Pendidikan

Peran Orang Tua Dalam Mendampingi Anak di Masa Pandemi Covid-19

×

Peran Orang Tua Dalam Mendampingi Anak di Masa Pandemi Covid-19

Sebarkan artikel ini
Eunike Mandolang S.Pd., M.Pd (foto:ist)

Eunike Mandolang S.Pd., M.Pd (foto: istimewa)

MANADO – Pasien Covid-19 di Indonesia semakin hari semakin bertambah. Berdasarkan update data Nasional terhitung tanggal 18/2/2021, virus ini menginfeksi 1,263.299 orang, dengan jumlah kematian 34.152 jiwa dan jumlah pasien yang sembuh 1.069.005 (covid19.go.id, 2021). Hal ini tentu menjadi perhatian masyarakat khususnya elemen pemerintah.

MANTOS

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini, di antaranya adalah dengan mengeluarkan PP Nomor 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19 yang berakibat pada pembatasan berbagai aktivitas termasuk di antaranya sekolah. Sementara itu aktivitas Belajar Dari Rumah (BDR) secara resmi di keluarkan melalui Surat Edaran Mendikbud Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran covid-19.

Kebijakan ini memaksa guru dan siswa untuk tetap bekerja dan belajar dari rumah mulai dari jenjang Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi (kemdikbud.go.id, 2020). Kebijakan ini tentunya tidak hanya berdampak pada guru dan siswa selama Belajar Dari Rumah, namun juga pentingnya optimalisasi peran orang tua dalam pelaksanaan belajar dari rumah.

Pandemi covid-19 yang melanda dunia lebih setahun ini berdampak terhadap perubahan aktifitas belajar- mengajar. Sejak maret 2020 aktifitas pembelajaran dilaksanakan secara daring (online learning) menjadi sebuah pilihan kementerian pendidikan dan kebudayaan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 semakin meluas.

Dari peristiwa pandemi Covid-19 yang terjadi, menunjukkan semakin pentingnya peran keluarga dalam mengasuh, merawat dan juga mendidik anak. Peristiwa ini mengembalikan fungsi awal keluarga sebagai pusat segala kegiatan, tempat terjadinya pendidikan yang utama untuk anak. Peran orang tua dalam mendampingi kesuksesan anak selama belajar di rumah menjadi sangat penting dalam mendampingi putra-putri selama pandemi ini berlangsung. Pada awalnya orang tua berperan dalam membimbing sikap dan keterampilan mendasar anak, namun perannya menjadi meluas yaitu sebagai pendamping pendidikan akademik dari anak. Prabhawani (2016) menyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan merupakan tanggung jawab orang tua dan masyarakat sekitar, tidak hanya tanggung jawab lembaga pendidikan saja.

Berbicara tentang peran orang tua, tidak terlepas dari keluarga. Keluarga dilihat dari fungsinya yakni memiliki tugas dan fungsi perawatan, dukungan emosi dan materi, serta pemenuhan peranan tertentu. Sejalan dengan hal tersebut, Muchtar (dalam Lutfatutatifah et al., 2015) mengugkapkan bahwa keluarga merupakan bagian penting dari unit masyarakat. Keluarga memiliki peran penting dalam merawat, mendidik , melindungi dan mengasuh anak. Pengasuhan orang tua terhadap anak dapat berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan perilaku anak itu sendiri. Apabila terdapat kesalahan pengasuhan maka akan berdampak pada anak saat sudah dewasa.

Keluarga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak, yang merupakan tempat utama dan pertama dalam memulai kehidupannya. Di dalam keluarga nilai, agama, moral, serta sosial dapat dilakukan lebih efektif ketimbang dilakukan di institusi lainnya. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 1994 Tentang Penyelenggaraan Pembangunan Keluarga Sejahtera, 1994 dinyatakan bahwa keluarga memiliki fungsi cinta dan kasih sayang, perlindungan, pendidikan, nilai, agama, moral, serta social. Lebih spesifiknya, peran orang tua yang tercermin selama terjadinya masa pandemi Covid-19 akan di paparkan dibawah ini.

