Deteksi Dini Jantung Koroner

  • Whatsapp
Oleh : dr.Marshell Luntungan, SpJP FIHA Bagian/KSM Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, FK Unsrat / RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Manado
Oleh :
dr.Marshell Luntungan, SpJP FIHA
Bagian/KSM Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, FK Unsrat / RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Manado

PENYAKIT jantung koroner (PJK) dapat menyerang siapa saja dan kapan saja, tanpa memandang umur, jenis kelamin,  dan ras seseorang. Risiko kematian akibat PJK ( per 100.000 populasi) bervariasi yakni 20 kali lipat pada pria dan 30 kali lipat pada wanita. Pada abad ke 20 trend PJK lebih banyak terjadi di negara-negara Barat, namun pada beberapa dekade terakhir telah terjadi pergeseran ke negara-negara di Asia dan Timur Tengah.

Di Indonesia sendiri berdasarkan data Riskesdas 2013 prevalensi penyakit jantung koroner (PJK) berdasarkan wawancara yang didiagnosis dokter serta yang didiagnosis dokter atau gejala meningkat seiring dengan bertambahnya umur, tertinggi pada kelompok umur 65 -74 tahun yaitu 2,0 persen dan 3,6 persen, menurun sedikit pada kelompok umur ≥ 75 tahun. Prevalensi PJK yang didiagnosis dokter maupun berdasarkan diagnosis dokter atau gejala lebih tinggi pada perempuan (0,5% dan 1,5%). Prevalensi PJK lebih tinggi pada masyarakat tidak bersekolah dan tidak bekerja. Berdasar PJK terdiagnosis dokter prevalensi lebih tinggi di perkotaan, namun berdasarkan terdiagnosis dokter dan gejala lebih tinggi di perdesaan dan pada kuintil indeks kepemilikan terbawah

Terdapat sejumlah faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap PJK, sebagai berikut :

  • Faktor risiko yang bisa di rubah
    • Merokok
    • Hyperlipidemia (kolesterol)
    • Hipertensi
    • Diabetes Mellitus penyakir
    • Obesitas
    • Sedentary lifestyle
    • Stress
    • Faktor Psikososial
  • Faktor risiko yang tak bisa dirubah
    • Riwayat keluarga
    • Usia
    • Ras
    • Gender

Semua faktor-faktor risiko tersebut berkontribusi pada terjadinya atherosklerosis. Adapun yang di maksudkan dengan atherosklerosis adalah suatu keadaan dimana terjadi kerusakan pada pembuluh darah (khususnya pembuluh darah koroner jantung) sehingga terjadi penumpukan lemak di dinding pembuluh darah. Dinding-dinding pembuluh darah ini menjadi sangat rapuh sehingga rentan sekali untuk robek, apabila terjadi robekan maka akan terbentuk deposit-deposit bekuan darah yang kemudian dapat menutup saluran pembuluh darah baik subtotal maupun total, sehingga terjadi suatu PJK.

Baca Juga:  Menhan; Lokasi 7 WNI Disandera Kelopok Bersenjata di Filipina Sudah Terpantau

Angina atau nyeri dada merupakan manifestasi klinis dari atherosklerosis, angina yang khas penyakit jantung adalah sebagai berikut :

  • Terlokalisir terutama di daerah kiri atau tengah dada
  • Menyebar ke lengan, leher, punggung
  • Sering terasa seperti menekan, di remas dan di tusuk-tusuk
  • Episode 20 menit
  • Diikuti sesak, pusing, mual atau berkeringat

Adapun nyeri dada yang bukan karena penyakit jantung koroner yang di karakterisir :

  • Sakit dada pada waktu tarik napas
  • Lokasinya di perut tengah atau bawah
  • Dapat di tunjuk dengan satu jari
  • Dapat timbul/terasa dengan penekanan dinding dada atau pergerakan lamanya hanya beberapa detik

Sakit dada non angina dapat di sebabkan oleh berbagai penyakit lainnya, seperti : penyakit otot dan tulang, penyakit lambung (maag), robekan pembuluh darah aorta, aneurisma aorta, spasme esofagus, radang paru paru, infeksi selaput jantung, dan penyakit neuropsikiatri.

Deteksi dini penyakit jantung koroner sangatlah penting, agar dapat di lakukan penanganan secara cepat dan tepat. Sebelum seseorang di diagnosis menderita PJK maka hendaknya menjalani pemeriksaan-pemeriksaan penunjang mulai dari metode pemeriksaan yang tidak invasif kemudian baru melangkah ke metode invasif , kecuali  seseorang tersebut sedang mengalami serangan jantung akut maka di perlukan tindakan invasif yang segera untuk membuka sumbatan aliran darah dengan aspirasi bekuan darah dan pemasangan stent “cincin”.

