Tondano, MN – Di tengah hiruk-pikuk politik yang sering diwarnai perdebatan jangka pendek, hadirnya Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Manado (UNIMA) mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin sesungguhnya terletak pada kemampuannya meninggalkan warisan yang berdampak lintas generasi.
Peresmian Fakultas Kedokteran UNIMA pada Juni 2026 bukan sekadar pembukaan program studi baru.
Peristiwa ini merupakan momentum bersejarah bagi Minahasa dan Sulawesi Utara karena membuka akses pendidikan kedokteran yang lebih luas bagi putra-putri daerah.
Fakultas ini lahir melalui proses panjang yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia akademik, serta berbagai institusi kesehatan.
Dalam proses tersebut, nama Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, menempati posisi penting. Ia bukan sekadar hadir saat peresmian, melainkan ikut mendorong dan mengawal proses pembentukan fakultas sejak tahap awal.
Berbagai dokumen dan pernyataan resmi menunjukkan adanya komunikasi intensif antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan UNIMA, termasuk dukungan gubernur kepada pemerintah pusat untuk mempercepat pembukaan program studi kedokteran.
Bagi masyarakat Minahasa, arti penting Fakultas Kedokteran UNIMA jauh melampaui aspek akademik. Selama bertahun-tahun, banyak keluarga harus mengeluarkan biaya besar untuk mengirim anak-anak mereka belajar kedokteran ke luar daerah.
Tidak sedikit pula yang akhirnya mengubur impian karena keterbatasan ekonomi. Kini, kesempatan itu hadir lebih dekat. Anak-anak dari Tondano, Kawangkoan, Langowan, Tompaso, Sonder hingga wilayah kepulauan Sulawesi Utara memiliki peluang yang lebih terbuka untuk mengejar profesi dokter tanpa meninggalkan tanah kelahirannya.
Lebih penting lagi, kehadiran Fakultas Kedokteran UNIMA merupakan jawaban atas kebutuhan nyata daerah. Sulawesi Utara masih menghadapi tantangan pemerataan tenaga kesehatan, terutama di wilayah kepulauan dan daerah terpencil.
Dengan lahirnya dokter-dokter baru dari kampus daerah, harapan untuk memperkuat layanan kesehatan hingga ke pelosok menjadi semakin realistis.
Model penerimaan mahasiswa yang melibatkan pemerintah daerah juga dirancang agar lulusan nantinya kembali mengabdi di wilayah asal mereka.
Di sinilah letak nilai strategis kepemimpinan Yulius Selvanus. Ia tampak memahami bahwa pembangunan daerah tidak boleh hanya berfokus pada infrastruktur fisik. Jalan dan jembatan memang penting, tetapi kualitas manusia jauh lebih menentukan masa depan sebuah daerah.
Karena itu, dukungannya terhadap Fakultas Kedokteran UNIMA dapat dipandang sebagai investasi jangka panjang yang manfaatnya akan dirasakan puluhan tahun mendatang.
Jika hari ini masyarakat menyaksikan sebuah gedung fakultas berdiri, maka yang sesungguhnya sedang dibangun adalah masa depan.
Dari ruang-ruang kuliah itu akan lahir dokter, peneliti, akademisi, dan tenaga kesehatan yang suatu hari menjadi tulang punggung pelayanan kesehatan Sulawesi Utara.
Tidak berlebihan jika pembukaan Fakultas Kedokteran UNIMA disebut sebagai salah satu capaian pendidikan paling penting dalam beberapa tahun terakhir di Minahasa.
Sebab yang diperjuangkan bukan hanya izin operasional atau status kelembagaan, melainkan kesempatan bagi generasi muda daerah untuk memperoleh pendidikan berkualitas dan mengabdi di tanah sendiri.
Sejarah biasanya mengingat para pemimpin bukan karena seberapa banyak pidato yang mereka sampaikan, melainkan karena apa yang mereka tinggalkan.
Dalam konteks pendidikan Minahasa, Fakultas Kedokteran UNIMA berpotensi menjadi salah satu warisan paling berarti dari kepemimpinan Yulius Selvanus, sebuah warisan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menyelamatkan kehidupan melalui lahirnya dokter-dokter baru bagi Sulawesi Utara.(Januar)












