PILKADA SULUT: Pilwako Tomohon, PDIP Siapkan Figur Potensial, Ada Nama Gabriella Eman

TOMOHON, manadonews.co.id – Pemilihan Wali Kota (Pilwako) Tomohon digelar 2020. Atmosfer politik di Kota ‘Bunga’ semakin meningkat. Sejumlah partai politik (parpol) mulai pasang kuda-kuda. Dominasi Partai Golkar diprediksi bakal mendapat ujian berat.

Teranyar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) siap menjegal partai berlambang pohon beringin tersebut. Namun, pertarungan partai besutan Megawati Soekarnoputri di Tomohon tak akan mudah.

Untuk itu, tokoh-tokoh potensial disiapkan. Sejumlah figur internal masuk bursa. Tidak ketinggalan, figur eksternal ikut digodok. Salah satu nama mencuat, Ketua DPC PDIP Tomohon Caroll Senduk mulai ramai dibicarakan. Caroll saat ini menjabat Wakil Ketua DPRD Kota Tomohon.

Nama lain yang santer dikabarkan dibidik PDIP adalah Gabriella Eman. Gaby sapaan akrabnya merupakan putri sulung Wali Kota Tomohon Jimmy Feidie Eman (JFE). Selain itu, ada Sherly Joan Tamuntuan (SJT) dan Lucky Aldrin Senduk. Kakak tertua Ketua TP PKK Sulut Rita Tamuntuan mulai mengejutkan publik Kota Bunga.

SJT digadang-gadang bakal dipinang PDI Perjuangan. SJT baru-baru ini mendapat dukungan dari sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dari tokoh mayarakat, adat, budaya, milenial dan politisi. Kelompok tersebut mendeklarasikan diri siap mendukung serta berjuang penuh untuk SJT. Sementara Lucky merupakan salah satu Wakil Ketua DPD PDIP Sulut.

Baca Juga:  Sukseskan Pesona Minahasa 2017, Tumundo: Akan Dibentuk Tim Kreatif

“Keempat nama itu berpeluang,” ujar sumber internal PDI Perjuangan Sulut. Bahkan, kata sumber, pihaknya sudah menyiapkan paket. “Ada wacana paket. Misalnya, paket Caroll – Gaby. Paket lainnya Carrol-SJT,” tutur sumber.

“Bisa juga, SJT-Caroll. Ada lagi paket SJT – Lucky Senduk. Tinggal lihat bagaimana ke depan,” lanjut sumber. Menurut sumber, paket SJT-Caroll diambil dari perwakilan wilayah. “SJT-Caroll maupun Caroll-SJT merupakan perwakilan dari selatan dan utara. Caroll dari utara, SJT dari selatan,” beber sumber. Sama halnya dengan Gabriella Eman yang merupakan utusan wilayah tengah. “Otomatis, jika Gabriella, pasti akan mendapatkan dukungan penuh dari sang ayah yang notabene orang nomor 1 di Tomohon saat ini,” sebut dia.

“Opsi lain, SJT-Lucky Senduk sebagai gabungan dari golongan, protestan dan katolik. SJT dari protestan, sementara Lucky Senduk adalah Panglima Legio Christy (LS) Keuskupan Manado. Di mana, Kota Tomohon merupakan basis LC,” kata sumber.

Sementara itu, Pengamat Politik Dr Ferry Liando mengatakan, nama-nama tersebut mulai berkembang di masyarakat. “Nama-nama yang dimunculkan PDIP dan Golkar memang sudah lama menonjol. Reputasi mereka tidak bisa diragukan,” kata Liando.

Baca Juga:  Hoax, Kabar Gubernur Olly Main Jet Ski di Pulau Lihaga saat Pandemi Covid19

Meski begitu, Liando menilai masih terlalu dini memprediksi peta kekuatan Pilkada 2020. “Sepertinya masih prematur memprediksi peta kekuatan Pilkada 2020. Apalagi membahas figur yang paling potensial,” ujarnya.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi Manado menuturkan, satu-satunya rujukan yang bisa dibaca pada hasil pemilu 2019 adalah parpol-parpol mana yang akan mengusung calon kepala daerah dan wakil kepala daerah.

“Undang-undang nomor 10 tahun 2016 tentang Pilkada menyebutkan syarat parpol yang bisa mengsung adalah parpol yang memperoleh 20 persen kursi dari jumlah total DPRD. Atau 25 persen suara hasil pemilu. Jika angka itu tak terpenuhi maka suatu parpol dapat bergabung dengan parpol lain untuk mencukupi syarat itu,” sebut Liando.

Namun demikian, kata Liando, membaca kekuatan masing-masing parpol masih amat sulit untuk berspekulasi. Alasannya, parpol yang memiliki suara dan kursi terbanyak hasil pemilu tidak bisa seolah-olah dideklarasikan sebagai pemenang pilkada nantinya.

“Cara membaca kekuatan masing parpol di pilkada adalah siapa figur yang diusung sebagai calon, calon siapa berpasangan dengan siapa. Sulut itu punya latar belakang etnik, suku dan agama sangat variatif. Sehingga sangat berbahaya jika satu parpol tidak membagun pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah hanya dalam satu variatif,” jelas Liando.

Baca Juga:  PDAM Tak Akan Tagihkan Rekening Ke Bukan Pelanggan

Liando menambahkan, kemungkinan pasangan calon yang bisa mendominasi jika terjadi ‘perkawinan’ dua variatif. Misalnya Minahasa-Nusa Utara, atau Minahasa-Bolmong, atau kristen-muslim, atau Protestan-Katolik/pantekosta atau penggabungan Variasi lain. “Contohnya di Pilgub Sulut. Pak Olly dan Pak Steven walaupun masih dalam satu parpol namun keduanya merupakan kombinasi tonsea-Tondano-Tountemboan. Sama hanya di Pilwako Manado. Pak Vicky dan Pak Mor yang merupakan kombinasi GMIM dsn GPdI. Sehingga membaca peta kekuatan parpol akan mudah terbaca ketika pasangan calon wali kota dan wakil wali kota sudsh ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU),” tukasnya.

Terpisah, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Tomohon Noldy Lengkong menegaskan pihaknya punya mekanisme dalam penetapan calon. “Tentunya ada proses penjaringan, kemudian disaring mulai dari administratif di DPC sampai ke DPP. Intinya kita punya mekanisme sendiri,” kata Lengkong.

“Saat ini kita masih fokus untuk pelaksanaan Kongres ke-5 di Bali. Selebihnya, nanti DPD yang akan mengaturnya, ditetapkan DPP,” tandasnya.

(YOUNGKY)

Pilgub 9 Desember 2020


Siapakah Gubernur Pilihan Anda?
353 votes

This will close in 10 seconds