Pembangunan Pantura Jawa Ringankan Krisis Ekonomi

Jakarta – Pengembangan di pantai utara Pulau Jawa menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kemaslahatan masyarakat yang tinggal di pesisir pantai. Kawasan ini juga terbilang akses utama yang banyak dilalui berbagai kendaraan, entah itu kendaraan logistik maupun kendaraan pribadi. Pembangunan ini akan meningkatkan perekonomian daerah dan perekonomian nasional.

Mengingat pentingnya pengembangan Pantura Jawa dalam perekonomian negara, maka pemerintah memasukkan pengembangan Kawasan Pantura Jawa ini sebagai salah satu Major Project dalam RPJMN 2020-2024. Beberapa project yang akan dibangun di antaranya pembangunan tanggul untuk penanggulangan banjir, pengelolaan air baku, sanitasi dan pengembangan kawasan.

Menurut Menteri PPN/Bappenas, Suharso Monoarfa, lima kawasan yang akan dibangun yakni Jabodetabek, Cirebon, Pekalongan, Semarang-Demak dan Surabaya. Daerah-daerah tersebut diperkirakan akan mengalami defisit air baku sekitar 163m3/detik di 2024. Defisit air ini akan berpengaruh terhadap suplai air jika kawasan ini akan dijadikan sebagai kawasan industri.

“Rencananya akan ada penambahan 13 kawasan industri seluas 38.377 ha dan membutuhkan suplai air sekitar 67 m3/detik sehigga tidak mengandalkan air tanah sebagai air baku,” jelas Suharso Monoarfa melalui pesan tertulis kepada wartawan, Minggu (23/8/2020).

Baca Juga:  Revolusi Mental berdasarkan Tiga Pilar Pembangunan Terangkat di Rapat Gugus Tugas Nasional

Program prioritas Major Project di kawasan Pantura Jawa ialah penyediaan air baku. Sejauh ini ada 4 program yang akan dijalankan yakni percepatan air baku pemanfaatan bendungan, pengembangan sumber air alternatif dengan rain water garvesting dan recycle water, percepatan penyediaan air baku perpipaan, dan persiapan pembangunan Waduk Muara. Pembangunan waduk ini juga menjadi skema dalam penanggulangan banjir di kawasan pesisir Pantura Jawa.

“Selain pembangunan waduk, hal terpenting yang juga akan dikerjakan ialah pembangunan proyek jalan tol Semarang-Demak. Pembangunan tol ini diharapkan dapat menunjang pemulihan ekonomi dan sebagai pendukung pembangunan kawasan industri di wilayah Panturan Jawa. Proyek ini diharapkan bisa menurunkan waktu tempuh Semarang-Demak,” jelas Monoarfa.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas kebutuhan anggaran untuk percepatan pelaksanaan pembangunan pada 2021-2022 sebesar Rp. 38 Triliun.

“Pembangunan kawasan Panturan Jawa memang memerlukan pembangunan yang terpadu, semuanya tidak bisa dipisahkan. Kemudian, besar harapan pemerintah agar proyek pembangunan secara terpadu di kawasan Pantura ini dapat meringankan krisis ekonomi yang sedang dilanda oleh Indonesia akibat pandemi Covid-19. Pemulihan ekonomi sewajarnya tetap kita lakukan agar negara dapat tetap stabil, namun begitu penerapan protokol kesehatan tetap¬† harus dijalankan dan tidak boleh diabaikan,” pungkas Suharso Monoarfa. (***/YerryPalohoon)

Baca Juga:  Revisi Kode Data Wilayah Kotamobagu Dibahas Tahun Depan


Pilgub 9 Desember 2020


Siapakah Gubernur Pilihan Anda?
5576 votes

This will close in 10 seconds