Jokowi; Harus Mulai Berpikir Konversi ke Energi Terbarukan

Presiden Jokowi bersama menteri dan pejabat terkait meresmikan mobile power plant (MPP) di Lombok, NTB (11/6). Foto: Setkab.go.id
Presiden Jokowi bersama menteri dan pejabat terkait meresmikan mobile power plant (MPP) di Lombok, NTB (11/6). Foto: Setkab.go.id
Presiden Jokowi bersama menteri dan pejabat terkait meresmikan mobile power plant (MPP) di Lombok, NTB (11/6). Foto: Setkab.go.id

LOMBOK, MANADONEWS Presiden Joko Widodo (Jokowi) mulai mempertimbangkan konversi ke energi terbarukan untuk mengatasi masalah listrik di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Jokowi usai melakukan peletakan batu pertama pembangunan Mobile Power Plant (MPP) Jeranjang berkapasitas 2×25 mw di Desa Kebunayu, Kecamatan Grrung, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (11/6).

“Ini harus mulai berpikir ke konversi perpindahan energi bersih, energi yang terbarukan. Memang yang masih banyak adalah yang kurang. Seperti di NTB ini masih kurang. Insya Allah bulan Agustus akan rampung mobile power plant. Kemudian ada juga datang yang kapal, juga di NTB September, Oktober,” tutur Presiden.

Bacaan Lainnya

Presiden Jokowi menyampaikan bahwa memang banyak yang masih mobile power plant, kemudian nantinya akan dilihat lagi yang hydro power plant dan PLTU yang besar-besar.

Baca Juga:  Jokowi: Jangan Sampai Kotor!

Lebih lanjut Presiden Jokowi mengatakan kepada wartawan “ini saya ke lapangan ingin melihat langsung progres perkembangan setiap proyek pembangunan yang telah kita putuskan.”

Proses ekspansi, menurut Presiden, harus melihat perkembangan setiap tahun apakah itu akan ada pertumbuhan, ada permintaan sehingga yang sudah cukup ini tetap dihitung lagi.

“Kalau nanti sudah jalan, kita ingin melihat provinsi-provinsi yang kurang itulah yang kita tambahi terlebih dahulu, yang kurang dikejar untuk ditambah biar tidak ada biarpet. Kalau sudah cukup, itu yang akan kita perluas lagi,” ujar Presiden.

Mengenai penyelesaian proyek yang berhenti, Presiden menyampaikan bahwa nanti akan dibahas dalam rapat terbatas setelah sebelumnya dicek lagi oleh BPKP.

Menutup wawancara dengan wartawan, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa mengejar kecepatan itu yang MPP, 6-7 bulan rampung meski dalam jangka panjang mesti kita lihat cost-nya, mana yang murah, masih batubara. “Tetapi ke depan karena kita punya potensi air, sungai, hydro juga sebentar lagi akan kita tunjukkan dimana nanti yang hydro,” pungkas Jokowi.

Baca Juga:  Raih Dekranas Award 2017. Rita Tamuntuan : Kerajinan Sulut Tidak Kalah Dengan Kerajinan Dari Provinsi Lain

[Setkab]

Pos terkait