Scroll untuk baca artikel
Berita TerbaruDaerahNusa UtaraPemerintahanSangiheSulawesi Utara

587,76 Hektare Terbakar, Sangihe Berdoa untuk Gunung Awu

94
×

587,76 Hektare Terbakar, Sangihe Berdoa untuk Gunung Awu

Sebarkan artikel ini

TAHUNA, MANADONEWS.CO.ID – Di tengah kepungan kemarau panjang dan kebakaran hutan yang melanda kawasan Gunung Awu, masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe memilih bersatu dalam doa.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe bersama tokoh lintas agama, Dewan Adat Sangihe, Forkopimda, relawan dan masyarakat menggelar Doa Bersama Lintas Agama dan Adat Sangihe, di Papanuhung Santiago Tampungan Lawo, Minggu (13/09/2026).

MANTOS

Doa bersama ini menjadi bentuk kepedulian sekaligus ikhtiar bersama memohon pemulihan alam dan keselamatan bagi seluruh pihak yang tengah berjuang menangani kebakaran Gunung Awu.

Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari, S.E., M.M., hadir bersama Wakil Bupati Tendris Bulahari, Ketua TP-PKK Cherry S. Thungari-Soeyoenus, S.E., Wakil Ketua TP-PKK Agnes Bulahari Walukow, S.E., unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah, pimpinan perangkat daerah, FKUB, tokoh agama, Dewan Adat, relawan, donatur dan masyarakat.

Kebakaran Gunung Awu sendiri bermula dari Pos 8 jalur pendakian Angges, Kecamatan Tahuna Barat, sejak 5 September 2026. Api kemudian meluas hingga wilayah Kelurahan Kolongan, Kecamatan Kendahe, serta Kecamatan Tabukan Utara.

Kondisi medan yang berat menjadi tantangan tersendiri dalam upaya penanganan. Berdasarkan analisis data geospasial SWIR citra Sentinel-2 tanggal 9 September 2026, estimasi areal yang terbakar telah mencapai 587,76 hektare, pada kawasan pegunungan dengan ketinggian 600 hingga 1.030 meter di atas permukaan laut.

Screenshot

Bupati Michael Thungari mengatakan, kondisi medan membuat setiap upaya penanganan harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Karena itu, pemerintah terus membangun koordinasi bersama Forkopimda, camat, lurah, kepala kampung, TNI/Polri, masyarakat dan relawan untuk memantau perkembangan titik api melalui pos-pos pemantauan di wilayah terdampak.

“Ini bukan hanya persoalan pemerintah. Ini persoalan kita bersama menjadi semangat yang tercermin dalam pelaksanaan doa lintas agama dan adat tersebut,” sebutnya.

Rangkaian doa diawali dengan ritual adat Tatahimokoing Sembanua oleh Dewan Adat Sangihe. Selanjutnya, doa dipanjatkan oleh perwakilan umat Islam, Kristen Protestan, denominasi gereja dan Katolik.

Dalam suasana penuh kebersamaan, seluruh elemen memohon agar alam kembali pulih, hujan segera turun dan seluruh personel, relawan serta masyarakat yang terlibat dalam penanganan kebakaran diberikan kekuatan dan keselamatan.

Di tengah kobaran api yang masih menjadi perhatian, Sangihe menunjukkan bahwa menghadapi bencana tidak cukup hanya dengan tenaga dan peralatan. Doa, kepedulian, persatuan dan gotong royong menjadi kekuatan bersama untuk menjaga tanah Sangihe.

(Riko)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari MANADO NEWS di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP Tumeles.com - Topup Game, Pulsa & Belanja Kebutuhan Harian di Manado