Pembangunan Jalan Tol di Airmadidi Terhambat, 27 Waruga Dipindahkan

Airmadidi, ManadoNews – Pembangunan jalan tol Manado-Bitung sampai sekarang masih tumpang tindih, karena di beberapa kelurahan dan Desa di Kabupaten Minahasa Utara (Minut) masih banyak peningalan pra sejarah suku Tounsea. Pasalnya, dilokasi pembangunan jalan tol ada 27 Waruga situs budaya suku Tounsea yang masuk dalam lokasi pembangunan jalan tol.

Dalam pemindahan waruga tersebut diadakan upacara ritual oleh adat “I Tutul Sumaup” dan “Mera Waruga” oleh para tonaas-tonaas atau pemuka adat Tounsea.

“Waruga Tinontoan adalah waruga pertama suku Tounsea yang ada di Airmadidi. Karena pemindahan ini bukan di tanah adat, tapi tanah patisan (rumah pribadi, red), “ucap Taroreh,di lokasi pemindahan waruga, Rabu (31/1).

Ia menambahkan, bahwa waruga yang ada dilokasi sudah rusak dari jaman dulu dan sampai sekarang ada dari petani yang tidak tahu ada waruga. Maka, setiap melakukan pertanian, petani memakai pajeko (alat pertanian,red) tidak tahu sudah menindik situs budaya tersebut.

“Memang dari jaman permesta waruga tersebut sudah di jarah isinya untuk mengambil barang yang ada di dalam waruga, “ungkap Taroreh.

Baca Juga:  Para Tamu Festival Pulau Sara'a Disambut Upacara Adat

Disisi lain, Ketua Masyarakat Adat Pakasaan ne Tounsea (Mapatu), Stenly Lengkong mengatakan, ada 2 lokasi waruga yang akan dipindahkan.

“Namun untuk saat ini baru 17 waruga di satu lokasi yang kami pindahkan. Sisanya 9 waruga di lokasi lain atau masih berdekatan dengan lokasi pertama, itu nanti akan kami pindahkan juga,” jelasnya.

Dalam melakukan pemindahan waruga, dikatakan Lengkong, itu harus dilakukan secara adat. Ini guna menghormati leluhur-leluhur warga Tounsea.

“Upacara atau ritual adat ini kami laksanakan dari malam hingga siang hari. Ini untuk meminta petunjuk dari leluhur kita dan juga guna menghormati mereka,” tambahnya.

Sementara itu, Lurah Airmadidi Bawah, Simson Pran mengatakan, pemindahan waruga ini sudah dikoordinasikan dengan Balai Arkeologi dan juga Pemkab Minut melalui instansi terkait.

“Lokasi waruga itu merupakan asal mulai kampung pertama di Airmadidi Bawah dan oleh warga meminta agar tidak dipindahkan jauh. Semuanya sudah dikoordinasikan dengan pemerintah terkait, baik Balai Arkeologi dan juga pemerintah daerah,” tambahnya.(aso)