Menjaga dan Memastikan Anak untuk Menerapkan Hidup Bersih dan Sehat

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya selalu dalam keadaan sehat, apalagi dengan kondisi saat ini yaitu pada masa pandemi Covid-19 tentu saja orang tua menjadi semakin khawatir akan hal itu. Salah satu yang dapat di lakukan orang tua adalah mengingatkan anak nya untuk selalu menerapkan pola hidup sehat dan bersih agar terhindar dari berbagai penyakit dan dengan mengajarkan anak untuk mengikuti protokol kesehatan. Sejalan dengan yang diungkapkan oleh Rompas et al., (2018) yang menyatakan bahwa orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam hal mendidik anak, salah satunya adalah menjadi dan memberikan contoh yang baik untuk anak, selain itu memberikan peringatan dan nasihat pada anak juga merupakan hal penting yang harus dilakukan orang tua agar selalu hidup bersih kepada anak.

… menjaga kesehatan anak, memastikan anak selalu sehat dan tetap menjaga pola hidup sehat, menjaga Imun anak… (kutipan wawancara FM)

… keluar rumah harus pakai masker, berjemur dibawah matahari pagi, mengurangi kegiatan berkumpul dengan orang lain… (kutipan wawancara EM)

Menurut Graha (2007) perlakuan orang tua yang selalu memberikan pengertian dan latihan kepada anak tentang kebersihan dan kerapihan, akan dapat menjadikan anak selalu menjaga kebersihan diri. Tidak hanya mengingatkan untuk menjaga pola hidup sehat, peran orang tua juga adalah untuk menjaga dan memastikan agar anak tetap sehat, serta memastikan bahwa anak menerapkan pola hidup sehat dengan benar.

Orang tua memberikan kasih sayang kepada anak nya tidak hanya dalam bentuk pendidikan dan kepercayaan, tetapi juga penting untuk selalu mengontrol perkembangan anaknya. Seperti yang kita tahu anak bisa lebih cepat belajar dengan meniru, sehingga penting keteladanan dan pembiasaan yang di berikan oleh pengajarnya, khususnya orang tua. Peran orang tua di rumah sangatlah penting dalam mengajarkan dan melatih kepada anak untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, dengan memberikan contoh sederhana seperti: selalu mencuci tangan setelah beraktifitas di luar, hal tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kesadaran mengenai kebersihan lingkungan. Selain itu peran orang tua untuk memastikan anak mengonsumsi makanan yang bergizi, tidur teratur, rajin mencuci tangan, dan selalu menerapkan pola hidup sehat.

Mendampingi Anak dalam Mengerjakan Tugas Sekolah

Untuk mencegah mata rantai penularan virus corona di sekolah dikeluarkan kebijakan pelaksanaan pendidikan di masa darurat penyebaran corona virus (COVID-19) oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui surat edaran pada tanggal 24 Maret 2020, tentang kebijakaan “belajar dari rumah (BDR)”. Hal ini mengandung arti bahwa orang tua sementara waktu menggantikan peran guru dalam mendampingi anak belajar di rumah. Dari data hasil pengamatan dilapangan dapat diketahui bahwa peran orang tua selama masa BDR ini lebih pada membantu mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru di sekolah kepada siswa. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan BDR yang diberikan guru lebih pada pemberian tugas kepada anak.

… menjadi orang tua sekaligus guru dalam membantu anak mengerjakan tugas-tugas dari guru (kutipan wawancara SP)

…Kita pe anak masih kelas 1 SD, dan banyak skali tugas yang perlu bimbingan orang tua…(kutipan wawancara FM)

