MANADO – Sebuah fakta mengejutkan terungkap dalam diskusi publik mengenai perlindungan anak digital di Four Points Hotel Mantos, Manado, Rabu (8/7/2026).
Sebanyak 42 persen anak-anak mengaku merasa tidak nyaman saat beraktivitas di media sosial.
Hal ini diperparah dengan tingginya ancaman dari platform permainan daring (online game) yang rentan mengarah pada konten negatif seperti pornografi.
Menanggapi fenomena ini, Staf Ahli Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Raden Wijaya Kusumawardhana, memberikan perumpamaan yang menohok bagi para orang tua.
“Masuk ke dunia digital itu sama seperti kita memberikan kunci mobil kepada anak. Tentu sangat bermanfaat agar mereka cepat tiba di tujuan, tetapi di sisi lain juga sangat berbahaya jika tanpa kesiapan,” ujar Raden saat menjadi keynote speaker.
Ia menegaskan, regulasi ketat dari pemerintah tidak akan pernah cukup tanpa adanya kehadiran fisik dan mental orang tua.
Perlindungan terbaik harus dimulai dari pencegahan di rumah. Oleh karena itu, gerakan TUNAS yang merupakan singkatan dari “Tunggu Anak Siap” diluncurkan untuk membangun tanggung jawab bersama.
Suasana diskusi semakin hidup dan interaktif saat sesi bersama Defira NC (Program dan Community Manager ICT Watch) serta perwakilan Forum Anak Kota Manado.
Anggota forum seperti Anjeline Kaligis, Given Tuangkessong, Agraisya Pitoy, Yoel Pinatik, Abigail Tampi, Jelita Suparman, Debora Montori, dan Muhammad Afif tampil vokal menyuarakan keresahan sekaligus harapan mereka agar ruang digital di Indonesia bisa menjadi tempat yang lebih ramah dan aman bagi tumbuh kembang generasi muda. (Jerry)












