Mengukur Peluang Menang Vonnie Panambunan dan Tetty Paruntu, Ferry Liando Contohkan Pilkada DKI Jakarta

Manado – Vonnie Anneke Panambunan (VAP) dan Christiany Eugenia Paruntu (CEP) memiliki kelebihan masing-masing.

Vonnie Panambunan akan diusung Partai Nasdem tidak perlu lagi mencari dukungan Parpol lain untuk memenuhi syarat ambang batas pencalonan.

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 mensyaratkan Parpol atau gabungan Parpol harus memiliki kursi sebanyak 20 persen dari jumlah total anggota DPRD atau memiliki suara hasil Pemilu sebesar 25 persen.

Demikian pendapat Dosen Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Ferry Daud Liando, terkait kontestasi politik Pilkada Sulut 9 Desember 2020 mendatang.

“Partai Nasdem memenuhi syarat karena memiliki 9 kursi,” ujar Ferry Liando kepada wartawan Manadonews.co.id di Manado, Kamis (9/7/2020).

Namun kendala Vonnie Panambunan, menurut Ferry Liando, tidak mengakar di Partai Nasdem, karena sebelumnya Vonnie Panambunan tercatat sebagai kader Partai Gerindra.

Kader yang telah lama membesarkan Partai Nasdem dari awal tentu tidak siap jika calon yang diusung Nasdem di-import dari Parpol lain.

“Padahal, ada figur-figur potensial Nasdem yang telah banyak mengeluarkan energi untuk membesarkan Parpol itu sejak awal,” tukas Liando.

Baca Juga:  Pemprov Sulut telah Kirim 15 Calon Pjs Kepala Daerah, Satu Nama jadi Perhatian

Hambatan lainnya, struktur kelembagaan di Partai Nasdem masih lemah.

“Partai Nasdem memang punya banyak politisi di legislatif dan eksekutif seperti beberapa bupati dan walikota, tapi mereka tidak dibesarkan oleh Nasdem. Sehingga, samangat mereka belum tentu serius,” tutur Ferry Liando

Sementara, Christiany Eugenia Paruntu biasa disapa Tetty Paruntu, kata Liando, hingga kini masih terkendala persyaratan pencalonan.

“Komposisi Partai Golkar di DPRD Sulut hanya punya 7 kursi. Artinya, syarat ambang batas belum terpenuhi. Butuh 2 kursi tambahan agar syarat terpenuhi,” jelas Liando.

Namun demikian, tambah Ferry Liando, popularitas Vonnie Panambunan dan Tetty Paruntu tidak bisa disepelekan.

Kebiasaan Vonnie Panambunan membagi-bagikan uang, di manapun ia pergi walaupun dilarang undang-undang karena tidak mendidik, menunjukkan dia sangat serius.

“Begitu pula, Tetty Paruntu yang aktif membagun komunikasi politik dengan berbagai pihak membuktikan beliau sangat serius, sehinga keduanya patut diperhitungkan,” tandas Liando.

Namun jika posisi keduanya sebagai penantang petahana maka akan ada sandungan atau ancaman. 

Sehingga, menurut Ferry Liando, suara pemilih yang bukan pemilih petahana akan terbagi pada dua calon ini.

Baca Juga:  PILGUB SULUT: Duet OD-SK Banjir Dukungan Maju Pilgub 2020

Padahal, satu-satunya cara yang memudahkan untuk mengimbangi kekuatan petahana adalah jika terjadi head to head antara incumbent dengan satu penantang.

Pengalaman di Pilkada DKI Jakarta. Pada putaran pertama, Ahok dengan mudah mengalahkan Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono.

“Kenapa demikian? Karena pemilih-pemilih penantang Ahok, suaranya terpecah antara memilih Anies Baswedan dan Agus Harimurti,” jelas Ferry Liando.

Tapi, ketika masuk putaran kedua terjadi head to head antara Ahok dengan Anies Baswedan, Agus Harimurti tereliminasi karena tidak masuk dua besar perolehan suara.

“Ahok akhirnya kalah karena pemilih-pemilih penentang Ahok menyatu memilih Anies,” pungkas Ferry Liando.

(YerryPalohoon)


Pilgub 9 Desember 2020


Siapakah Gubernur Pilihan Anda?
431 votes

This will close in 10 seconds