Ferry Liando Sebut Tiga Tugas Gereja dalam Politik

Manado – Secara institusi gereja bukanlah sub ordinat dari kekuatan politik tertentu. Gereja dilarang mendukung kekuatan politik apapun.

Namun demikian bukan berarti perjuangan gereja harus terpisah secara langsung dengan perjuangan politik.

Bacaan Lainnya

Tujuan politik adalah untuk kebaikan bersama. Tujuan itu sama persis dengan tujuan bergereja.

Hal itu dikatakan Dosen Ilmu Politik FISIP Unsrat, Ferry Daud Liando, ketika membawakan materi “Gereja dan Politik” pada seminar di GMIM Sion Teling, Senin (16/5/2022).

Menurut Ketua Bidang Politik, Pemilu dan Demokrasi, Pengurus Pusat Persekutuan Intelektual Kristen Indonesia (PIKI) Republik Indonesia (RI) ini, jika fenomena politik semakin buruk di pandangan masyarakat disebabkan oleh motivasi keliru sebagian aktor-aktor politik ketika berkuasa.

‘Banyak orang bermotivasi menduduki jabatan dalam institusi publik hanya sekedar untuk ingin kaya dan memperbaiki status sosial,” jelas Ferry Liando.

Baca Juga:  Bupati Royke Roring Sukseskan Pemilihan Pelsus di Kolom 16 GMIM Bumorik

Padahal, tambah Liando, tujuan berpolitik adalah mempergunakan kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki untuk membuat kebijakan publik guna mengatasi masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.

Karena motivasi mendapatkan jabatan keliru, maka cara untuk mendapatkan jabatan juga keliru. Seperti membayar Parpol untuk mahar, menyogok pemilih, mengadu domba, menyebar kebencian dan lain-lain.

“Gereja memiliki peran penting memperbaiki praktik-praktik politik yang semakin menyimpang ini,” tukas Liando.

Dalam hal politik, kata Liando, gereja memiliki 3 peran, yakni pertama, peran untuk mempengaruhi kebijakan politik.

“Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Penyusunan Perundang-undangan ada ruang bagi masyarakat termasuk warga gereja secara institusi maupun jemaat untuk merumuskan kebijakan yang dibutuhkan,” terang Liando.

Kedua, peran politik penggembalaan. Selama ini banyak kader-kader GMIM yang dipercaya pada lembaga-lembaga politik belum memiliki kinerja yang baik.

Fungsi gereja adalah wajib untuk mempersiapkan warga jemaat untuk penggembalaan sekaligus mempersiapkan warga jemaat untuk menjadi pemilih yang baik.

Harusnya tugas kaderisasi dan kepemimpinan politik menjadi fungsi Parpol. Namun sebagian Parpol tidak sanggup melakukan tugas dengan baik.

Baca Juga:  Pemerintah 'Nekat' Gelar Pilkada-Tahapan Dimulai, Beberapa Hal Perlu Diantisipasi KPU Menurut Ferry Liando

“Akibatnya, banyak politisi yang terpilih karena warga jemaat terbuai dengan sogokan (money politic) tanpa memperhatikan kualitas calon,” tukas dia.

Ketiga, peran politik partisipatif. Ada sebagian kebijakan pemerintah yang gagal diimplementasikan di masyarakat. Hal itu terjadi karena lemahnya dukungan partisipasi masyarakat.

Misalnya, ada kebijakan larangan membuang sampah, tapi warga bebas membuang sampah. Ada larangan membuat keonaran tapi tidak banyak yang patuh.

“Salah satu tugas gereja adalah menyadarkan masyarakat soal ketaatan,” pungkas Ferry Liando.

Selain Ferry Liando, pembicara lain Billy Lombok, Wakil Ketua DPRD Sulut.

Seminar dipandu Wakil Ketua BPMJ, Jemmy Saroinsong. Peserta adalah seluruh majelis jemaat setempat dan Ketua BPMJ, Pdt. James Adrian, MTh.

(JerryPalohoon)

 

 

Pos terkait