Berita TerbaruBerita UtamaManado

Apa gunanya kita mengenang PERMESTA?

×

Apa gunanya kita mengenang PERMESTA?

Sebarkan artikel ini

Sejarah kita adalah meja perjamuan yang getir, di mana segelas visi otonomi harus diminum bersama sisa darah saudara yang tumpah, memaksa kita untuk mengenang bukan demi memuja luka, melainkan untuk membasuh dendam yang tertelan sunyi.

“Apa gunanya kita mengenang Permesta?” Pertanyaan itu terlontar di sebuah beranda senyap di Manado, mempertemukan dua cucu dengan warisan ingatan yang bertolak belakang.

MANTOS

Cucu pertama, dengan dada membusung, mewarisi cerita-cerita heroik tentang kakeknya yang menjadi perwira hutan, tentang keberanian melawan pusat, dan romantisme perjuangan bersenjata yang dianggapnya sebagai puncak kejayaan martabat lelaki Minahasa.

Baginya, Permesta adalah epos kepahlawanan yang harus dirayakan dengan gegap gempita, sebuah bukti bahwa darah Malesung tak pernah tunduk pada ketidakadilan meskipun harus dibayar dengan konfrontasi yang sangat berdarah-darah di medan laga.

Namun, di hadapannya, seorang cucu lain tertunduk dengan gumpalan sesak yang tak kunjung terucap karena suaranya selalu tenggelam oleh narasi besar sang pahlawan hutan.

Kakeknya bukanlah pelaku Permesta; sebaliknya, kakeknya adalah seorang sipil yang tetap setia pada Merah Putih, namun justru harus tewas di tangan saudaranya sendiri hanya karena tidak sepaham.

Baginya, Permesta bukanlah dongeng heroik, melainkan sebuah horor yang merampas sosok kakek dari pelukan neneknya, sebuah pengkhianatan terhadap nilai persaudaraan yang seharusnya lebih tinggi dari politik.

Ia merasa sejarah sangat tidak adil, di mana penderitaan keluarganya dianggap sebagai “ongkos perjuangan” yang tak layak dicatat dalam lembaran emas sejarah daerah.

Ketegangan di beranda itu adalah cermin dari perang batin yang lebih besar di hati setiap orang Minahasa yang mau jujur menatap masa lalunya yang kelam.

Di satu sisi ada kebanggaan akan visi otonomi, namun di sisi lain ada kisi-kisi pahit tentang bagaimana tetangga berubah menjadi algojo bagi tetangganya sendiri.

Kita dipaksa menelan kenyataan bahwa Proklamasi Permesta pada 2 Maret 1957 bukan sekadar maklumat politik, melainkan gerbang pembuka bagi tragedi “saudara makan saudara” yang mengerikan.

Mengenang peristiwa ini berarti harus berani mendengarkan kedua suara tersebut dengan porsi yang sama, tanpa harus saling membungkam atau saling merasa paling suci dalam berkorban.

Visi awal Permesta tentang keadilan ekonomi memang sangat memikat, sebuah impian agar hasil bumi Celebes tidak habis dikuras oleh Jakarta tanpa ada sisa untuk membangun sekolah atau jalan.

Namun, ketika visi itu diwujudkan lewat letusan senapan, yang terjadi bukan sekadar pembangunan yang tertunda, melainkan kehancuran tatanan sosial yang telah dirajut berabad-abad di tanah ini.

Bagi cucu sang korban, visi seindah apa pun tak akan pernah bisa menggantikan nyawa kakeknya yang melayang karena dituduh berkhianat oleh bangsanya sendiri.

Inilah luka yang seringkali terlupakan dalam pidato-pidato peringatan yang terlalu fokus pada aspek militer dan strategi perang, seolah nyawa manusia hanyalah statistik belaka.

Momen proklamasi itu seharusnya diingat bukan sebagai hari kelahiran pahlawan, melainkan sebagai hari pengingat akan kerapuhan sebuah persatuan jika dialog telah mati di ujung bayonet.

Kita harus mengenang bagaimana perasaan para ibu yang di dalam rumahnya terdapat dua anak laki-laki yang satu lari ke hutan dan yang satu tetap di kota mengenakan seragam tentara pusat.

Bisakah kita membayangkan hancurnya hati seorang ibu yang setiap malam berdoa agar kedua anaknya tidak saling bertemu di ujung bidikan senapan di tengah rimbunnya hutan Sulawesi?

