Ada satu jenis kekuasaan yang tidak pernah masuk dalam undang-undang, tidak diatur dalam struktur organisasi partai, dan tidak pernah muncul dalam surat keputusan. Kekuasaan itu bekerja lewat telepon pribadi, obrolan santai, dan jaringan pertemanan.
Dan hari ini, salah satu wajah paling menonjol dari kekuasaan semacam itu adalah Raffi Ahmad.
Bukan karena ia menjabat. Justru karena ia tidak menjabat, ia bisa bergerak ke mana saja tanpa harus mempertanggungjawabkan langkahnya kepada siapa pun tidak kepada pemilih, tidak kepada parlemen, tidak kepada mekanisme audit apa pun yang mengawasi pejabat publik.
Itulah yang membuat sosok seperti Raffi lebih berbahaya untuk diperbincangkan daripada seorang menteri sekalipun: ia punya akses tanpa akuntabilitas.
Popularitas yang Berubah Jadi Mata Uang Politik
Selama bertahun-tahun, kita terbiasa melihat selebritas sekadar menjadi vote-getter—wajah yang dipasang di baliho untuk menarik suara, lalu ditinggalkan setelah pemilu usai. Tapi pola itu sudah berubah. Raffi bukan lagi sekadar selebritas yang dipinjam popularitasnya.
Ia telah menjelma menjadi simpul yang menghubungkan dunia hiburan, bisnis, media sosial, dan kekuasaan dalam satu jaringan.
Ketika Sule mengungkap cerita soal tawaran maju Pilkada dan nama Raffi ikut terseret, publik sebetulnya sedang diberi jendela kecil untuk mengintip sesuatu yang jauh lebih besar: bahwa keputusan-keputusan politik soal siapa maju, siapa didukung, siapa direkomendasikan bisa lahir dari meja makan, bukan dari rapat partai.
Bantahan Raffi bahwa itu cuma obrolan pertemanan justru memperlihatkan persoalan yang sebenarnya. Karena semakin “biasa” percakapan semacam itu terdengar, semakin dalam pula normalisasi politik informal telah berlangsung.
Yang mengkhawatirkan bukan ketika seseorang menyalahgunakan akses secara terang-terangan, itu mudah dikenali dan dilawan. Yang mengkhawatirkan adalah ketika akses semacam itu dianggap wajar, bagian dari cara kerja sehari-hari, sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan lagi.
Broker yang Tidak Perlu Kotor Tangannya
Ini yang membedakan broker kekuasaan model baru dari makelar jabatan tradisional. Ia tidak perlu menerima amplop. Ia tidak perlu menandatangani apa pun. Ia cukup berdiri di titik pertemuan antara pengusaha yang butuh izin, politisi yang butuh panggung, dan pejabat yang butuh dukungan opini publik lalu membiarkan semua pihak saling menemukan kepentingan masing-masing lewat dirinya.
Raffi tidak perlu menjadi “mafia jabatan” untuk memiliki pengaruh yang lebih besar daripada banyak anggota DPR. Cukup dengan menjadi orang yang paling mudah dihubungi oleh siapa saja yang ingin pesan mereka sampai ke telinga yang tepat.
Dan di situlah letak masalahnya: kekuasaan semacam ini tidak bisa diberhentikan lewat pemilu, tidak bisa dimintai keterangan lewat hak interpelasi, tidak bisa diaudit oleh BPK. Ia hanya bisa dibatasi oleh satu hal kesadaran publik bahwa jalur informal semacam ini sedang mengambil alih fungsi yang seharusnya dijalankan lembaga formal.
Pertanyaan yang Seharusnya Kita Ajukan
Bukan “apakah Raffi menjual jabatan”. Itu pertanyaan yang terlalu sempit, dan tanpa bukti, terlalu berbahaya untuk dijawab sembarangan.
Pertanyaan yang lebih tajam adalah: kenapa begitu banyak kepentingan politik memilih lewat Raffi, dan bukan lewat jalur formal yang seharusnya tersedia untuk semua orang? Kenapa seorang figur yang tidak dipilih rakyat bisa memiliki akses yang bahkan tidak dimiliki sebagian anggota legislatif?
Jawabannya sederhana dan justru karena itu menyakitkan: karena jalur formal kita lambat, birokratis, dan penuh sekat, sementara jalur informal lewat orang seperti Raffi jauh lebih cepat dan efisien. Sistem politik kita sendiri yang menciptakan ruang bagi broker semacam ini untuk tumbuh subur.
Raffi Ahmad hanyalah gejala. Penyakitnya ada pada sistem yang membiarkan pengaruh personal mengalahkan mekanisme institusional dan yang lebih parah, memberi penghargaan sosial kepada siapa pun yang paling piawai bermain di ruang abu-abu itu.
Selama itu belum berubah, akan selalu ada “Raffi” berikutnya. Hanya nama dan wajahnya yang berganti.(Srapar)












