Berita TerbaruBerita UtamaManado

Membaca Pesan di Balik Kunjungan Jusuf Kalla ke Sulut

×

Membaca Pesan di Balik Kunjungan Jusuf Kalla ke Sulut

Sebarkan artikel ini

Kunjungan Jusuf Kalla ke Sulawesi Utara akhir pekan ini mungkin terlihat sederhana. Agendanya pun tidak berkaitan dengan proyek besar, investasi bernilai triliunan rupiah, ataupun pertemuan politik tingkat tinggi.

Ia datang untuk melantik pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) Sulawesi Utara periode 2026–2031 dan berbicara tentang kemanusiaan.

MANTOS

Namun, dalam kehidupan berbangsa, sering kali pesan penting justru tersimpan di balik peristiwa-peristiwa yang tampak biasa.

Jusuf Kalla adalah salah satu sedikit tokoh nasional yang pengaruh dan jejaringnya tetap kuat meski tidak lagi berada dalam lingkar kekuasaan formal.

Pengalamannya sebagai pengusaha, negarawan, pemimpin organisasi kemanusiaan, hingga dua kali menjabat Wakil Presiden Republik Indonesia membuat pandangannya masih diperhitungkan dalam berbagai isu strategis nasional.

Karena itu, ketika seorang Jusuf Kalla memilih hadir di Sulawesi Utara, publik tentu berhak melihatnya lebih dari sekadar agenda seremonial.

Menariknya, kunjungan tersebut berlangsung tidak lama setelah pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara.

Dalam perspektif pembangunan daerah, rangkaian peristiwa ini memberikan pesan yang cukup jelas: Sulawesi Utara tetap berada dalam perhatian tokoh-tokoh penting bangsa.

Pesan itu menjadi semakin relevan di tengah upaya pemerintah mendorong pemerataan pembangunan di kawasan timur Indonesia. Selama bertahun-tahun, diskursus pembangunan nasional masih didominasi wilayah Jawa dan sebagian Sumatera.

Kini, arah pembangunan mulai bergerak ke kawasan-kawasan strategis yang memiliki nilai geopolitik dan geoekonomi tinggi, termasuk Sulawesi Utara.

Provinsi yang berada di gerbang Pasifik ini sesungguhnya memiliki posisi yang tidak dimiliki banyak daerah lain.

Letaknya yang berbatasan langsung dengan jalur perdagangan internasional menjadikan Sulawesi Utara bukan lagi sekadar wilayah di ujung peta Indonesia, melainkan salah satu beranda terdepan bangsa.

Dalam konteks itulah, kehadiran Gubernur Yulius Selvanus mendampingi Jusuf Kalla memiliki makna tersendiri.

Di era otonomi daerah, keberhasilan seorang kepala daerah tidak hanya diukur dari kemampuannya mengelola birokrasi atau mengeksekusi program pembangunan. Yang tidak kalah penting adalah kemampuannya membangun kepercayaan, menjalin komunikasi, dan membuka akses seluas mungkin dengan berbagai kekuatan nasional yang dapat mendukung kemajuan daerah.

Sulawesi Utara membutuhkan lebih banyak jembatan menuju pusat-pusat pengambilan keputusan nasional. Daerah ini membutuhkan lebih banyak ruang dialog dengan para pemimpin, pelaku usaha, organisasi kemanusiaan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Setiap hubungan yang terbangun pada akhirnya dapat bermuara pada satu tujuan: mempercepat kemajuan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, kunjungan Jusuf Kalla seharusnya tidak dipandang semata sebagai agenda PMI. Lebih dari itu, kunjungan tersebut menunjukkan bahwa Sulawesi Utara sedang membangun posisinya sebagai salah satu simpul penting di Indonesia Timur.

Di hadapan pengurus PMI yang baru dilantik, pesan tentang gerak cepat kemanusiaan memang menjadi tema utama. Namun di balik pesan kemanusiaan itu tersirat sebuah pelajaran yang lebih luas.

Daerah yang maju adalah daerah yang mampu bergerak cepat, membangun kolaborasi, dan menangkap peluang ketika perhatian nasional datang menghampiri.

Sulawesi Utara saat ini berada pada momentum tersebut.

Perhatian dari tokoh sekaliber Jusuf Kalla tentu bukan tujuan akhir. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perhatian itu diterjemahkan menjadi kerja nyata, sinergi pembangunan, penguatan kapasitas daerah, dan lahirnya berbagai peluang baru bagi masyarakat.

Jika momentum ini mampu dikelola dengan baik, maka Sulawesi Utara tidak hanya akan dikenal sebagai Bumi Nyiur Melambai yang indah dan ramah.

Lebih dari itu, Sulawesi Utara berpeluang menjadi salah satu motor pertumbuhan baru Indonesia Timur, sebuah daerah yang tidak lagi berada di pinggiran, melainkan semakin dekat dengan pusat percakapan tentang masa depan Indonesia. (Jan)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari MANADO NEWS di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP Gacor Shop