Kenangan semacam inilah yang akan membuat kita sadar bahwa perang saudara tidak pernah menyisakan pemenang sejati, melainkan hanya menyisakan tumpukan dendam.

Banyak orang Minahasa yang menolak disebut “Meta”, karena istilah itu mengandung stigma pemberontak yang seolah-olah menghapus seluruh jasa orang Minahasa dalam mendirikan Republik Indonesia sebelumnya.

Namun, bagi cucu korban Permesta, sebutan itu juga menyakitkan karena seolah-olah menyatukan dirinya ke dalam kelompok yang telah menghancurkan hidup keluarganya tanpa pernah ada permintaan maaf.

Sejarah menjadi tidak adil ketika narasi heroik para pelaku menelan habis kesaksian pahit para korban yang kakeknya memilih jalan diam namun setia pada negara.

Kita butuh sebuah ruang ingatan di mana duka cucu korban tidak dianggap sebagai pengkhianatan terhadap semangat kedaerahan, melainkan sebagai bagian dari kejujuran sejarah yang harus diakui.

Perang batin antara kedua cucu ini adalah manifestasi dari luka sejarah yang belum sepenuhnya kering, sebuah borok yang hanya ditutup dengan kain indah narasi kepahlawanan semu.

Sejarah yang adil adalah sejarah yang berani mencatat bahwa di balik gemuruh mortir, ada pengkhianatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh orang-orang yang makan dari tanah yang sama.

Kita tidak boleh hanya mengenang barisan tentara yang gagah, tetapi juga harus mengenang tangisan di balai-balai desa saat seorang ayah dibawa pergi ke hutan dan tak pernah kembali.

Kejujuran dalam mengingat adalah langkah pertama menuju rekonsiliasi yang hakiki, di mana tak ada lagi cerita yang disembunyikan hanya demi menjaga martabat semu.

Mengapa kita harus mengenang Permesta?

Kita mengenangnya agar kita tahu betapa mahalnya harga sebuah fanatisme yang membutakan mata kita terhadap nilai-nilai kekeluargaan dan kasih sayang antar sesama saudara.

Kita mengenangnya agar sang cucu pelaku tidak menjadi arogan dengan cerita darahnya, dan agar sang cucu korban mendapatkan haknya untuk berduka secara terhormat di hadapan publik.

Sejarah bukanlah alat untuk membenarkan tindakan masa lalu, melainkan sebuah laboratorium besar untuk belajar agar kesalahan yang sama tidak terulang pada generasi yang akan datang.

Mengenang Permesta secara utuh berarti mengakui bahwa ada visi yang besar, namun ada juga dosa yang besar yang harus diakui secara ksatria.

Pahit memang ketika harus mengakui bahwa pahlawan di mata satu orang adalah penjahat di mata orang lain, terutama ketika keduanya hidup dalam satu rumpun keluarga yang sama.

Namun, inilah kenyataan Minahasa, sebuah tanah yang pernah robek namun berusaha menjahit dirinya kembali dengan benang-benang kesabaran dan kearifan lokal yang tersisa.

Kita tidak bisa menghapus masa lalu, namun kita bisa mengubah cara kita menceritakannya kepada anak cucu kita agar tidak ada lagi kebencian yang diwariskan melalui dongeng-dongeng pengantar tidur.

Setiap tetes darah yang tumpah di tanah Minahasa selama konflik tersebut, baik dari pihak Permesta maupun pihak Republik, adalah darah yang sama-sama berharga.

Bagi cucu pelaku, belajarlah bahwa keberanian kakekmu di hutan harus dibarengi dengan kerendahan hati untuk mengakui bahwa ada korban yang jatuh karena pilihan-pilihan politik tersebut.

Bagi cucu korban, ketahuilah bahwa kesetiaan kakekmu adalah pilar yang menjaga republik ini tetap berdiri, dan suaramu adalah pengingat penting agar kita tidak pernah lagi memuja kekerasan.

Pertemuan kedua perspektif ini akan melahirkan sebuah pemahaman yang lebih dewasa tentang apa artinya menjadi orang Minahasa dan apa artinya menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

Kita mengenang untuk memanusiakan kembali mereka yang selama ini hanya dianggap sebagai bidak dalam papan catur kekuasaan yang kejam di masa lalu.

Ingatan kolektif kita harus adil, tidak boleh ada yang dianaktirikan dalam catatan sejarah, karena setiap nyawa yang hilang memiliki nama, keluarga, dan harapan yang turut terkubur bersamanya.