Kondisi tersebut menjadi menarik untuk dikaji, apa sebenarnya makna belajar dari rumah itu? Apakah memiliki makna yang sama dengan mengerjakan tugas atau PR di rumah?. Dengan pemberian tugas seperti itu apakah artinya peran pendampingan belajar anak dapat dikatakan berhasil?. Orientasi pendampingan yang terfokus pada pengerjaan tugas sekolah menunjukkan bahwasannya orientasi pendidikan di Indonesia masih menekankan pada aspek perkembangan kognitif atau pencapaian akademik sehingga perkembangan afektif dan psikomotor dapat dikatakan tidak menjadi prioritas sehingga kurang terstimulasi. Dalam proses pembelajaran di rumah (BDR) diharapkan guru serta orang tua dapat mewujudkan pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik atau kognitif nya saja, tetapi dapat mewujudkan pendidikan yang bermakna, dibutuhkan saling pengertian dari pemerintah, sekolah, serta masyarakat dan ketiga elemen tersebut harus saling bersinergi. Demikian pula jika kita tinjau dari tujuan pendidikan nasional yang diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3, yakni “pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Melibatkan seluruh komponen pendidikan untuk menjamin pelaksanaan proses pembelajaran dengan suasana yang berbeda yaitu di rumah saja, merancang kurikulum dan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi pandemi covid-19, memberikan dorongan motivasi dan apresiasi kepada guru, siswa dan orangtua, melakukan pelatihan daring mengenai pembelajaran jarak jauh (PJJ), mengirimkan laporan tugas harian anak-anak kepada dinas pendidikan melalui daring, melakukan komunikasi tidak hanya satu arah saja tetapi multi arah untuk mensterilisasi satuan pendidikan adalah hal yang mutlak dilakukan pada kondisi pandemi ini. Posisi orang tua menjadi partner yang sangat penting dalam keberhasilan pendidikan anak-anaknya sehingga perlu dibekali dengan panduan-panduan yang sesuai dengan kebutuhan anak saat ini. Seperti misalnya, panduan mengajarkan perilaku hidup bersih dan sehat, keterampilan menyelesaikan masalah, berfikir kritis, kolaborasi dan komunikasi, literasi informasi media dan teknologi, kreativitas dan inovasi serta ICT yang merupakan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan di abad 21. Tentu saja proses pendampingan orang tua terhadap anak selama melaksanakan BDR akan membantu pencapaian perkembangan optimal putra putrinya.

… menjadi pendidik bagi anak saat di rumah, seperti mendampingi dalam belajar, membantu ketika ada kesulitan pada anak …(kutipan wawancara CP)

… belajar mandiri dengan orang tua berupa tutorial-tutorial dari sekolah via hp atau online untuk dikerjakan oleh anak kita di rumah, lalu dibimbing dan diarahkan…(kutipan wawancara RL)

Kutipan wawancara di atas menunjukkan bahwa pada dasarnya upaya pendampingan dapat dilakukan melalui berbagai macam cara seperti di antaranya membantu ketika ada kesulitan, mengadakan pengajaran atau bahkan melakukan eksplorasi pembelajaran via tutorial secara online dan untuk mengoptimalkan hal tersebut orang tua perlu mendapatkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan khususnya dalam literasi ICT yang tetap terfokus pada kognitif, afektif, dan juga psikomotorik serta optimalisasi seluruh aspek perkembangannya.

Melakukan Kegiatan Bersama Selama di Rumah

Terdapat berbagai ragam kegiatan yang dilakukan bersama antara orang tua dan anak selama pandemi ini berlangsung, seperti membersihkan rumah, memasak, bermain, dll. Momen ini memberikan kesempatan bagi orang tua dan anak untuk mempererat ikatan satu dengan lainnya, sejalan dengan hal ini UNICEF, (2020) mengungkapkan bahwa terdapat beberapa cara agar para orang tua dapat membantu proses pengasuhan dimasa pandemi ini, salah satunya adalah dengan membuat waktu yang berkualitas bersama dengan anak, contohnya untuk anak usia SD adalah dengan melibatkan anak dalam pekerjaan rumah seperti membersihkan rumah, hal tersebut bisa dijadikan permainan yang seru. Pada titik ini, orang tua berperan sebagai pengembang berbagai kegiatan yang bisa dilakukan bersama dengan anak.

Kualitas waktu yang dimiliki orang tua dan anak selama masa pandemi dapat dimanfaatkan untuk membangun kebersamaan antar anggota keluarga, Harmaini (2013) menyatakan bahwa kebersamaan orang tua sangat diperlukan karena mereka yang memahami akan tingkatan perkembangannya serta hal-hal yang mereka dibutuhkan, kebersamaan dengan anak dimulai sejak anak belum lahir hingga mereka remaja, dengan disesuaikan kebutuhan dari masing-masing anak. Kesibukan sehari-hari sering mengakibatkan waktu bersama anak menjadi terbatas. Bahkan di hari libur, ketika semua anggota keluarga berkumpul, masing-masing sibuk dengan aktivitasnya. Dengan demikian peran orang tua sebagai pengembang kegiatan dapat dilakukan bersama dengan melibatkan anak-anak dalam menentukan variasi kegiatan yang akan dilakukan sehingga anak-anak terhindar dari perasaan jenuh dan bosan. Orang tua harus saling membantu satu sama lain, bersama dengan anak, kemudian mengajak anak agar berpartisipasi dalam pekerjaan rumah, seperti membereskan mainan, membereskan tempat tidur, menyiram tanaman, dan lain-lain. Dengan melakukan kegiatan bersama dengan anak selain mengusir kebosanan juga dapat mengajarkan keterampilanketerampilan baru kepada anak.

Menciptakan Lingkungan yang Nyaman untuk Anak

Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017) bahwa peran orang tua ketika di rumah adalah membuat pembiasaan, menciptakan lingkungan yang aman, nyaman dan menyenangkan, serta mengasuh dengan positif. Memberikan rasa aman dan nyaman pada anak dapat dilakukan orang tua dengan membangun kelekatan dengan anak seperti memberikan kasih sayang melalui dekapan, gendongan, pelukan, rangkulan, dan belaian dari orang tua.

Menciptakan lingkungan yang nyaman, peran keluarga salah satunya yaitu membuat suasana belajar yang menyenangkan selama di rumah, menumbuhkan budi pekerti, dan prestasi. Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, (2017) hal tersebut penting dilakukan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak dan mempererat hubungan antara orang tua dan anak, serta memberikan dorongan agar anak percaya diri dan untuk menciptakan lingkungan tidak hanya aman untuk anak, tetapi juga nyaman serta menyenangkan, dan dapat dilakukan dengan cara melakukan kegiatan bersama, seperti bermain, mengerjakan pekerjaan rumah sesuai kemampuannya, mengobrol, dan melakukan hal yang disenangi anak.

Menjalin Komunikasi yang Intens dengan Anak

Peran orang tua salah satunya adalah menjalin komunikasi yang baik dengan anak. Menjalin komunikasi yang dilakukan oleh orang tua dan anak menjadi hal yang sangat penting karena dengan begitu akan mempererat hubungan antara orang tua dengan anak.

Melalui komunikasi, orangtua akan dapat mengetahui keinginan anak serta orang tua dapat menyampaikan yang diinginkan atau harapan serta dukungan kepada anak. Dengan begitu anak akan semakin terbuka kepada orang tua, begitupun sebaliknya orang tua akan semakin terbuka kepada anaknya, hal tersebut dapat membuat suasana keluarga yang hangat dan nyaman.

Komunikasi yang positif akan membangun pengasuhan positif dalam keluarga, yang ditunjukkan dengan mendengarkan dengan penuh perhatian serta fokus terhadap pembicaraan. Komunikasi dapat dikatakan efektif apabila dalam kegiatan komunikasi komunikator menghindari kesalahan saat berkomunikasi khususnya pada saat proses mendidik anak (Sofyan, 2019). Ketika bermain, berlangsung juga kegiatan mendengarkan dan mengobrol, dengan begitu komunikasi positif akan terjalin antara orang tua dan anaknya. Menurut Raraswati (dalam Hatimah, 2016) menyatakan bahwa salah satu peran keluarga adalah menciptakan lingkungan yang menyenangkan untuk belajar di rumah, serta menjalin hubungan dan komunikasi hangat dan penuh kasih saying bersama anak. Dengan begitu maka anak akan merasa nyaman, aman, dan menyenangkan berada di lingkungan keluarga.

Bermain Bersama Anak

Bermain bersama anak jadi aktivitas yang paling sering dilakukan, khususnya pada orang tua yang memiliki anak usia sekolah dasar. Hal tersebut menunjukkan hakikat dasar dunia anak, yakni bermain. Anak dapat bermain sambil belajar, atau belajar sambil bermain. Belajar tentang sesuatu melalui kegiatan bermain, dan bermain juga salah satu bagian dari pertumbuhan dan perkembangan anak yang sangat penting. Dunia anak adalah bermain, melalui bermain, dapat menuntun perkembangan anak yang cerdas, ceria dan selalu sehat. Sebagian besar anak-anak menggunakan waktunya untuk bermain, baik itu bermain sendiri maupun dengan temannya.

