Lukisan Koleksi Istana Kepresidenan akan Dipamerkan di Galeri Nasional

  • Whatsapp
Lukisan "Pangeran Diponegoro Memimpin Perang" karya Basoeki Abdullah tahun 1949, pada pameran Aku Diponegoro: Sang Pangeran Dalam Ingatan Bangsa di Galeri Nasional, Jakarta, tahun 2015 lalu. Foto: CNN Indonesia
Lukisan "Pangeran Diponegoro Memimpin Perang" karya Basoeki Abdullah tahun 1949, pada pameran Aku Diponegoro: Sang Pangeran Dalam Ingatan Bangsa di Galeri Nasional, Jakarta, tahun 2015 lalu. Foto: CNN Indonesia
Lukisan “Pangeran Diponegoro Memimpin Perang” karya Basoeki Abdullah tahun 1949, pada pameran Aku Diponegoro: Sang Pangeran Dalam Ingatan Bangsa di Galeri Nasional, Jakarta, tahun 2015 lalu. Foto: CNN Indonesia

JAKARTA, MANADONEWS Selama ini hanya sedikit orang yang bisa menyaksikan keindahan karya seni terbaik di Indonesia. Apalagi bila karya tersebut merupakan koleksi Istana Kepresidenan, tentunya tidak sembarang orang boleh menyaksikannya secara langsung.

Namun, dalam pameran bertajuk “17/71: GORESAN JUANG KEMERDEKAAN” Istana Kepresidenan Republik Indonesia akan menampilkan karya-karya seni terbaik itu, dan untuk pertama kali bagi masyarakat luas bisa menikmati keindahan karya seni terbaik yang selama ini menghiasi Istana Kepresidenan di seluruh Indonesia.

Bacaan Lainnya

Pameran tersebut akan berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, sepanjang bulan Agustus 2016, seperti diungkapkan Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, dalam siaran persnya, Selasa (12/7).

“Akan terpapar di sana: 28 lukisan terpilih hasil karya 21 pelukis dan sekitar 100 koleksi foto-foto kepresidenan. Kurator pameran yang merupakan bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71 ini adalah Mikke Susanto dan Rizki A. Zaelani,” ungkap Bey Machmudin.

Baca Juga:  Kuhu Terima Diklat Kepemimpinan Tingkat II Angkatan XVI Tahun 2018

Bey Machmudin menyebutkan, sejumlah lukisan fenomenal itu antara lain karya Raden Saleh, Affandi, S. Sudjojono, Basoeki Abdullah, dan Dullah, pelukis Istana pada era Presiden Sukarno. Ada pula karya pelukis asing seperti Rudolf Bonnet dan Diego Rivera.

“Tak kalah unik, masyarakat juga dapat menikmati lukisan karya Presiden Sukarno sendiri yang berjudul Rini yang dilukisnya pada 1958,” sambung Bey.

Menurut Bey, ada sekitar 3.000 lukisan yang telah melalui proses kuratorial pada 2009-2010 tersimpan di sejumlah Istana Kepresidenan di Indonesia, yaitu yang berlokasi di Jakarta (Istana Negara dan Istana Merdeka), Bogor, Cipanas, Yogyakarta, dan Tampaksiring-Bali.

Di antara koleksi itu, lanjut Bey, ada banyak karya legendaris yang merupakan bagian dari tonggak sejarah, tak hanya kesenian, melainkan juga Republik Indonesia.

Koleksi luar biasa ini bermula dari keinginan Presiden Soekarno yang dikenal memiliki selera seni sangat tinggi. Tak heran jika sebagian koleksi itu adalah hasil upaya Presiden Soekarno sendiri, yang tak segan langsung berbelanja ke berbagai galeri atau sanggar seni. Sebagian lukisan itu juga buah tangan dari pemimpin negara-negara lain saat berkunjung ke Indonesia.

Baca Juga:  Warga Inobonto I Dapat Apresiasi Karena Lakukan Hal Ini..

Bey mengemukakan, Presiden Joko Widodo menyambut baik penyelenggaraan pameran ini. “Istana adalah milik rakyat dan sungguh indah jika masyarakat luas juga sesekali dapat menikmati koleksi karya seni terbaik itu melalui pameran yang terbuka untuk umum. Karya cipta yang bernilai begitu tinggi ini harus dilestarikan,” tutur Presiden sebagaimana dikutip Bey Machmudin.

Pameran lukisan ini merupakan salah satu wujud pertanggungjawaban Istana Kepresidenan yang mendapatkan amanah untuk merawat koleksi-koleksi terbaik itu. “Saya ingin lukisan-lukisan ini akan tetap abadi dan terus menerus bisa disajikan di hadapan publik seluruh dunia,” pesan Presiden seperti disampaikan Bey Machmudin.

Berikut adalah daftar koleksi lukisan Istana Kepresidenan yang akan ditampilkan dalam pameran bertajuk “17/71: GORESAN JUANG KEMERDEKAAN” ;

1. Affandi, Laskar Rakyat Mengatur Siasat, 1946
2. Affandi, Potret H.O.S. Tjokroaminoto, 1946
3. Basoeki Abdullah, Pangeran Diponegoro Memimpin Perang, 1949
4. Dullah, Persiapan Gerilya, 1949
5. Harijadi Sumadidjaja, Awan Berarak Jalan Bersimpang, 1955
6. Harijadi Sumadidjaja, Biografi II di Malioboro, 1949
7. Henk Ngantung, Memanah, 1943 (reproduksi orisinal oleh Haris Purnomo)
8. Kartono Yudhokusumo, Pertempuran di Pengok, 1949
9. Raden Saleh, Penangkapan Pangeran Diponegoro, 1857
10. S.Sudjojono, Di Depan Kelambu Terbuka, 1939
11. S. Sudjojono, Kawan-kawan Revolusi, 1947.
12. S. Sudjojono, Markas Laskar di Bekas Gudang Beras Tjikampek, 1964
13. S. Sudjojono, Mengungsi, 1950
14. S. Sudjojono. Sekko (Perintis Gerilya), 1949
15. Sudjono Abdullah, Diponegoro, 1947
16. Trubus Sudarsono, Potret R.A. Kartini, 1946/7
17. Gambiranom Suhardi, Potret Jenderal Sudirman, 1956
18. Soerono, Ketoprak, 1950
19. Ir. Sukarno, Rini, 1958
20. Lee Man-Fong, Margasatwa dan Puspita Nusantara, 1961
21. Rudolf Bonnet, Penari-penari Bali sedang Berhias, 1954
22. Hendra Gunawan, Kerokan, 1955
23. Diego Rivera, Gadis Melayu dengan Bunga, 1955
24. Miguel Covarrubias, Empat Gadis Bali dengan Sajen, sekitar 1933-1936
25. Walter Spies, Kehidupan di Borobudur di Abad ke-9, 1930
26. Ida Bagus Made Nadera, Fadjar Menjingsing, 1949
27. Srihadi Soedarsono, Tara, 1977
28. Mahjuddin, Pantai Karang Bolong, tahun tak terlacak (sekitar 1950an)

Baca Juga:  Mulai Hari Ini Masyarakat Bisa Saksikan Seremoni Pasukan Jaga Istana

[Setkab]

Pos terkait