berhasil dikumpulkan 32 kantong darah masing-masing sebanyak 350 cc.

Dokter Calvin mengakui, sampai kini memang masih ada stigma yang salah sehingga ada orang enggan ikut donor darah. Salahsatunya adalah ketakutan terhadap jarum donor darah.

Padahal menurutnya, justru jarum suntik obat jauh lebih sakit ketimbang jarum untuk donor darah. “Jarum untuk donor darah hanya ditusuk di kulit,  kemudian langsung ke pembuluh darah. Sedangkan jarum suntik obat harus masuk ke daging lebih dalam sehingga lebih sakit”, jelasnya.

Baca Juga:  Walikota Tatong Pimpin Apel Kerja Perdana Tahun 2019

Komandan Kodim 1310 Bitung, Letkol.Inf. Deden Hendayana, SE, mengakui menjadi lebih sehat setiap kali ia mendonorkan darah. “Donor darah,  makin sehat, makin segar. Artinya darah yang kita keluarkan ada regenerasi lagi. Reproduksi darah kita jadi baru. Makanya jika ada donor darah,  yang penting saya ada waktu,  pasti ikut”, kata Dandim.

Dandim sendiri sudah tak bisa menghitung berapa kali ia ikut menyumbangkan darah. “Sudah sering. Saya donor saja. Setiap ada HUT TNI pasti kita ada kegiatan donor darah. HUT kesatuan, HUT Kodim, saya selalu ikut donor”, paparnya.

Sedangkan Rudi Sumlang (46 tahun),  pegawai di Pengadilan Negeri Kota Bitung yang sudah lebih dari 57 kali menyumbangkan darahnya, mengungkapkan tubuhnya akan terasa kurang sehat jika terlambat mendonorkan darahnya. “Badan saya akan terasa mulai sering panas,  jika sudah lebih dari 3 bulan tidak mendonorkan darah”, ujar  pria yang sudah mendonorkan darah sejak tahun 1994.

Menurut Rudi, sebagai pendonor darah sukarela, ia bangga darahnya dapat menyalamatkan nyawa seseorang. Bahkan beberapa tahun lalu,  tengah malam saat tidur lelap, ia pernah dibangunkan untuk mendonorkan darah kepada seorang ibu yang melahirkan. “Ada ibu hamil mau operasi, tiba-tiba mereka datang ke rumah tengah malam. Saya harus bangun dan rela memberikan darah untuk menolong orang”, kata pria yang sudah mendapat sejumlah penghargaan sebagai pendonor darah dari Menteri Kehakiman,  Dirjen, Walikota Manado dan Walikota Bitung.

Baca Juga:  Majukan Sektor Pariwisata, Gubernur Olly Terima 3 Kapal Rede dari Presiden Jokowi

Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) kota Bitung, Khouni Rawung, istri Walikota Bitung,  juga mengajak masyarakat agar tidak perlu takut dalam memberikan darahnya.  Ia menjamin proses pengambilan darah yang dilakukan petugas Unit Donor Darah (UDD) kota Bitung terhadap para pendonor, sangat aman karena dilakukan oleh tenaga ahli di bidangnya serta mengikuti prosedur ketat. “Tidak usah takut mendonorkan darah, karena PMI dan UTDC kota Bitung bekerja dengan prosedur tetap yang sudah baku, sehingga aman”, kata Khouni.

Khouni mengungkapkan para petugas donor darah PMI Bitung bukan tenaga medis biasa. “Mereka ini adalah jebolan sekolah khusus Teknisi Transfusi Darah dengan standar Diploma. Jadi pengambilan darah dari pendonor, tidak bisa sembarangan, karena harus mengikuti protap”, paparnya.

Siapa saja biasa menjadi pendonor darah. Hanya saja ia harus memenuhi sejumlah persyaratan baku sebagai pendonor. Sebelum mendonorkan darah, seseorang harus mengisi formulir data diri dan riwayat kesehatan. Kemudian tekanan darahnya harus normal. Minimal 100/80 atau maksimal 140/90. “Kurang atau lebih dari itu tidak bisa. Pendonor juga harus menjalani pemeriksaan HB. Jika HB kurang dari 12,5 pasti tidak dibolehkan”, kata Khouni.

Seseorang baru bisa menyumbangkan darahnya kembali,  setelah tiga bulan sejak ia mendonorkan darah. Ini jadi standar, karena kualitas darah baru seseorang akan normal dalam kurun waktu tersebut.

Baca Juga:  Panpel Matangkan Persiapan Pawai Paskah Anak Kota Manado

Khouni Rawung berterima kasih kepada para pendonor, karena sudah rela membagi darah untuk sesama. Ia berharap ada kelompok atau komunitas lain dapat tergerak hati,  untuk mengikuti jejak para wartawan online menyumbangkan darah demi kemanusiaan. “Sebenarnya sesuai standar WHO, jika sekitar 2 persen dari jumlah penduduk suatu kota/daerah rela memberikan darahnya,  itu sudah baik. Tetapi kenyataannya di kota Bitung masih tetap kekurangan darah. Kebutuhan darah kota Bitung setiap bulan adalah 200 kantong, namun darah yang diperoleh dari kegiatan donor masih kurang”, ungkapnya.

Seringkali jika ada permintaan darah spesifikasi khusus, stok di UTDC tidak cukup. Sehingga terpaksa pihak PMI Bitung sering menggalang donor darah dari keluarga pasien maupun teman pasien. Bahkan dari komunitas khusus yang sudah dihimpun PMI seperti komunitas donor darah A, B, AB dan O. “Tapi komunitas darah yang paling urgen yang tetap standby adalah Rhesus negatif. Itukan langka. Mereka tersebar di Sulawesi Utara. Jika ada pasien tertabrak dan membutuhkan darah, kami langsung menjemput pendonor tersebut”, ungkapnya.

Ikut dalam donor darah sukarela ini, para wartawan media online/siber (IWO),  Kodim 1310 Bitung, TNI-AL/Marinir,  Polresta Bitung, LSM Ketenagakerjaan, Kantor Kesehatan Pelabuhan, PMI dan Dinas Kesehatan Bitung. (Jeff)

Pos terkait