Data dilapangan menunjukkan bahwa area bermain yang dieksplorasi selama pandemi adalah di dalam ruangan dan juga di luar ruangan. Pada keluarga yang masih memiliki akses ke luar ruangan seperti halaman rumah dapat dimanfaatkan orang tua untuk bermain bersama seperti bermain ayunan, menanam bunga, main air, dll., sementara kegiatan bermain di dalam rumah lebih banyak dilakukan dengan menggunakan mainan yang ada seperti pesawat, kereta, mobil-mobilan, dll demikian juga kegiatan menonton tv dan bermain gadjet juga menjadi aktivitas bermain yang sering dilakukan.

…anak-anak pun diberi kebebasan untuk bermain…… bermain dengan gadget. (kutipan wawancara EM)

…anak biasanya bermain ayunan, nanam tanaman, Kejar- kejaran dihalaman rumah, kalau di dalam rumah biasanya main mobi-mobilan, pesawat, kereta, nonton TV… tapi bermainnya ya interaksinya terbatas hanya dengan keluarga saja…(kutipan wawancara SP)

Kegiatan bermain bersama akan mendorong anak-anak untuk berperilaku positif sesuai dengan kebutuhan dan harapan anak, dan diharapkan hubungan yang terjalin saat bermain bersama akan secara konsisten dapat mencegah perilaku bermasalah serta sebagai salah satu cara membangun dan mempertahankan suasana keluarga yang positif (Bluth & Wahler, 2011). Kebersamaan dan keakraban dalam keluarga akan membangun pengasuhan positif, yang mana didalamnya mengandung dimensi kasih sayang (compassion), yang didefinisikan sebagai keinginan untuk mewakili emosi seseorang dalam meringankan penderitaan (Lazarus dan Lazarus, 1994, dalam Duncan et al., 2009). Pola pengasuhan positif pada dasarnya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar anak seperti kasih sayang, rasa aman dan rasa nyaman.

Menjadi Role Model bagi Anak

Orang tua merupakan pemimpin di dalam keluarga, di mana orang tua adalah seseorang yang paling dewasa di antara anggota keluarga lainnya. Dalam struktur keluarga, anak-anak akan mengikuti dan mencontoh perilaku orang tua. Rakhmawati (2015) menyatakan bahwa anak akan meniru perilaku orang tuanya karena anak melihat hal tersebut baik itu yang positif ataupun yang negatif, hal yang ditiru oleh anak contohnya meniru kebiasaan, pergaulan orang tua, perilaku, ataupun aktivitas sehari-hari yang dilakukan orang tua. Dengan begitu orang tua menjadi sumber pertama anak untuk belajar karena pada dasarnya anak memiliki dorongan untuk meniru suatu pekerjaan, baik itu dari orang tua maupun dari orang lain (Taubah, 2016).

Dalam pengasuhan orang tua berperan untuk membimbing dan mendidik anakanaknya agar dapat menjalankan kehidupan bermasyarakat. Sejalan dengan hal tersebut, Jannah (2012) mengemukakan bahwa melalui pengasuhan dapat membentuk perkembangan moral pada anak. Untuk membentuk perkembangan moral yang baik, maka diperlukannya peran model yang baik pula yang dicontohkan sehari-hari di rumah. Peran orangtua sebagai role model akan mendorong anak-anak berperilaku positif sesuai harapan, dan mencegah perilaku bermasalah dikemudian hari.

Memberikan Pengawasan pada Anggota Keluarga

Fungsi pengawasan dilakukan orang tua terhadap pola perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan pelaksanaan kegiatan belajar anak. Peran pengawasan menunjukkan bahwa dalam keluarga, orang tua merupakan subsistem terkait interaksi orang tua dengan anak, yang di dalamnya berperan untuk melindungi, membesarkan dan mendisiplinkan anak (Pratiwi et al., 2018). Sejalan dengan hal itu, disebutkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2013 (dalam Puspitawati, 2018: 135), bahwa fungsi keluarga adalah untuk melindungi dengan menumbuhkan dan memberikan rasa aman dalam keluarga baik secara fisik, ekonomi, dan psikososial, serta kehangatan. Bentuk dari melindungi anggota keluarga di sini, orang tua sekaligus berperan sebagai pengawas anak-anaknya dari hal-hal yang membuat anak tidak aman ataupun yang lainnya.

Peran pengawasan merupakan salah satu cara untuk melindungi anggota keluarga. Peran ini berkaitan dengan dimensi pemahaman dan penerimaan untuk tidak menghakimi, serta melibatkan perhatian penuh dari berbagai atribusi dan harapan yang dibuat orang tua berkaitan dengan persepsi interaksi pengasuhan (Duncan et al., 2009). Persepsi interaksi pengasuhan yang positif terjadi ketika adanya pemahaman dan penerimaan antara anak dengan orang tua sehingga memberikan rasa aman untuk anak.

