Example floating
Example floating
BeritaDaerahNusa UtaraPemerintahanSitaroSosialSulawesi Utara

BNPB Minta Pemkab Sitaro Tetapkan Status Siaga Darurat

×

BNPB Minta Pemkab Sitaro Tetapkan Status Siaga Darurat

Sebarkan artikel ini
Gunung Ruang Pulau Tagulandang

SITARO, MANADONEWS.CO.ID – Seperti di kutip dari Harian Kompas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro menetapkan status Siaga Darurat.

Dengan status ini, BNPB bisa segera turun tangan dan memberi bantuan jika dampak erupsi Gunung Ruang meluas.

MANTOS MANTOS

Pemerintah Kabupaten Siau Tagulandang Biaro sebelumnya telah menetapkan status tanggap darurat menyusul peningkatan status Gunung Ruang dari Waspada menjadi Awas sejak Rabu (17/04/2024) malam.

FOTO: KANTOR BASARNAS MANADO

Wilayah yang berbatasan dengan Sitaro adalah Kabupaten Kepulauan Sangihe di sebelah utara dan Kabupaten Minahasa Utara di sebelah selatan. Sejumlah informasi dari Likupang, Minahasa utara, abu vulkanik sampai ke wilayah ini.

”Jika kondisi erupsi gunung terus meningkat, bukan hanya Sitaro yang harus menetapkan status tanggap darurat. Jika bisa, daerah atau kabupaten sekitarnya juga menetapkan status siaga darurat. Tak perlu tanggap darurat. Hal ini agar jika terjadi dampak meluas, BNPB bisa segera melakukan pengendalian dan memberikan bantuan,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto dalam rapat koordinasi daring terkait erupsi Gunung Ruang, Kamis (18/04/2024).

Pertemuan tersebut, di hadiri sejumlah pihak terkait di antaranya dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Pemprov Sulawesi Utara, Kodam XIII Merdeka, Polda Sulut, Lantamal VIII Manado, hingga Angkatan Udara dan Bandar Udara Sam Ratulangi, serta Kantor Basarnas Manado.

Suharyanto mengingatkan, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 yang menjadi payung hukum penanganan darurat saat terjadi bencana.

Terkait dengan kondisi Gunung Ruang yang sulit di prediksi, ia meminta semua pihak meningkatkan kewaspadaan.

Hal ini mengingat dalam kondisi darurat ada 11.000-an warga di Sitaro yang harus di evakuasi.

Tangkapan Layar Unggahan Warga

”Kondisi ini mengharuskan tim gabungan membentuk tim khusus evakuasi. Saat ini, secara bertahap, warga sudah di evakuasi, terutama yang berada dalam radius berbahaya. Memang, saat ini kondisinya mulai reda, tapi kita harus selalu bersiap untuk situasi terburuk,” katanya mengingatkan.

Sementara itu, Pangdam XIII Merdeka Mayjen TNI Candra Wijaya menyatakan telah menurunkan tim bantuan untuk warga. Hanya saja, karena kondisi yang belum memungkinkan, kapal tersebut terpaksa bersandar dulu di Pulau Siau.

”Kami kesulitan alat transportasi. Kami tak punya heli (helikopter). Saya sedang mempertimbangkan untuk meminta bantuan heli kepada panglima. Adapun kapal yang masih berada di Pulau Siau, kami lihat jika kondisinya memungkinkan, akan melanjutkan ke Tagulandang,” ujar Pangdam.

Sementara Pihak Lantamal VIII Manado, sudah mengerahkan kapal yang membawa bantuan makanan, obat-obatan, serta pasukan dan tim sukarelawan.

Hal yang sama juga di lakukan Polda Sulut dengan mengirim pasukan Brimob, Dokkes, Obat-obatan, hingga bahan makanan berupa beras, ikan kaleng, telur serta keperluan warga lainnya.

Saat ini akibat erupsi Gunung Raung, Bandara Sam Ratulangi di tutup sementara. Pihak Bandara Sam Ratulangi mengatakan, bandara terdekat dari Sam Ratulangi untuk keperluan pergerakan logistik berada di Pulau Siau yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Pulau Tagulandang.

Sejak erupsi pertama terjadi pada Selasa (16/4/2024) malam, sebagian warga di evakuasi ke tempat aman di daratan Pulau Tagulandang. Pasca di tingkatkannya status Gunung Ruang dari Waspada ke Awas, evakuasi terus di lakukan.

Sejak Kamis pagi, tim SAR menyisir pesisir Pulau Tagulandang untuk menjemput warga. Seusai letusan besar pada Rabu malam, banyak warga yang melakukan evakuasi mandiri.

”Namun, mereka kocar-kacir tak tentu arah. Karena itu, kami menggunakan perahu karet dan di kawal KN Bima Sena menyisir pesisir dan menjemput warga yang harus di evakuasi. Kapal dan pasukan juga kami pindahkan karena semalam jangkauan material dari gunung sudah melewati batas aman,” sebut Kepala Seksi Operasi Kantor Basarnas Manado Jandry S Paendong.

Gilbert Santoso (28), seorang warga Desa Boto, Kecamatan Tagulandang, mengatakan, hingga saat ini mereka masih berkumpul di lokasi pengungsian di wilayah tersebut.

”Kami mau evakuasi, tetapi belum tahu ke mana dan siapa yang menjemput. Jadi, untuk sementara kami di sini. Semalam saat letusan, rumah saya kena. Gentengnya sampai bocor-bocor kena batu. Sekarang situasi agak reda karena hujan turun,” katanya saat di hubungi pada Kamis siang.

(***/RiTa)

Baca Juga:  Pengukuhan Timpora, Ini Pesan Bupati Yasti
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *