MANADO,MANADONEWS.CO.ID– Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI di bawah kepemimpinan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan komitmennya dalam memperkuat postur pertahanan negara melalui pembentukan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). Kemenhan menargetkan pembentukan 150 Yonif TP baru setiap tahunnya guna menjangkau seluruh wilayah kabupaten/kota di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin saat memberikan keterangan pers kepada sejumlah wartawan di Pangkalan Angkatan Udara (Lanud) Sam Ratulangi Manado, pada kunjungan kerjanya ke Sulawesi Utara, Kamis (7/5/2026).
Menhan menargetkan pembangunan 514 Batalyon Teritorial Pembangunan dalam lima tahun kedepan. Jumlah ini disesuaikan dengan jumlah kabupaten/kota di Indonesia untuk memastikan setiap wilayah memiliki satuan pertahanan mandiri.
“Strategi pembangunan kita di bidang pertahanan, kami sedang membangun 150 Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) per tahun untuk memperkuat pertahanan tingkat kabupaten/kota. Saat ini telah terbentuk lebih dari 150 unit, dengan target total 514 Batalyon terwujud dalam lima tahun ke depan untuk mendampingi setiap kabupaten, bupati. Ini yang sedang kita kerjakan sekarang,” ujarnya.
Dia menegaskan bahwa Kementerian Pertahanan tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur pertahanan, tetapi juga menugaskan TNI untuk mengamankan aset strategis nasional, khususnya kilang dan terminal milik PT. Pertamina.
“Jadi cukup banyak yang harus saya lakukan meninjau pembangunan kekuatan pertahanan,” katanya.
Menhan menyampaikan bahwa pembangunan kekuatan TNI dilakukan secara terintegrasi namun memiliki pendekatan berbeda berdasarkan kebutuhan operasional tiap matra, terutama terkait penyediaan lahan dan pangkalan.
“TNI Angkatan Laut juga membangun, tapi kalau TNI Angkatan Laut kan beda dia peralatan, TNI Angkatan Udara ini juga peralatan, tapi kalau TNI Angkatan Darat ini memang harus membangun pangkalan,” katanya.
Dia juga menekankan pentingnya logistik dan kesejahteraan prajurit sebagai prioritas utama dalam pertahanan.
“Yang saya harus lihat sampai dapur dan menunya kayak apa, karena prajurit itu logistik yang paling penting. Itulah semakin banyak kita turun ke bawah semakin banyak kita lihat keunggulan dan kelemahan,” ujarnya.
Dia juga menekankan peran Komandan Satuan (Dansat) untuk sering turun ke lapangan, melihat kekurangan-kekurangan dari masing-masing satuan secara langsung. Hal ini telah saya sampaikan kepada Panglima TNI dan para Kepala Staf Angkatan.
“Bahwa kebijakan nasional, tugas Kemhan adalah membangun kekuatan, sementara pembinaan dan penggunaan kekuatan adalah domain Panglima TNI dan para Kepala Staf Angkatan,” pungkasnya. (Regina.TS)