  • Metode tidak invasif
  • a. Pemeriksaan biokemikal (sampel darah)
    • Meliputi pemeriksaan darah lengkap, kolesterol (Kolesterol Total, HDL, LDL, TG) , gula darah, asam urat, fungsi ginjal, serta beberapa pemeriksaan yang lebih spesifik seperti penanda inflamasi (hsCRP) dan Apolipoprotein B (ApoB)
    • b. Elektrokardiogram (EKG)
      • Rekaman jantung (EKG) merupakan pemeriksaan jantung yang sangat dasar, dimana melalui rekaman aliran listrik jantung ini dapat memberi gambaran tentang keadaan jantung pada saat istirahat ataupun sementara/sesudah nyeri dada.
    • c. Foto Rontgen dada
      • Foto rontgen dada dapat memberikan gambaran akan bentuk jantung dan corakan paru.
    • d. Ekokardiografi
      • Ekokardiografi atau USG jantung dapat memberikan informasi visual yang jelas akan keadaan struktur jantung (otot dan katup-katup jantung) dan bagaimana fungsi dari pompa jantung
      • Caucasian woman patient lying on table for contrast echocardiogram given by caucasian woman technician SOURCE: 3A1928 MOD: Removed Medicalert bracelet, added IV line

        e. Treadmill / Exercise stress test (TST / EST)

        • TST merupakan salah satu modalitas non ivasif yang paling sering di gunakan dalam mendeteksi suatu PJK dan bisa juga digunakan menilai prognosis dari PJK serta kapasitas fungsional latihan seseorang. TST mampu mendeteksi adanya abnormalitas kardiovaskular pada saat jantung di beri latihan berupa jalan – lari diatas treadmill (yang tidak dapat di deteksi pada saat istirahat) dengan penyadapan EKG.
Baca Juga:  Vanda Sarundajang Kecam Keras Siswa Pelaku Bullying di Bolmong

f. CT-Scan Jantung + Skor Kalsium

  • Computed Tomography Cardiac (CTCA) merupakan alternatif metode pemeriksaan non invasif apabila setelah di lakukan pemeriksaan TST memberikan hasil probabilitas yang rendah-sedang / intermediate/ non conclusive ataupun karena tidak bisa di lakukan TST dan coronary angiografi yang invasif. CTCA dapat memberikan gambaran pembuluh darah arteri koroner jantung secara menyeluruh yang hampir sama seperti metode invasif, namun di karenakan metode ini menggunakan zat pewarna (kontras) untuk memberikan gambaran yang lebih bagus maka dapat di pertimbangkan lagi untuk pasien dengan penyakit gagal ginjal.
  • Skor Kalsium adalah sistem skoring akan kadar kalsium yang terdapat pada plak pembuluh darah dengan menggunakan sistem Agastson sehingga dapat menilai derajat keparahan penyempitan pembuluh darah koroner.

g. Single Photon Emission Computer Tomography (SPECT) / Nuklir (Perfusion scanning)

  • SPECT adalah metode pencitraan jantung dengan menggunakan sinar gamma dengan radioisotop dengan tujuan menilai perfusi dari aliran darah pembuluh koroner. Apabila ada penyempitan di pembuluh darah koroner alirannya serta daerah yang di aliri pembuluh darah tersebut masih bisa menyerap cairan isotop sehingga dapat di simpulkan bawah cedera di daerah tersebut masih reversible atau tidak.
Baca Juga:  28 Warga Minut Berhasil Jalani Isoman, Bupati Joune Ganda Tutup Isoter di KM Tatamailau

 

h. Magnetic Resonance Imaging (MRI) Jantung

  • MRI merupakan metode pencitraan non invasif yang masih termasuk baru. MRI Jantung bisa di katakan adalah gabungan dari ekokardiografi dan SPECT, MRI dapat juga memberikan gambaran mengenai struktur, fungsi dan perfusi jantung, dengan menggunakan kontras Gadolinium.

2. Metode Invasif

a.Coronary Angiography (CA)

  • Coronary Angiography merupakan metode intervensi yang lebih di kenal dengan kateterisasi, yang bertujuan untuk melihat aliran dan sumbatan di pembuluh darah koroner. CA dilakukan dengan cara memasukkan kateter berukuran sangat kecil lewat akses pembuluh radial (tangan kiri), brachial (siku) dan femoral (lipatan paha) dan di berikan zat pewarna yaitu kontras

b. Percutaneous Coronary Intervention (PTCA)

  • PTCA merupakan kelanjutan dari prosedur CA, dimana apabila di temukan adanya sumbatan pembuluh darah arteri koroner yang signifikan yaitu > 60-70% maka akan di lakukan balooning dan pemasangan stent “ring” untuk membuka aliran darah. Jika pasien dengan serangan jantung akut maka akan di lakukan aspirasi thrombus/bekuan darah yang menutup aliran pembuluh darah koroner secara total dan di lanjutkan dengan pemasangan stent.

 

Penyakit Jantung Koroner adalah salah satu penyakit yang paling di takuti masyarakat luas karena merupakan “Silent Killer”, oleh karena itu perlu dilakukan deteksi dini secara cepat dan tepat dengan metode metode pemeriksaan yang sesuai dengan kondisi pasien tersebut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *