Toar Palilingan Apresiasi 100 Hari Program Prioritas Kapolri

  • Whatsapp

Manado – Pencapaian 100 Hari Program Prioritas Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang sudah berjalan selama ini, mendapat apresiasi dari pakar hukum sekaligus Dosen Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Toar Palilingan.

“Program Presisi Kapolri, yaitu prediktif, responsibilitas dan transparansi berkeadilan dengan pendekatan-pendekatan humanis, kalau saya lihat 100 hari pertama gebrakannya luar biasa, artinya bukan sekedar keamanan, rasa aman yang didapatkan tapi juga rasa nyaman,” ujar Toar saat dihubungi via telepon, Selasa (18/5/2021).

Bacaan Lainnya

Aman belum berarti nyaman, namun katanya pendekatan Kapolri dalam 100 hari seperti tilang elektronik, penyelesaian kasus ringan dengan restoratif justice maupun kemudahan dalam pelayanan bisa membuat itu menjadi lebih nyaman.

“Harapan masyarakat seperti itu, harus ada pendekatan humanis untuk penyelesaian kasus, jangan langsung main penindakan, langsung main proses hukum,” katanya. Hal tersebut bisa terlihat dalam 100 hari kerja Kapolri, dimana katanya hampir 2.000 kasus mampu diselesaikan dengan pendekatan humanis, restoratif justice.

Baca Juga:  Soal APBDP 2020, Toar Palilingan Sebut Pemkot Manado tidak Disiplin Waktu

Menurut Toar, Kapolri Jenderal Listyo Sigit saat ini sudah mampu mengubah wajah Kepolisian, namun katanya dijangan sampai dikotori oleh hal-hal yang dapat menurunkan citra Polri. “Secara umum saya pikir sudah OK, sudah mantap, tinggal jajaran Polda Sulut untuk menindaklanjuti itu untuk menciptakan rasa aman dan nyaman di Sulawesi Utara,” ucap Toar.

Ia berharap masyarakat harus lebih aktif mengambil peran dalam bagian itu untuk menyukseskan program Presisi Kapolri. Kapolri dan jajaran tentu butuh kerja sama dan dukungan dari masyarakat.

“Saya sebagai warga masyarakat, ya itu ambil peran, seperti contoh di jalan saat ini terbangun kesadaran dengan sendirinya untuk mematuhi aturan lalu lintas karena sudau terpasang kamera-kamera di jalan,” katanya. “Itu menjadi alat untuk merubah perilaku masyarakat, tanpa harus ada penekanan-penekanan, tindakan-tindakan yang selama ini dilakukan,” pungkas Toar.

(Ben)

Pos terkait