Berbandrol Enam Miliar Lebih, Ini Alasan Pengrajin Belum Beraktifitas di Gedung Bambu Batik

TAHUNA, MANADONEWS.CO.ID – Paket Pekerjaan Revitalisasi UPT Bambu Batik senilai Rp 6.199.260.275,23 pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sangihe yang sumber dananya berasal dari APBD Tahun Anggaran 2019 itu hingga saat ini belum difungsikan sesuai peruntukannya.

Pasalnya paket pekerjaan dengan Nomor: 07/SP/PPK-PERINDAG/VII/2019 Tanggal 22 Juli 2019 sejak selesai di kerjakan oleh pelaksana CV. Jaya Bersama pada 2019 silam Program Peningkatan Kemampuan Teknologi Industri seakan jalan di tempat tanpa arah yang jelas.

Hingga saat ini para pengrajin bambu batik khas tanah Tampungang Lawo (Sangihe-Red) lebih memilih melaksanakan kegiatan produksi di rumah.

Konstruksi bangunan yang sewaktu – waktu bisa mengancam nyawa mereka menjadi alas an mereka enggan menempatinya.

 Pantauan media ini dilokasi, pada lantai dua bangunan puing – puing plafound berserakan di lantai yang penyebabnya diduga berasal dari kebocoran atap bangunan.

“Dengan kondisi bangunan seperti ini kami merasa tidak nyaman untuk melakukan kegiatan produksi” keluh Ketua Pengrajin Bambu Batik Kampung Bowongkulu I Samsi Mangempaus, Senin (01/03).

Baca Juga:  Lepas Kontingen MTQ XXVI, JWS Harap Raih Prestasi Gemilang

Lanjutnya, bangunan yang ada saat ini sudah terlalu berlebihan dan menurutnya lantai bangunan yang ada saat ini tidak bersesuain dengan teknis pekerjaan yang mereka laksanakan.

“Dalam kegiatan produksi nantinya ketika kami melakukan pemotongan bambu dan jatuh ke lantai, yah otomatis tehel yang ada akan pecah, padahal kami meminta untuk lantai yang biasa saja” ungkap Samsi.

Imbuhnya, sejak tahun 2019 silam mereka mengusulkan adanya bak pengawet bambu namun tidak diadakan.

“Padahal itu sangat penting dalam menunjang hasil produksi, sebab fungsi bak pengawet ini adalah menjaga kualitas bambu batik, sehinga kalau di export tidak akan dikomplain terkait kualitasnya,” tukasnya.

Riko Takaonselang

Tags: