Dari kejauhan, Pulau Manado Tua tampak seperti benteng raksasa yang muncul dari laut. Gunungnya menjulang di tengah Teluk Manado, seolah menjaga pintu masuk ke pesisir utara Sulawesi.
Berabad-abad silam, sebelum gedung pemerintahan, boulevard, dan pusat perdagangan berdiri di daratan Manado hari ini, pusat kekuasaan justru berada di pulau itu.
Nama “Manado” pada mulanya bukan menunjuk kota di daratan, melainkan sebuah kerajaan kepulauan yang oleh sejumlah sumber lama disebut sebagai Kerajaan Bawontehu.
Dalam peta Portugis dan Spanyol abad ke-16, nama itu muncul sebagai Manarouw atau Manadou. Para pelaut Eropa mengenalnya sebagai titik singgah strategis di jalur pelayaran antara Maluku, Mindanao, dan Laut Sulawesi. Di masa perdagangan rempah sedang mencapai puncaknya, siapa yang menguasai laut, ia menguasai perniagaan. Kerajaan Manado Tua tumbuh dari logika itu.
Kerajaan di Tengah Laut
Sebagai kerajaan kepulauan, pengaruh Manado Tua membentang hingga Bunaken, Siladen, Mantehage, Nain, Talise, Bangka, dan Lembeh. Pulau-pulau itu bukan sekadar gugusan daratan kecil di laut utara Sulawesi. Ia adalah simpul perdagangan, tempat transit kapal, sekaligus jalur distribusi hasil bumi dari kawasan timur Nusantara.
Secara etnografis, masyarakat Manado Tua lebih dekat dengan komunitas kepulauan Sangihe-Talaud dibandingkan masyarakat Minahasa di daratan. Mereka hidup dari laut, perdagangan, dan pelayaran. Struktur sosialnya bercorak kerajaan maritim.
Sementara di daratan utama, masyarakat hidup dengan cara berbeda.
Di wilayah yang kini menjadi pusat Kota Manado, terbentang kawasan bernama Wenang. Daerah ini merupakan tanah ulayat masyarakat Minahasa yang hidup dalam sistem walak, komunitas adat otonom yang dipimpin para Ukung atau Hukum Tua. Tidak ada raja tunggal di sana.
Yang ada adalah jaringan komunitas adat yang berdiri sendiri, saling terhubung melalui hubungan genealogis dan kepentingan bersama.
Dotu Lolong Lasut dan Awal Wenang
Tradisi lisan Minahasa menyebut nama Dotu Lolong Lasut sebagai tokoh penting dalam pembukaan awal kawasan Wenang. Ia dikenal sebagai Tonaas dari sub-etnis Tombulu yang membuka permukiman di pesisir Teluk Manado pada kisaran abad ke-16.
Di masa itu, Wenang belum menyerupai kota. Ia hanyalah perkampungan pesisir yang dikelilingi rawa, sungai, dan pohon wenang (Macaranga hispida) yang kemudian menjadi asal-usul nama wilayah tersebut.
Orang-orang Tombulu hidup dari pertanian ladang, berburu, menangkap ikan, dan barter hasil bumi dengan para pelaut yang singgah di teluk.
Namun Wenang bukan ruang yang homogen.
Di pesisir utara hidup komunitas Bantik yang dikenal sebagai pelaut dan penjaga pantai. Di kawasan lain berkembang kelompok Tonsea dan Tondano. Seluruhnya membentuk mosaik sosial Minahasa yang cair, jauh sebelum batas administratif kolonial lahir.
Daratan Wenang perlahan berkembang menjadi ruang pertemuan antara masyarakat pedalaman, komunitas kepulauan, dan pedagang asing.
Di titik itulah sejarah Manado mulai berubah.
Perebutan Laut Utara Sulawesi
Ketika Portugis tiba di Maluku pada awal abad ke-16, kawasan utara Sulawesi segera masuk dalam orbit perdagangan rempah dunia. Kapal-kapal Iberia mulai berlayar hingga ke Manado Tua dan Siau, membawa misionaris Katolik sekaligus kepentingan politik.
Pulau-pulau di utara Sulawesi menjadi titik penting penyebaran pengaruh Portugis dan Spanyol.
Salah satu tokoh yang muncul dalam sumber kolonial Iberia adalah Raja Don Fernando, penguasa Manado yang disebut menerima baptisan Katolik pada pertengahan abad ke-17. Nama itu menunjukkan bahwa kerajaan kepulauan di Manado Tua telah terseret jauh ke dalam jaringan politik kolonial Spanyol.
