Terkait Bencana, Kumaat Sarankan Mitigasi dan Adaptasi

  • Whatsapp

MANADO, MN – Bencana banjir dan tanah longsor yang kini mulai mengancam, membuat sejumlah pihak harus putar otak. Apalagi, fenomena ini sudah kerap terjadi selama 15 tahun terakhir.

Hampir setiap tahun ratusan warga diungsikan. Hampir setiap tahun pula, ratusan dan bahkan ribuan rumah terendam banjir. Belum lagi, sejumlah sarana infrastruktur yang juga ikut jadi tumbal.

Menanggapi hal ini, Kepala Laboratorium Sistim Informasi Geografis Universitas Negeri Manado, Joy Kumaat mengatakan, salah satu cara untuk menghadapi hal ini yakni melalui mitigasi dan adaptasi.

“Mitigasi sebenarnya kesiapsiagaan dalam mempersiapkan diri dari keadaan luar biasa (bencana). Kalau adaptasi lebih ke harmonisasi dgn alam, living harmony with disaster,” kata Kumaat, Jumat (27/1).

Dijelaskannya, Indonesia belum sampai pada tatanan ini. Kebanyakan lebih ke arah pencegahan bencana. Padahal, alam akan selalu mencari keseimbangan tetap akan terus terjadi.

“Konsep bentang alam memang demikian. Hal ini tidak bisa dicegah. Anomali ini (curah hujan dgn intensitas tggi) biasa terjadi. Hanya kita manusia tidak siap. Karena itu pentingnya mitigasi baik individu maupun kelompok,” ujarnya.

Baca Juga:  BKPP Kotamobagu Menunggu Regulasi dan Juknis Mengenai Penerapan Keppres Nomor 17 Tahun 2019

Sedangkan adaptasi, lanjutnya, lebih mengarah kepada kebiasaan. Artinya, masyarakat dididik untuk hidup harmoni meskipun ada bencana.

“Adaptasi ini lebih ke arah perubahan pola pikir. Mungkin bisa diilustrasikan seperti ini. Ketika kita mulai terbiasa dengan keadaan enak, kita sering tidak siap saat keadaan berubah menjadi tidak enak. Contohnya, sepanjang bantaran sungai. Masyarakat kita sudah terbiasa dengan keadaan sekarang. Ketika ada bencana, pilihannya hanya dua. Bertahan atau mengungsi sementara. Padahal, mungkin ada jalan lain yang lebih baik,” terangnya.

Oleh karena itu, Kumaat berharap, peran pemerintah dan semua elemen terkait sangat dibutuhkan untuk menerapkan hal ini.

“Kuncinya ada pada manusia. Keseimbangan ekologi dan ekonomi bisa kita pakai. Jadi solusi paling utama adalah merubah pola pikir manusia. Nah pertanyaannya sekarang bagaimana mewujudkannya? Saya kira kita semua pasti paham,” kunci dosen di Fakultas Geografi ini. (Jer)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *