TAHUNA, MANADONEWS.CO.ID — Perayaan Ekaristi Minggu, 19 April 2026 di Gereja Pusat Paroki Santo Yohanes Rasul Tahuna menjadi lebih dari sekadar rutinitas mingguan. Dalam homili yang jujur, tajam dan menyentuh, Pastor Paroki RD Jacob Adilang, Pr mengajak umat untuk bercermin apakah selama ini kita sungguh berjumpa dengan Kristus, atau hanya sekadar hadir?
Perayaan berlangsung khidmat dengan dukungan pengamanan jalannya liturgi oleh kelompok kategorial Legio Christi (LC) Keuskupan Manado di Paroki Tahuna yang turut ambil bagian dalam menjaga ketertiban ibadah.
Dalam homilinya, Pastor Jacob menegaskan bahwa banyak umat masih memandang Ekaristi sebatas kewajiban. Datang ke gereja karena “harus”, bukan karena “rindu”.
Padahal, menurutnya, Ekaristi adalah perjumpaan paling nyata dengan Kristus seperti yang dialami dua murid di jalan Emaus.
“Mereka mengenal Yesus saat Ia memecah roti. Itulah Ekaristi,” ungkapnya.
Ia mengingatkan, jika seorang Katolik tidak mencintai Ekaristi, maka ada yang perlu dipertanyakan dalam imannya.
Pastor Jacob mengangkat kisah dua murid Emaus sebagai cermin kehidupan umat hari ini. Kekecewaan, harapan yang tidak terpenuhi, bahkan rasa tidak puas terhadap keputusan dalam hidup semuanya adalah bagian dari perjalanan iman. Namun di situlah Tuhan hadir.
“Sering kali kita seperti mereka kecewa, putus asa. Tapi justru di saat itu Yesus berjalan bersama kita,” tegasnya.
Ia bahkan mengutip teguran Yesus yang keras: “Betapa lamban dan bodohnya kamu…” sebagai peringatan agar umat tidak larut dalam kekecewaan dan kehilangan iman.
Mengaitkan dengan peristiwa tahbisan sepuluh imam baru di Keuskupan Manado, Pastor Jacob menekankan bahwa panggilan imamat adalah rahmat, bukan prestasi manusia.
“Bukan karena hebat. Hanya satu persen usaha manusia, sembilan puluh sembilan persen adalah kemurahan Tuhan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua orang mendapat kesempatan berdiri di altar dan menghadirkan misteri keselamatan dalam Ekaristi.
Salah satu refleksi kuat yang disampaikan adalah tentang daya tahan Gereja Katolik yang telah melampaui dua ribu tahun sejarah.
Menurut Pastor Jacob, ini bukan semata karena organisasi yang kuat, tetapi karena Ekaristi.
“Ada sejarah yang tidak bisa dijelaskan manusia. Gereja bertahan karena Ekaristi. Karena Yesus sendiri tinggal di dalamnya,” katanya.
Ia mengutip sabda Yesus: “Di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
Di akhir homilinya, Pastor Jacob mengajak umat untuk mengubah cara pandang terhadap iman.
Datang ke gereja bukan lagi karena kewajiban, tetapi karena kerinduan.
Mengikuti misa bukan sekadar hadir, tetapi sungguh mengalami perjumpaan.
Ia juga mengajak umat untuk jujur di hadapan Tuhan membawah seluruh pergumulan hidup, tanpa topeng.
“Sebab Allah yang kita panggil Bapa adalah Dia yang mengenal kita sepenuhnya dan tetap mengasihi kita,” tukas Pastor Jacob Adilang.
(Riko)












