TAHUNA, MANADONEWS.CO.ID — Dandim 1301/Sangihe Letkol CZI Nazarudin, ST., M.I.P., memimpin langsung pemantauan perkembangan titik api di bawah puncak Gunung Awu, Senin (7/9/2026).
Pemantauan berlangsung di Kampung Tate, Kelurahan Santiago, Kecamatan Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, mulai pukul 07.30 WITA.
Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan pergerakan api, memantau arah asap, serta mengantisipasi potensi ancaman terhadap wilayah permukiman warga.
Dalam pemantauan, asap tebal terpantau berada di sisi barat dan mengarah ke Kampung Kendahe. Sementara itu, asap di bagian selatan yang mengarah ke Kampung Pananekeeng, Kecamatan Tahuna, terpantau kecil dan masih berada di titik yang sama.
Pergerakan api terpantau lambat. Titik api berada pada ketinggian sekitar 1.171 meter.
Api yang pada Minggu (6/9/2026) sempat terpantau cenderung melebar ke bagian utara Kampung Kedang, pada pemantauan Senin pagi dilaporkan sudah padam.
Dandim bersama personel melakukan pengamatan terhadap kondisi medan dan kemungkinan arah pergerakan api berdasarkan arah angin.
Apabila angin bergerak ke utara, wilayah terdekat yang perlu diwaspadai adalah Kampung Kedang, Kecamatan Tabukan Utara, dengan jarak sekitar 4 kilometer dari titik api.
Jika angin bergerak ke selatan, titik terdekat adalah Kampung Pananekeeng, Kecamatan Tahuna, dengan jarak sekitar 6 kilometer. Sementara apabila angin bergerak ke barat, wilayah terdekat adalah Kampung Kendahe dengan jarak sekitar 4 kilometer.
Selain memantau arah angin, Dandim juga memperhatikan kondisi medan yang memiliki sejumlah sungai yang dapat menjadi penghambat alami pergerakan api menuju permukiman warga.
Di bagian utara terdapat Sungai Salu Patung dan Salu Mode. Di bagian selatan terdapat Sungai Salu Mala, sedangkan di bagian barat terdapat Sungai Salu Maselihe.
Kondisi tersebut menjadi bagian penting dalam analisis lapangan untuk menentukan potensi jalur pergerakan api dan langkah antisipasi yang diperlukan.
Letkol CZI Nazarudin menyampaikan bahwa pemantauan dilakukan sebagai langkah kesiapsiagaan untuk memastikan perkembangan titik api terus diketahui dan potensi ancaman terhadap masyarakat dapat diantisipasi.
“Pemantauan ini penting untuk mengetahui perkembangan titik api, memperkirakan arah pergerakannya, serta memastikan langkah antisipasi dapat dilakukan sedini mungkin demi keselamatan masyarakat,” ujar Nazarudin.
Ia menegaskan, pemantauan lapangan juga membantu menentukan prioritas penanganan apabila api bergerak mendekati wilayah permukiman, termasuk kesiapan personel, armada, dan rute penyelamatan.
(Riko)












