Ini Klarifikasi Gugus Tugas Covid-19 Kota Tomohon terkait Prosesi Pemakaman Pasien PDP

TOMOHON, MANADONEWS.CO.ID – Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Tomohon memberikan klarifikasi atas sikap keluarga pasien PDP yang meninggal di lokasi pemakaman, yang sempat divideokan.

Gugus Tugas melalui juru bicara Yelly Potuh, SS menjelaskan kronologis pasien PDP yang menginggal tersebut.

Dituturkan Yelly, pasien masuk salah satu Rumah Sakit Swasta di Kota Tomohon karena kecelakaan lalu lintas tanggal 15 April. Karena mengalami cedera kepala berat dan terjadi penurunan kesadaran, jam 12 siang pasien dirujuk ke RSUP Prof. Kandou, Malalayang.

“Sebagaimana yang disampaikan oleh Juru Bicara Satgas Covid-19 Provinsi Sulawesi Utara dr. Steven Dandel, sesuai dengan protokol yang baru semua orang dengan sakit apapun, dengan atau tidak adanya riwayat perjalanan, dan masuk ke RSUP Kandou tetap di-screening dengan foto thorax,” tukasnya.

Apabila foto thorax menggambarkan bahwa yang bersangkutan ada peradangan paru, maka pasien itu akan ditetapkan sebagai PDP.

“Dari hasil foto thorax didapati gambaran foto yang menunjukkan bahwa pasien mengalami Pneumonia Viral. Sesuai kriteria dan melalui SOP, pasien diberikan status PDP,” terangnya.

Baca Juga:  Workshop Manajemen Penyelenggaraan Festival Platform Indonesiana, Ini Harapan Eman

Namun sekitar pukul 19.00 Wita, pasien meninggal.

“Dengan status PDP, kata Yelly, jenasah ditangani menggunakan protokol penanganan jenazah Covid-19,: ucapnya.

Imbuhnya, jenazah tiba di pemakaman pukul 02.00 dinihari dan proses pemakaman dilakukan sampai kurang lebih pukul 04.00 subuh.

“Di lokasi pemakaman dikoordinir oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Setdakot Tomohon Drs Toar Pandeirot, Lurah setempat, pihak Dinas Kesehatan, Kepolisan, Koramil, BPBD dan Pol PP. Tapi karena keterbatasan APD yg hanya diperuntukkan bagi 4 orang, hal ini sangat membuat pelaksanaan pemakaman meskipun selesai dengan baik tidak maksimal, hanya sesuai kemampuan 4 petugas ini, sementara waktu pemakaman pada dini hari,” tandasnya.

Pukul 04.00 subuh, lanjut Yelly, sebagai manusia biasa ke-empat petugas dengan APD ini memiliki batas kemampuan dan harus berhenti kemudian memutuskan nanti akan dimaksimalkan pagi hari. Tenaga lain yang ingin membantu tapi tidak menggunakan APD tidak direkomendasikan oleh Dinkes.

“Pagi hari keluarga lebih dulu tiba di pekuburan dari pada petugas dan pemerintah. Membuat keluarga kecewa dengan pekerjaan pemakaman yang kurang maksimal,” ujarnya.

Baca Juga:  OD-SK Hadiri Rembuk Nasional Indonesia Bersatu

Menanggapi sikap keluarga, Asisten 1 Toar Pandeirot bersama pemerintah kelurahan setempat, Pol PP, Dinkes dan Kepolisian sudah memaksimalkan penimbunan kubur, dan sudah berjumpa dengan keluarga.

“Keluarga telah diberi penjelasan tentang situasi dan kondisi yang ada serta diedukasi oleh pihak pemerintahdan Kepolisian) sekaligus permohonan maaf jika ada tugas yang kurang maksimal dalam penanganan jenazah. Keluarga pun telah menerima dan memahami situasi dan prosedurnya,” tutur Yelly.

Keluarga pun, katanya lagi, menyatakan tidak menyalahkan pemerintah. Mereka memang masih emosional, sangat terbawa emosi dengn peristiwa duka yang dialami.

“Sudah ada permohonan maaf juga dari keluarga, sekaligus mengucapkan banyak terima kasih keada pemerintah yang sudah menjalankan tugas dengan sangat baik,” ucapnya.

Yunita Rotikan

Pilgub 9 Desember 2020


Siapakah Gubernur Pilihan Anda?
648 votes

This will close in 10 seconds