Peristiwa Kudatuli Menurut Para Pelaku Sejarah Ini

Manado – Reformasi 1998 tak lepas dari peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli) yakni penyerbuan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta.

Memperingati peristiwa Kudatuli, sejumlah tokoh dan pelaku sejarah berkumpul memberikan pesan moral kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia.

“Pesan moral bahwa ada yang terlewatkan dalam sejarah bangsa yang seharusnya jadi tonggak sejarah reformasi politik di Indonesia yakni Sabtu kelabu 27 Juli 1996,” jelas Ferry Sangian kepada wartawan Manadonews.co.id di rumah kopi K.8 Sario, Senin (27/7/2020) sore.

Ferry Sangian atas nama pelaku sejarah peristiwa Kudatuli, mendesak kepada Presiden Joko Widodo menetapkan 27 Juli Hari Reformasi Indonesia.

“Setelah peristiwa Kudatuli terjadi akumulasi gerakan rakyat melakukan perlawanan terhadap rezim Orde Baru,” tandas Sangian sambil menambahkan peringatan Kudatuli tahun ini mengambil tema ‘Jiwa-jiwa yang Membisu’.

Senada dikatakan Olden Kansil.

“Kudatuli itu membela PDI dan Ketua Umum Defacto, Megawati Soekarno Putri. Kudatuli bukan eksklusif PDI tapi milik rakyat jadi sejarah perlawanan terhadap Orde Baru,” tukas Kansil.

Baca Juga:  Pilwako Manado, Belum Ada Paslon yang Memenuhi Berkas Persyaratan Calon

Hal sama dikatakan Jimmy Tindi, tokoh sekaligus salah-satu pendiri Partai Rakyat Demokratik (PRD).

“Perlu diingat, tanpa Kudatuli tak ada reformasi 98,” tukas Ketua PRD Sulut ini pada pertemuan yang dihadiri Benny Londah, Harold Lumempouw, Jopie Komaling dan sejumlah pelaku sejarah lainnya.

Diketahui, memperingati peristiwa Kudatuli ke 24 tahun 2020 ini, para pelaku sejarah Kudatuli bersama kader PDI Perjuangan akan lakukan pemasangan lilin di eks Kantor DPD PDI di Jalan Martadinata nomor 8, Kota Manado.

(YerryPalohoon)

Pilgub 9 Desember 2020


Siapakah Gubernur Pilihan Anda?
3510 votes

This will close in 10 seconds