Kita harus berani memasukkan hari proklamasi Permesta ke dalam kalender pengingat bukan untuk membangkitkan semangat separatisme, melainkan sebagai hari duka nasional atas kegagalan kita dalam berdialog sebagai saudara.

Biarkan sejarah menjadi guru yang keras, yang memaksa kita menelan kisi-kisi pahit agar kita tidak lagi mudah terprovokasi oleh janji-janji manis yang seringkali berakhir pada pertumpahan darah.

Dengan cara inilah, pertanyaan “apa gunanya mengenang” akan terjawab dengan sebuah komitmen untuk menjaga perdamaian yang sudah kita nikmati hari ini.

Cucu pelaku dan cucu korban harus bisa duduk bersama di satu meja, meminum kopi dari biji yang sama, dan mengakui bahwa keduanya adalah ahli waris dari sebuah sejarah yang retak.

Kesaksian yang selama ini tertelan oleh cerita heroik harus mulai dikeluarkan dari ruang-ruang gelap ingatan keluarga menuju cahaya terang pengakuan bersama secara jujur dan tulus.

Tak perlu lagi ada yang merasa lebih pahlawan, karena pada akhirnya semua adalah korban dari sebuah masa di mana nurani seringkali kalah oleh gemuruh ambisi dan ketakutan.

Inilah keadilan sejarah yang kita cari, sebuah ruang di mana semua orang boleh menangis tanpa rasa takut dan boleh bangga tanpa rasa bersalah yang berlebihan.

Marilah kita kenang Permesta sebagai sebuah pelajaran tentang batas-batas otonomi dan risiko dari sebuah perlawanan yang kehilangan arah kemanusiaannya di tengah jalan setapak hutan Sulawesi yang lembap.

Jangan biarkan istilah “Meta” menjadi senjata untuk saling merendahkan, melainkan jadikan itu sebagai pengingat akan masa sulit yang telah kita lalui bersama sebagai satu kaum.

Kita mengenang visi kemajuannya, namun kita juga meratapi efek saudara makan saudaranya dengan penuh rasa penyesalan yang mendalam agar hati kita tetap lembut dan penuh empati.

Hanya dengan cara inilah, martabat orang Minahasa akan pulih sepenuhnya, bukan karena kemenangan militer, tapi karena kemenangannya dalam mengelola luka dan memaafkan masa lalunya sendiri.

CATATAN ini adalah sebuah pelukan bagi kedua cucu tersebut, sebuah ajakan untuk berhenti saling menyalahkan dan mulai saling mendengarkan dalam keheningan yang penuh hormat kepada sejarah.

Kejujuran memang pahit, tapi ia adalah satu-satunya jalan menuju kemerdekaan batin yang sesungguhnya bagi generasi yang lahir jauh setelah peluru terakhir ditembakkan di hutan Tondano.

Kita mengenang karena kita tidak ingin menjadi bangsa amnesia yang mengulangi tragedi yang sama hanya karena terlalu takut untuk mengakui bahwa leluhur kita pernah saling menyakiti.

Semoga dengan mengenang secara adil, ruh persaudaraan “Mapalus” kembali menjadi kuat, menyatukan kembali serpihan-serpihan hati yang sempat terbelah oleh sejarah Permesta yang kelam namun penting ini.

Pada akhirnya, jawaban atas pertanyaanmu adalah: kita mengenang agar kita tetap menjadi manusia yang utuh, yang tahu dari mana kita berasal dan ke mana kita tidak ingin kembali lagi.

Kita mengenang agar cinta kita pada tanah kelahiran dan cinta kita pada negara tidak lagi harus dipertentangkan dalam sebuah peperangan yang hanya menyisakan nisan-nisan tanpa nama.

Jadikanlah kenangan ini sebagai pusaka yang menjagamu dari kebencian, sebuah kompas yang mengarahkan langkahmu menuju masa depan di mana kedamaian adalah panglima tertinggi bagi seluruh rakyat Sulawesi Utara.

Itulah gunanya mengenang Permesta untuk memastikan bahwa di masa depan, tidak akan ada lagi cucu yang harus bertanya dengan nada sedih tentang gunanya mengingat sejarah bangsanya sendiri.(Recky Runtuwene) 

Yuk! baca berita menarik lainnya dari MANADO NEWS di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP Gacor Shop

sbobet