Membimbing dan Memberi Motivasi Kepada Anak

Kegiatan belajar dari rumah (BDR) yang dilakukan anak-anak selama pandemi berlangsung memunculkan beragam kondisi diantaranya adalah jenuh dan menurunnya semangat anak-anak dalam belajar. Seperti yang disebutkan dalam penelitian Nurkholis (2020) bahwa dampak dari situasi pandemi Covid-19 pada peserta didik adalah kejenuhan dan kebosanan. Dalam hal ini peran orang tua adalah membimbing dan memberikan motivasi kepada anak, agar anak tetap bersemangat dalam melakukan kegiatan di rumah. Pada dasarnya anak memiliki motivasi untuk melakukan suatu hal, apabila ia mendapatkan sebuah dorongan dari orang-orang terdekat seperti orang tua (Yulianti, 2014). Menurut Sardiman (Harahap, 2018) mengemukakan bahwa motivasi adalah serangkaian usaha dalam menciptakan kondisi tertentu untuk memberi rangsangan agar seseorang ingin melakukan sesuatu. Peran-peran ini dimunculkan oleh orang tua, sebagai salah satu cara pengasuhan orang tua terhadap anaknya. Sebagaimana dipaparkan oleh beberapa orang tua di bawah ini:

Orang tua perlu membaca situasi yang dialami oleh anak dan menunjukkan sikap responsiveness terhadap situasi tersebut. Responsiveness, meliputi kasih sayang, dukungan, dan kehangatan (Lestari, 2012). Dalam membimbing dan memberikan motivasi kepada anak, orang tua perlu fokus pada cara berkomunikasi antara orang tua dengan anak, komunikasi dapat dikatakan efektif apabila dalam berkomunikasi orang tua dengan anak mempunyai hubungan yang dekat, menyukai, memahami, dan terbuka satu sama lain (Jatmikowati, 2018). Selain itu, membimbing dan memberikan motivasi memerlukan kesadaran emosi yang merupakan dasar dari pengasuhan anak, karena emosi yang kuat memiliki pengaruh yang kuat dalam memicu proses berpikir secara otomatis termasuk di antaranya perilaku yang cenderung merusak (Duncan et al., 2009).

Melakukan Variasi dan Inovasi Kegiatan di Rumah

Peran sebagai pengembang kegiatan dilakukan orang tua dengan menyediakan beragam kegiatan dan melakukan berbagai inovasi saat BDR. Orang tua secara proaktif memanfaatkan peluang-peluang yang ada sebagai bagian dari pembelajaran termasuk diantaranya pemanfaatan teknologi informasi. Pemanfaatan teknologi informasi ini diharapkan dapat membantu anak-anak untuk mengembangkan potensi, minat, dan bakat yang dimiliki, sehingga dapat menghasilkan life skill secara sederhana dari teknologi tersebut (Hardiyana, 2016). Aplikasi yang dimiliki di HP ataupun fitur-fitur lain yang dimiliki gawai dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pembelajaran. Dalam hal ini variasi-variasi dan inovasi selama berkegiatan di rumah dilakukan dengan menyenangkan.

Variasi kegiatan yang dilaksanakan orang tua memang diperlukan untuk memelihara interaksi yang baik dalam pengasuhan anak. Variasi ini selain diperuntukan bagi anak, juga bagi orang tua itu sendiri. Untuk menjaga agar anak tetap belajar menyenangkan, maka orang tua juga perlu memiliki pengalaman atau kegiatan yang menyenangkan juga. Dalam pengasuhan positif, salah satu dimensi yang dapat menunjang keberhasilan peran orang tua di sini adalah peran kasih sayang dalam memenuhi kebutuhan dan kenyamanan pada anak yang tepat. Kasih sayang juga dimaknai sebagai emosi untuk memfasilitasi kerja sama dan menjadi benteng bagi orang yang lemah atau menderita (Goetz et al., 2010, dalam Sofyan, 2019).

Nama Penulis: Eunike Mandolang S.Pd., M.Pd

(Dosen Unika De La Salle)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari MANADO NEWS di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP Gacor Shop