Namun pengaruh Iberia tak berlangsung tanpa gangguan.
Memasuki paruh kedua abad ke-17, VOC Belanda mulai bergerak ke utara Sulawesi. Persaingan dagang berubah menjadi perebutan pengaruh politik dan militer.
Di saat yang sama, pesisir Minahasa juga berada di bawah tekanan kekuatan regional lain: Kerajaan Bolaang Mongondow.
Loloda Mokoagow dan Perlawanan Walak Minahasa
Dalam tradisi Minahasa, nama Loloda Mokoagow dikenang sebagai penguasa ekspansif dari Bolaang Mongondow yang memperluas pengaruhnya hingga ke pesisir Manado.
Upeti mulai ditarik dari komunitas pesisir. Para pemimpin walak Minahasa melihat ancaman itu sebagai gangguan terhadap otonomi mereka.
Situasi tersebut mendorong lahirnya aliansi baru.
Para kepala walak akhirnya memilih bekerja sama dengan VOC Belanda untuk menghadapi dominasi Bolaang Mongondow sekaligus membendung pengaruh Spanyol.
Keputusan itu menjadi salah satu titik balik terbesar dalam sejarah Minahasa.
1679: Saat Sejarah Berubah
Pada 10 Januari 1679, para pemimpin walak Minahasa menandatangani perjanjian dengan VOC yang diwakili Gubernur Maluku Robertus Padtbrugge.
Peristiwa yang dikenal sebagai Verbond van 1679 itu bukan sekadar perjanjian politik biasa. Ia mengubah lanskap kekuasaan di utara Sulawesi.
Hegemoni Bolaang Mongondow melemah. Struktur kerajaan maritim Manado Tua perlahan runtuh. Sebaliknya, VOC mulai menancapkan pengaruh langsung di daratan Wenang.
Belanda kemudian membangun Fort Amsterdam di atas tanah Wanua Wenang. Dari benteng itu, kontrol atas perdagangan, politik, dan keamanan dijalankan.
Sejak saat itulah pusat kekuasaan perlahan berpindah dari Pulau Manado Tua ke daratan utama. Nama “Manado” ikut berpindah. Wenang berubah menjadi Manado.
Kota Baru di Daratan
Menjelang akhir abad ke-17, pamor Kerajaan Bawontehu semakin meredup. Jalur perdagangan berubah, monopoli VOC menguat, dan penduduk pulau mulai bermigrasi ke pesisir daratan.
Gelombang perpindahan itu mempercepat pertumbuhan kota baru di Wenang.
Pada abad ke-19, Hindia Belanda resmi membentuk Karesidenan Manado dengan pusat pemerintahan di daratan utama. Nama Wenang perlahan menghilang dari administrasi kolonial.
Sebagai kota pelabuhan dan garnisun, Manado berkembang menjadi ruang kosmopolitan.
Pedagang Tionghoa membangun kawasan Pecinan. Komunitas Arab mendirikan Kampung Arab. Orang-orang Borgo keturunan campuran Eropa dan pribumi menjadi bagian penting wajah sosial kota.
Pendatang dari Sangihe-Talaud, Gorontalo, dan Maluku terus berdatangan.
Laut yang dahulu memisahkan pulau dan daratan, perlahan justru mempertemukan semuanya di satu kota.
Manado modern akhirnya lahir bukan dari satu identitas tunggal, melainkan dari lapisan panjang perdagangan, migrasi, perebutan kekuasaan, dan perjumpaan budaya selama berabad-abad. (Srapar)
Referensi
- N. Graafland, De Minahassa: Haar Verleden en Haar Tegenwoordige Toestand (Batavia: G. Kolff & Co., 1867).
- Shinzo Hayase, Domingo M. Non, dan Alex J. Ulaen, Silsilas/Tarsilas (Genealogies) and Historical Narratives in Sarangani Bay and Davao Gulf (Kyoto: Center for Southeast Asian Studies, Kyoto University, 1999).
- H.M. Taulu, Sejarah Minahasa (Manado: Yayasan Membangun, 1969).
- Jessy Wenas, Sejarah dan Kebudayaan Minahasa (Manado: Institut Seni dan Budaya Sulawesi Utara, 2007).
- Robertus Padtbrugge, “Het Journaal van Padtbrugge’s Reis naar Noord-Celebes en de Noordereilanden (1677–1679)”, dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië (1866).
- Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië voor het jaar 1853–1870 (Batavia: Landsdrukkerij).












