Antrian Bisa Bikin Mati Pasien BPJS

  • Whatsapp
Walikota Bitung, Maximiliaan J Lomban berbincang-bincang dengan petugas medis di RSUD Bitung beberapa waktu lalu. (Foto.ist)

BITUNG  – Walikota Maximiliaan Jonas Lomban mengingatkan, sistim pelayanan terhadap pasien peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di Kota Bitung terlalu panjang, sehingga bisa ada pasien mati duluan, sebelum mendapat pelayanan medis.

“Saya sedih melihat pasien BPJS terlalu panjang antri di sejumlah loket untuk mengurus administrasi agar dapat pelayanan medis. Kalau dia sedang sakit kong mati,  berdosa torang. Kalau dia mati saat sudah dalam perawatan medis, itu walahualam. Tetapi karena dia ba antri, aduh ini berdosa besar torang”, kata Walikota, saat memberikan sambutan pada rapat paripurna istimewa di DPRD Kota Bitung, Selasa sore (25/4-2017).

Karena itu, melihat kenyataan ini, Walikota memerintahkan kepada Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bitung, untuk merobah dan mempermudah sistem pelayanan kepada para pasien BPJS.  “Saya minta ini ada perhatian. Mulai besok ini dirobah”, tegasnya.

Walikota menekankan, pasien harus mendapat penanganan atau pelayanan medis terlebih dulu, baru kemudian mengurus berkas BPJS. Biar para Tenaga Harian Lepas (THL) yang datang ke pasien untuk membantu menyelesaikan administrasi BPJS.

Baca Juga:  Berlangsung di 194 Titik, Sekda Sorongan Tinjau Pengangkatan Eceng Gondok

“Jadi saya minta diputar sistem pelayanannya. Jangan dorang (Pasien) antri di BPJS. Jadi begitu mereka diterima,  langsung. Dia ada BPJS atou nyanda,  itu belakangan. Layani dulu dia. Supaya siapa tahu dengan cuma deng dilayani dia so bae so nyanda perlu macam-macam. ”, kata Walikota Bitung.

Walikota juga memerintahkan untuk menambah mesin fotokopi di RSUD Bitung,  agar para pasien BPJS tidak repot untuk menggandakan berkas BPJS. “Kalu dia mo pigi ba fotokopi depe BPJS,  kong sedang saki payah dia, so mati dia. Ndak bisa bagitu. Mereka dilayani dulu kesehatannya, baru administrasinya”, jelas Walikota.

Menurut Walikota, pelayanan terhadap pasien BPJS di rumahsakit ini kontras dengan pelayanan Mobile Clinic yang malah sudah baik dan lebih maju.

Pemkot Bitung menurunkan 9 tim terpadu yang melakukan pelayanan kesehatan keliling setiap hari. Respon masyarakat terhadap pelayanan Mobile Clinic ini, sangat positif karena sangat membantu.

Tim ini tidak hanya mengobati atau memberikan pelayanan kesehatan, tetapi sekaligus memberikan sosialisasi bagaimana cara mencegah agar terhindar dari penyakit,  seperti akibat lingkungan yang kotor.

Baca Juga:  Hadiri Selebrasi Paskah Pemuda Asia, Menkumham RI Ajak Pemuda Gereja Syukuri Anugerah Kebangkitan Tuhan

Direktur RSUD Bitung, dr.Pitter Lumingkewas mengatakan segera menindaklanjuti perintah walikota. “Kalau sekarang boleh dikatakan ada 3 kali antrian yakni antrian di loket untuk ambil data rekam mediknya, antrian di loket BPJS untuk ambil klaim BPJS, kemudian antrian di poli bersangkutan. Kami berencana akan menggabungkan antrian BPJS dan loket rumahsakit untuk mempermudah dan mempercepat pelayanan kepada pasien”, jelasnya.

Menurut dia, instruksi Walikota untuk memberikan pelayanan medis terlebih dahulu kepada pasien, baru kemudian mengurus administrasinya,  memang hanya memungkinkan untuk pasien yang baru.  “Pasien lama perlu ke loket data medik untuk ambil data dia, kan perlu namanya siapa, nomornya berapa. Kalau pasien baru ndak ada masalah, tapi kalau pasien lama, karena kan ada uraian penyakitnya di situ. Yang mesti kita pangkas yang di BPJS. Jadi pada saat dari loket medik langsung ke Poli ndak lagi ke BPJS. Berarti BPJS urusan rumaksakit sekarang ”, paparnya. (Jeff)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *